
"Kerja kalian ngapain sampai istri saya di rudung seperti itu?" tanya Malvyn dingin kepada John dan Johan di ruang kerjanya.
"Maafkan kami, tuan muda. Nyonya muda meminta membelikan cemilan cukup banyak karena rencana beliau ingin membagikan cemilan itu kepada anak jalanan jadi Johan diperintahkan nyonya muda untuk membantu saya," John masih menunduk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
John dan Johan tampak menunduk ketakutan. Awalnya Johan tidak ingin meninggalkan Aisyah sendiri. Namun, seperti yang dikatakan John bahwa Johan pergi membantunya atas perintah Aisyah.
Malvyn diam tanpa menanggapi, jemarinya memijat pelipisnya karena begitu pusing atas masalah yang dihadapi. Ingin rasanya segera menyelesaikan masalah ini. Namun, baik Jesica maupun Jerolin hingga sampai detik ini tidak dapat mereka temukan.
"Pergilah. Urus izin istri saya di Kampus dan alih kan untuk kuliah online saja," kata Malvyn bergumam tanpa menatap kedua pengawal istrinya.
John dan Johan tersenyum lega mendengar perintah dari Malvyn. Hal itu karena mereka sangat khawatir kepada nyonya muda mereka.
__ADS_1
Ketika kedua pengawal itu sudah menunduk hormat dan hendak pergi meninggalkan ruang kerja Malvyn, langkah keduanya terhenti ketika mendengar perintah yang sangat menyenangkan bagi keduanya.
"Urus mereka yang merudung istri saya, sepuas kalian!" titah Malvyn dingin. Namun, bagi kedua pengawal istrinya seperti mendapat bongkahan emas yang tak ternilai harganya.
Baik John dan Johan sudah membayangkan apa saja yang akan mereka perbuat pada para gadis perudung Aisyah. Mereka berencana akan membalaskan rasa sakit Aisyah lebih dahulu, setelahnya baru menikmati mereka sesuka hati.
Usai kepergian John dan Johan, Adrian masuk ke dalam ruang kerja Malvyn. Pria itu menatap Malvyn dengan tatapan heran karena saat melihat kedua pengawal istri sahabatnya itu tampak bersorak gembira setelah keluar dari ruangan ini. Tetapi lihatlah sekarang, sahabatnya sedang menunduk memijat dahinya sendiri seperti sedang sedih dan tentu ia tahu penyebabnya.
Malvyn langsung menghentikan pijatan nya lalu menatap Adrian sekilas kemudian membenarkan posisi duduk menjadi tegak kembali. "Aku hanya memberi mereka tuga untuk memberi hukuman pelaku perudungan istriku, itu saja."
Adrian berdecak mendengar jawaban Malvyn dan mulai mengerti mengapa kedua pengawal Aisyah itu bersorak gembira. "Kenapa aku nggak di ajak, sih!" katanya sewot tetapi mendapat tatapan tajam dari Malvyn. Dan itu sudah berhasil membuatnya bungkam seketika.
__ADS_1
"Tetap pertahankan predikatmu sebagai jomblo ngenes dari pada seperti Mario. Lihat!! bahkan dia memilih mengejar adik ku setelah mencampakkan nya," mungkin karena masih terbawa emosi membuat Mario menjadi imbas dari kemarahan Malvyn.
Adrian menggeleng pelan melihat Malvyn tampak kembali emosi. Ia pun segera mengambil laporan hasil kesehatan Aisyah yang ia periksa Minggu lalu.
"Aisyah butuh refreshing, Vyn. Bawalah istrimu berlibur, tenangkan pikiran nya, dan jauhkan dari masalah ini lebih dahulu. Aisyah masih sangat muda dan belum lama mengalami keguguran. Pasti dia sangat kepikiran dengan semua ini," tutur Adrian tulus.
Bahkan Adrian merasa begitu iba dengan Aisyah yang masih sangat muda sudah menikah dan mengalami ujian cinta yang begitu sulit.
Malvyn mengangguk mengerti kemudian bangkit keluar dari ruang kerja nya meninggal kan Adrian sendirian.
Malvyn dengan langkah lebar segera memasuki kamarnya. "Sayang....,"panggil nya.
__ADS_1