
"Hati-hati, nyonya muda. Pelan-pelan saja, nanti terkena cipratan kuah panasnya."
Aisyah hanya mengangguk dan mengikuti sesuai anjuran bibi Lala. Ia pun memasukkan wortel dan kentang secara perlahan.
Gadis yang sudah berubah menjadi seorang wanita sesungguhnya itu sedang belajar membuat sup ayam dan sambal buat sang suami.
Semenjak malam itu, Aisyah benar-benar belajar menjadi istri yang baik. Belajar memasak walau selalu saja akan ada yang terluka.
Belajar mencuci piring walau masih licin dan terkadang ada saja yang pecah.
Belajar menyediakan pakaian ganti untuk Malvyn walau pilihan nya bertolak belakang dengan kesukaan Malvyn karena perbedaan usia membuat selera fashion mereka juga berbeda.
Menyediakan air hangat untuk mandi Malvyn walau pada akhirnya akan ada adegan panas di dalam kamar mandi karena pria itu selalu mengatakan sesuatu yang tak dapat di tolak.
"Kita lakukan ini juga ritual sebelum mandi."
Kalimat itu selalu terlontar dari bibir Malvyn setiap kali Aisyah menyediakan air hangat untuk mandi suaminya itu.
Malvyn sendiri awalnya sangat melarang keras Aisyah menyentuh alat dapur atau pekerjaan rumah tangga lain nya.
Bukan karena takut akan menjadi kacau lagi seperti dahulu. Tetapi, Malvyn tidak akan sanggup melihat Aisyah terluka karena baginya, yang terpenting adalah istrinya itu selalu bersedia melayani nya. Jika tidak bersedia, maka akan mencari berbagai cara agar tetap bersedia.
Selesai memasak, Aisyah langsung segera masuk ke kamar melihat sang suami sudah tampak rapi.
Ia pun segera naik ke atas kursi riasnya dan Malvyn segera mendekat ke arahnya. Perlahan tapi pasti Aisyah memasangkan dasi di kerah kemeja suaminya itu.
Sesekali Malvyn menggoda dengan mengecup bibir Aisyah karena dirinya begitu bahagia dengan kehidupan nya sekarang.
Sebelum menikah, Malvyn sering sekali sepulang bekerja akan pergi ke sebuah club' malam bersama Mario ataupun bertemu Jesica hanya untuk melepas penat.
Tetapi sekarang?
Malvyn lebih sering pulang lebih cepat untuk bertemu dengan istri kecilnya.
"Sudah rapi belum, sih?" pertanyaan ini selalu terucap pertama kali setelah selesai memakaikan dasi.
Malvyn menunduk melihat dasi yang sudah terpasang kemudian menatap dirinya ke cermin. "Jauh lebih rapi," ucapnya jujur kemudian mengecup pipi Aisyah, "Makasih sayang."
Aisyah tersenyum lebar disertai anggukan.l dan membiarkan dirinya di gendong dan diturunkan dari kursi itu.
Setelahnya mereka sarapan bersama.
"Enak. Kali ini apa yang luka?" tanya Malvyn setiap kali mencicipi masakan Aisyah.
Aisyah mencebik sebal mendengar pertanyaan Malvyn. "Hanya kecipratan kuah saja tadi. Aku yang kurang hati-hati," jawabnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Malvyn dibuat khawatir. "Mana yang kena, sayang?"
"Ini," kata Aisyah dengan suara manja menunjukkan punggung tangan yang tampak memerah akibat cipratan kuah sup ayam.
Malvyn melihat dan meniup lembut punggung tangan Aisyah yang memerah itu. Rasanya tak rela bila istrinya terluka sekecil apapun.
"Jangan masak lagi, ya? biar aku atau bi Lala yang masak. Aku gak mau kamu terluka lagi," tutur Malvyn tulus dan itu berhasil membuat hati Aisyah menghangat.
"Aku nggak apa-apa, kok. Tenang saja," Aisyah menenangkan.
Keduanya sarapan dengan khidmat walau sesekali Malvyn tetap membujuk untuk tidak lagi menyentuh pekerjaan rumah. Tetapi Aisyah menolak walau ada beberapa yang memang harus dihentikan.
"Aku pergi dulu," pamit Malvyn memeluk kemudian mengecup bibir dan dahi Aisyah.
Aisyah hanya mengangguk saja. Sepertinya gadis itu mulai merasa mengganjal dengan hubungan mereka yang tersembunyi sudah selama ini.
Ia juga mulai berpikir untuk menunda kehamilan. Sudah satu bula semenjak mereka melakukan hubungan suami-istri dan tiga hari lalu baru saja selesai datang bulan.
Aisyah meninggalkan apartemen setelah bersiap hendak ke kampus. Sebelum benar-benar pergi, ia mampir ke apotek untuk mencari obat yang dibutuhkan nya.
Setelah itu menunggu di lobby karena John dan Johan sedang diperjalanan hendak menjemputnya.
"Anda dari mana, Nyonya muda?" tanya John mengagetkan Aisyah.
"Be-beli obat sakit kepala. Ya... obat sakit kepala," jawab Aisyah berharap tidak menimbulkan curiga.
John dan Johan tampak saling diam kemudian mempersilahkan Aisyah jalan lebih dahulu dan masuk ke dalam mobil setelahnya.
Setelah sampai Kampus, Aisyah langsung masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran dengan baik seperti biasanya.
*
*
"Ayolah, Ais. Bulan lalu kamu sudah batalin tiba-tiba. Masa sekarang kamu juga gak bisa? ini hari ulang tahun Gio, loh."
Mata Aisyah melebar ketika mendemgar ucapan Meta. Dirinya bulan lalu memang benar membatalkan janji mereka.
Aisyah mengingat jika Malvyn mengirim pesan pulang terlambat hari ini. "Baiklah."
Meta dan Gio tersenyum senang. Apalagi Gionyang sangat menginginkan Aisyah dapat bersama mereka hari ini.
"Makasih,Ais!" kata Gio kemudian Aisyah masuk dalam mobi nya.
Aisyah sendiri meminta John dan Johan untuk pulang sebih dahulu dan ia juga berjanji untuk tidak membuat ulah lagi dan pulang tepat waktu. Kali ini kedua pengawal itu percaya karena Aisyah telah berubah selama ini menjadi lebih baik.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya Gio perhatian.
"Belum. Kamu Ta?" tanya Aisyah.
"Belum."
Gio tersenyum melihat kedua gadis itu. Ia dan Meta terlahir dari keluarga yang sangat sibuk mencari uang. Makanya Gio hanya dengan Meta jika merayakan perayaan seperti ini.
Ketiganya memasuki sebuah Mall. Aisyah juga membelikan kue ulang tahun dan setelahnya mereka menuju salah satu Restoran.
"Gimana tadi belajarnya? gak sulitkan?" tanya Gio yang memang sering bertanya seperti itu kepada Aisyah.
"Nggak kok. Aku juga sudah pelajari setiap bab selanjutnya. Jadi saat ditanya, sudah mengerti."
Gio tersenyum seraya mengacak rambut Aisyah. "Semangat kalau belajar, ya."
"Aku mau ke toilet dulu, ya. Panggilan alam," tutur Aisyah memang sedari tadi menahan nya.
Tetapi, karena sedang terburu-buru Aisyah tidak memerhatikan jika di depan nya ada orang lain.
BRUK
"Kalau jalan pakai mata, dong?!!" bentak seorang wanita membuat Aisyah memejamkan mata sejenak karena terkejut oleh bentakan itu.
"Maaf, kak!" serunya menegakkan badan.
Tubuhnya terpaku manakala tatapan nya bertemu dengan seseorang bersama wanita yang ditabraknya tanpa sengaja.
"Maaf-maaf.," decak wanita itu. "Honey.. Kenapa kamu diam saja? bahu ku sakit," cicit wanita yang tak lain adalah Jesica dan pria yang bersama wanita itu adalah Malvyn.
Aisyah mendengar dengan sangat jelas panggilan Jesica kepada Malvyn adalah panggilan untuk orang yang spesial.
Ia menggigit bibir bawah bagian dalam dengan mata yang sudah memanas. Ada rasa perih di hati tapi masih berharap jika Malvyn menampik ucapan wanita itu.
"Honey.. Kenapa kamu diam saja?" tanya Jesica menatap Malvyn dan Aisyah bergantian dan kesal saat tahu keduanya saling bertatapan.
"Apa kamu mengenalnya, honey?"
Malvyn tersentak lalu menoleh ke arah Jesica disertai gelengan. "Nggak," ia menarik tangan Jesica lalu duduk di salah satu meja yang berjarak tak jauh dari meja Aisyah berada.
Sementara Aisyah sedang berusaha keras untuk tetap terlihat baik-baik saja. Ia terperanjat ketika sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Gio membuat Aisyah memaksakan senyum.
"Aku nggak apa-apa, kak." Aisyah kembali duduk, mengurungkan niat hendak ke kamar mandi. Hati aku yang sakit.
__ADS_1