
"Aku gak mau, om. Aku harus bekerja untuk biayai hidupku dan anak ku sendiri," tegas Aisyah berulang kali. Ia tak ingin hidupnya bergantung lagi kepada seseorang.
Jerolin menghela nafas panjang. Sebenarnya sudah menduga bila Aisyah akan menolak tawaran nya. Tapi, dorongan hati ingin melindungi dan membahagiakan ibu hamil ini membuatnya berani mengungkapkan tawaran ini pada sang pujaan hati.
"Gimana dengan tawaran kedua ku, Ais? Aku tahu kalau kamu masih menginginkan nya bukan?" tanya Jerolin lagi menawarkan permintaan yang kedua.
Aisyah diam saja seraya menelan saliva dengan kasar. Tentu saja tawaran kedua dari Jerolin sangat diinginkan nya. Terlebih, itu adalah permintaan papi Askar agar melanjutkan pendidikan nya meski sudah menikah.
"Anggap saja kamu melanjutkan pendidikan itu bekerja dengan ku. Aku akan membayar gaji persis kamu kerja di Kafe. Gimana?" tanya Jerolin lagi agar Aisyah ingin melanjutkan pendidikan. Bukan bermaksud tidak baik, ia hanya ingin melihat Aisyah menjadi wanita kuat dan mandiri.
Aisyah berpikir sejenak atas tawaran Jerolin. Ingin sekali dirinya melanjutkan pendidikan. Tapi, bagaimana jika pria ini meminta imbalan?
"Apa om lakukan ini akan meminta imbalan? apa om akan meminta bayi ku sebagai jaminan?" tanya Aisyah memeluk perut nya merasa takut jika apa yang baru saja ditanyakan nya adalah sebuah kebenaran.
Jerolin tercengang mendengar pertanyaan Aisyah. Baru diketahuinya bila ibu hamil ini memiliki trauma sehingga berpikir ke arah sana. Bisa saja ia menjawab 'iya', asal dengan ibu nya juga.
Bolehkah?
Jerolin menggeleng tegas. Mana mungkin dirinya setega itu kepada Aisyah yang sudah sangat menderita atas apa yang di alami. "Iya. Sama kamu juga," kelakar nya jujur dibumbui dengan tawa agar Aisyah tak merasa takut dengan nya.
Jantung Aisyah hampir saja copot mendengar jawaban Jerolin. Tetapi, melihat pria itu tertawa membuat hatinya lega.
"Disini identitas ku bukan Aisyah Hadirah Nazifa. Tapi Ais Mahardika," kata Aisyah pelan. Selama dirinya menetap di Manchester, ia menggunakan nama belakang Johan.
Jerolin paham sekarang. Pantas saja ia tak menemukan identitas Aisyah karena kedua pengawal ibu hamil itu telah mengubah identitas menjadi nama lain. Bodohnya ia tak tahu nama belakang kedua pengawal itu.
"Enggak apa-apa. Kamu bisa tetap pakai identitas baru mu. Aku ingin kamu menjadi wanita kuat dan mandiri. Kamu harus bekali ilmu agar anak kamu juga menjadi anak yang pintar," terang Jerolin membangun semangat pada Aisyah agar setuju dengan tawaran melanjutkan pendidikan.
Dengan ragu Aisyah memberanikan diri mengangguk lemah. Benar yang dikatakan Jerolin, ia harus menjadi wanita kuat dan mandiri untuk anak nya. Ia harus memiliki pekerjaan yang bisa menjamin kehidupan masa depan bagi anak nya kelak. Ia harus memiliki penghasilan sendiri meski memiliki jodoh lagi.
Jerolin tersenyum. Ia pun mengambil ponsel nya menghubungi seseorang untuk mengurus keperluan Aisyah agar secepatnya melanjutkan pendidikan.
"Jangan terburu-buru, om."
__ADS_1
Jerolin menggeleng. "Bisa lebih cepat mengapa harus menunda, Ais."
Aisyah hanya dapat pasrah. Seharian mereka berada di Apartemen guna menunggu pesanan Jerolin.
Mata Aisyah terbelalak melihat Universitas yang dipilih Jerolin bukan lah Universitas abal-abal. "Om. Ini terlalu berlebihan, jangan disini." Tolaknya, tentu saja menolak karena tak ingin berkuliah di tempat yang sangat bagus menurutnya.
"Jangan pikirkan itu, Ais. Kamu hanya perlu belajar dan menjaga kesehatan bagi kalian berdua saja."
Lagi-lagi Aisyah menghela nafas. Ia menatap Jerolin dengan tatapan tajam karena merasa kesal tak terhingga.
"Demi masa depan anak kamu," terang Jerolin menggunakan senjata ampuh untuk meluluhkan Aisyah.
"Pemaksa," rutuk Aisyah membuat Jerolin tertawa.
****
Johan menunggu Jesica di dalam mobil hitam miliknya. Bukan untuk jalan bersama melainkan untuk membalaskan penderitaan yang dialami Aisyah, penderitaan yang bagi seorang Aisyah sangatlah parah.
Seringai di wajah terukir ketika melihat Jesica keluar dari lift dan berjalan menuju ke salah satu mobil yang terparkir di basement. Wanita itu tak ada lagi yang melindungi karena Jerolin tengah menjaga Aisyah di sana.
Ya, Johan tahu bila Jerolin sedang bersama Aisyah. Awalnya ia marah dan akan menjemput Aisyah kembali kesini. Namun, pria kejam itu akhirnya meminta ampun dan akan menjaga Aisyah selama disana.
Johan menginjak pedal gas melaju mendekati Jesica.
Jesica terlonjak kaget langsung melihat siapa yang menghentikan mobil sembarang tempat. Ketika hendak mengomel, matanya melebar melihat seseorang memakai penutup wajah.
"si-siapa kamu?" tanya Jesica tergagap merasa takut.
Johan tak menanggapi, ia menangkap Jesica tetapi pemberontakan terjadi hingga akhirnya pria itu memukul tepi leher Jesica hingg membuat pingsan.
Johan langsung membawa Jesica menuju ke suatu tempat dimana tak ada orang lain yang tahu. "Merepotkan saja," gerutunya.
Dua jam kemudian, Jesica terbangun dan melihat sekeliling tampak asing. "Sial. Siapa yang berani mengikat tangan ku?" pekik nya ketika merasakan tangan nya terikat ke atas.
__ADS_1
"Aku," kata Johan dingin duduk di sofa.
Johan membawa Jesica ke sebuah rumah kumuh di pinggiran kota. Sesuai rencana Johan dan John sebelumnya, mereka ingin bermain-main lebih dulu.
Johan membuka jaket dan celana. Menyisakan celana boxer saja.
Jesica yang melihat itu menjadi ketakutan. "Kamu mau apa? apa kamu lupa kalau aku ibu dari anak bos kalian?" tanya nya gemetar takut.
Johan tertawa lepas seraya merangkak naik ke atas tempat tidur tua terbuat dari bahan kayu. Ia mengukung Jesica yang terus meronta agar ikatan tangan terlepas.
Satu tangan Johan membelai pipi Jesica tetapi wanita itu memalingkan wajah. "Jangan menolak. Bukankah dengan cara begini kamu membuat hidup orang lain menderita?" tanya Johan terdengar menyeramkan di telinga Jesica.
"Lepaskan aku atau kamu akan tahu akibatnya," sentak Jesica justru membuat Johan tertawa.
"Balasan apa yang bisa kamu lakukan jika aku akan melenyapkan senjatamu itu," tangan Johan mengelus perut rata Jesica kemudian menjalar ke inti tubuh wanita itu.
Jesica menahan nafas merasakan sentuhan dari Johan. Sudah sangat lama dirinya tak melakukan itu semenjak menjebak Malvyn hingga membuatnya hamil.
"Lepas," cicit Jesica membuat Johan menegakkan tubuh bertumpu pada kedua lutut.
"Sepertinya kamu sudah tak sabar," kata Johan kemudian merobek pakaian yang di pakai Jesica meski terus merontah menolak atas perlakuan nya.
Tak lupa Johan membuka boxer dan benda segitiga pelindung pusaka nya.
Tanpa pemanasan, Johan memasukkan pusaka nya ke dalam lubang kenikmatan milik Jesika.
"Argh.. Bedebah kau, Johan!!!" pekik Jesica merasakan sakit di bagian inti nya karena Johan memulai tanpa pemanasan.
Tatapan kedua nya bertemu. Seringai tajam terukir di wajah Johan dengan hentakan semakin keras.
"Aku akan membunuh anak dalam kandungan mu, Jesica. Inilah balasan ku karena kamu sudah membuat Aisyah menderita."
"Sa-sakit."
__ADS_1