Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 127


__ADS_3

"Kita caesar saja ya, Ais." Jerolin sedari tadi mencoba membujuk Aisyah agar melahirkan secara Caesar. Sebab, ia tidak tahan dan tak tega melihat kekasih hati nya menahan sakit seperti saat ini.


Jerolin tidak mempermasalahkan kedua lengan, rambut, bahkan bahu menjadi korban sebagai pelampiasan Aisyah menahan sakit akibat calon bayi mencari jalan keluar. Namun, yang dicari belum pembukaan sempurna.


Aisyah menatap Jerolin disertai gelengan. Rasa sakit melanda tak mampu membuatnya bicara. Keringan besar-besar seperti biji jagung terus ada dan Jerolin setia mengusap. Ia memeluk Jerolin kembali lalu menggerakkan tubuh ke kanan dan ke kiri seirama gerakan Jerolin.


Pelukan tersebut terurai, tatapan keduanya bertemu membuat Jerolin bertanya-tanya. "Ada apa, Ais?" tanyanya lembut.


"Om. Aku pengen bakso kuah sop, deh. Aku laper," ucap nya seperti sudah sehat sedia kala. Padahal beberapa saat lalu menahan tangis dan rintihan agar tidak terlihat sedang kesakitan.


"Bakso Indonesia ya," pinta Aisyah kepada Jerolin dengan wajah memohon.


"Bakso yang dibuat sendiri? Apa gak terlalu lama menunggu, sayang?" tanya Jerolin sedikit ketar-ketir atas permintaan Aisyah.


Mata Aisyah berkaca-kaca mendengar pertanyaan Jerolin. Entah penga dirinya menginginkan makanan tersebut.


"Baiklah. Sebentar aku telepon Nick lebih dulu," katanya kemudian merogoh ponsel berada di saku kemudian menghubungi Nick agar segera membuat keinginan Aisyah.


Aisyah tersenyum kemudian menuruti Jerolin duduk lebih dulu. Ia menerima air mineral dari pria itu. Menunduk kepala melihat pria itu mengelus dan berbicara di hadapan perutnya yang sudah sangat buncit.


"Hai, boy. Sabar, ya. Bakso nya masih di buat. Jangan keluar dulu, oke! Gak mungkinkan kamu makan bakso setelah keluar dari perut Mommy." Kata Jerolin kemudian keduanya tergelak.


Aisyah sendiri sudah tidak lagi melarang Jerolin untuk bebas berbicara kepada calon anaknya. Sebab, pada akhirnya calon anaknya akan melihat Jerolin bukan Malvyn.


"Kamu kebiasaan. Suka banget bercandain dia."


Jerolin menegakkan tubuh disertai menatap Aisyah. "Biarkan saja. Seenggak nya sebelum dirinya menemukan jati dirinya sendiri, ia akan mengenal suara-suara disekitar."

__ADS_1


"Tentu saja kamu yang lebih dulu di kenal setelah aku, om!" Ucapan Aisyah tak mungkin meleset. Sebab, hanya mereka saja sering mengajak anak nya mengobrol.


Jerolin hanya tersenyum. Jika boleh jujur, ia sangat takut bila suatu saat Malvyn mengetahui Aisyah hamil dan melahirkan anak bagi pria itu. Takut bila pada akhirnya, Aisyah akan kembali pada ayah kandung anak itu dan meninggalkan dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian, permintaan Aisyah telah selesai dibuat dan bisa dinikmati. Perut sedari tadi mulas-mulas berasa tidak tenang lagi. Ia mengambil dan menuang saos ke dalam mangkuk sudah berisi bakso itu. Ia makan dengan lahap.


Jerolin tersenyum melihat Aisyah seperti ini. Tidak hanya sekali ini meminta sesuatu padanya dan ia tidak merasa terbebani, justru merasa sangat senang. Ah, andai yang dikandung Aisyah adalah benih nya. Pasti akan lebih membahagiakan, pikirnya.


****


Malvyn menatap langit-langit Ruang Perawatan Rumah Sakit. Keringat sedari mengucur deras di tambah sakit perut teramat sakit tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Pihak Dokter dan keluarga nya tidak tahu harus berbuat apa, sebab hasil pemeriksaan Malvyn tidak mengidap suatu penyakit apapun alias sehat.


Opa Qenan, Oma Nadira, Papi Edzard, dan Mami Ivy setia menunggu disana. Mereka terlihat khawatir. Sebab semenjak berpisah dengan Aisyah, Malvyn tak pernah seceria dahulu. Hidup nya bagai seperti patung hidup.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya mami Ivy mendekati brankar.


Jawaban Malvyn justru dirasa kebalikan menurut keluarga nya.


Benar.


Malvyn teringat Aisyah sedang menangis pilu karena perbuatan nya dahulu. Hatinya semakin hancur mengingat betapa kejam dirinya menyia-nyiakan istri sebaik Aisyah hanya demi mempertahankan janin yang belum tentu akan hidup atau tidak.


Mata nya kembali berkaca-kaca merasakan rindu tak dapat tertahan lagi.


****


"Tarik nafas dalam-dalam lalu ejan, nyonya." Kata Dokter itu lagi kepada Aisyah.

__ADS_1


Aisyah melakukan sesuai arahan sang Dokter dan mengejan sekuat tenaga. Tadi, setelah menghabiskan semangkuk bakso Aisyah langsung merasakan mulas di perut begitu luar biasa. Air ketuban sebelumnya tidak keluar, mendadak pecah.


Kekhawatiran Jerolin tampak sangat jelas. Apalagi melihat Aisyah berusaha sekuat tenaga mengejan membuatnya tak dapat menahan tangis. Memang, anak dilahirkan Aisyah bukanlah darah daging nya. Namun, dirinyalah yang merawat sejak hamil muda hingga sekarang.


Oeek.. Oeeekk..


Terdengar suara tangis bayi masih berlumur darah. Jerolin menatap haru lalu menatap Aisyah dengan bangga.


"Kamu hebat, Ais. Selamat telah menjadi seorang ibu," kata Jerolin memberanikan mengecup kening Aisyah.


Aisyah hanya mengangguk tanpa berkata-kata. Sebab, tenaganya terkuras.


Dokter menyerahkan bayi itu kepada Aisyah dan di taru pada dada Aisyah yang polos hanya tertutup seragam pasien. Ia menatap wajah mungil tersebut yang sedang mencari sumber kehidupan.


Rambut cokelat, hidung mancung, dan bola mata cokelat. Persis seperti Malvyn.


Dia mirip kamu, Vyn.


Aisyah menengadah menatap Jerolin dengan senyuman. "Papi.. Siapa nama anak ini?" tanya nya membuat Jerolin terkejut. Sebab, merasa bukanlah ranah nya.


"Kenapa tanya aku, Ais?"


"Ya. Aku mau kamu yang memberi anak ku."


Cukup lama Jerolin terdiam. "Dominic Jovano."


Aisyah kembali tersenyum mendengarnya. "Artinya apa?"

__ADS_1


"Pemimpin yang jujur."


__ADS_2