
Malvyn mengusap wajah nya dengan kasar setelah mendengar penjelasan penyebab Jesica keguguran dari seorang Dokter. Tangan nya terkepal dengan rahang yang mengeras memikirkan kebiasaan wanita itu tak kunjung berubah.
Ia memandangi wajah pucat Jesica yang masih memejamkan mata. Tidak ada rasa iba sedikitpun selain amarah yang membuncah.
Tak terasa sudah satu jam lebih menunggu wanita itu sadar dan akhirnya sadar juga. Tatapan kedua nya bertemu, Malvyn menatapnya dengan tatapan dingin sementara Jesica menjadi menangis.
"Vyn. Anak kita," cicitnya dengan suara tertahan.
"Katakan. Dengan siapa kamu bercinta sampai anak ku tiada?" tanya Malvyn dingin membuat Jesica semakin takut. Apalagi mengingat bagaimana kejam nya Johan kepadanya.
"A-aku di perkosa, Vyn. Dia sengaja melakukan ini padaku karena gak terima kalau aku hamil anak kamu. Dia balas dendam padaku melalui anak kita," Jesica menangis histeris seraya menahan perih dibagian intinya.
"Siapa dia?" tanya Malvyn dingin.
"Salah satu pengawal Aisyah. Dia menculik dan memperkosa aku, Vyn. Dia membunuh anak kita," jawab Jesica ketakutan membayangkan yang telah terjadi kepadanya beberapa saat lalu.
Malvyn menoleh ke arah Jesica setelah mendengar jawaban tersebut.
"Aku bersumpah, Vyn. Aku berkata jujur," seakan mengerti tatapan Malvyn yang tak percaya atas jawaban sebelumnya.
Malvyn masih diam saja. Langkahnya mengayun mendekati jendela ruang perawatan itu, menatap langit hitam dipenuhi bintang-bintang berkelipan. Matanya terpejam membayangkan wajah Aisyah.
Dalam benaknya, timbul pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan kejadian menimpa Jesica hingga kehilangan anak nya.
Benarkah pengawal Aisyah melakukan ini?
Benarkah pengawal itu melakukan atas kehendak mereka sendiri?
__ADS_1
Atau atas perintah Aisyah?
Jika benar, mengapa Aisyah setega itu membalas melalui anak nya yang tak bersalah?
Mengapa tidak membalas dendam kepada nya saja?
Tanpa mengatakan apapu, Malvyn keluar dari ruang perawatan Jesica. tetap abai meski wanita itu terus memekik menyebut namanya.
Malvyn masuk ke dalam mobil setelah sampai di Parkir mobil Rumah Sakit. Melaju kencang menuju Apartemen pengawal Aisyah itu. Dalam hatinya, terbersit harapan Aisyah berada disana.
Beberapa saat kemudian mobil Malvyn sudah berada di basement, masuk ke dalam lift yang membawanya ke lobby Apartemen, beruntung kedua pengawal itu tidak tinggal di kawasan yang sama sehingga tidak memiliki peraturan yang sangat ketat seperti Apartemen miliknya.
Lantai 7 nomor 11.
Malvyn ingat tempat inilah yang pernah dikunjungi dirinya untuk mempekerjakan kedua pengawal itu menjadi pengawal Aisyah.
Pintu terbuka dan tatapan Malvyn bertemu dengan tatapan John. Dilihat dari tatapan pengawal itu tak sedikitpun segan ataupun takut atas kehadiran nya. Ia masuk setelah John memberi jalan tanpa mengatakan apapun.
"Sudah, dulu. Paman harus bekerja," ucap Johan menatap layar ponsel nya di atas meja.
"Oke, Paman. Jangan lagi khawatirin Ais. Om itu baik."
Malvyn mendengar suara Aisyah segera mendekati Johan karena ingin berbicara dengan pujaan hatinya. Namun, ketika sudah berdiri di sebelah Johan, panggilan video itu telah mati.
Johan mendongak menatap wajah Malvyn datar. Ia pun berdiri, "Ada perlu apa anda datang kesini?"
Kedua tatapan mereka bertemu. "Dimana Ais?"
__ADS_1
Satu alis Johan terangkat mendengar pertanyaan dari Malvyn. "Ais bukan lagi tanggung jawab Anda," sahutnya.
"Apa karena baru saja mendengar suara Ais, anda bertanya begitu? sementara selama ini tidak ada sedikit pun anda berusaha mencari," terang John yang sedari tadi diam saja.
Malvyn diam karena mendapat pertanyaan dan pernyataan seperti itu dari John dan Johan. Benar. Selama ini dirinya tak pernah melibatkan seorang pun untuk mencari Aisyah.
"Apa yang membawa anda datang kesini?" tanya Johan lagi menahan amarah yang selama ini di pendamnya.
Malvyn teringat tujuan awal datang kesini. "Apa yang kamu lakukan pada Jesica?"
Johan tersenyum miring mendengar pertanyaan Malvyn. Ia pun duduk kembali dengan merentangkan kedua tangan di sandaran sofa juga kedua kaki saling bertumpu. "Ternyata wanita jaalang mu mengadu," tekan nya kemudian tertawa jahat.
"Aku hanya memberi sedikit pelajaran dengan nya. Hanya sedikit, itu belum seberapa dari penderitaan yang diterima Ais hanya karena menjadi istri pria pengecut seperti anda."
"Kau!!"
Malvyn hendak mendekati Johan memberi pelajaran. Namun, gerakan nya kalah cepat dengan John yang sudah menodongkan senjata api di kepala bagian belakang nya.
"Berhentilah menjadi pria pengecut dan egois sepertimu. Hukuman itu belum seberapa dibandingkan semua penderitaan yang diterima dari kekejaman wanita jaalang mu. Kau ingin memberi pelajaran pada ku hanya karena aku membunuh janin yang belum tentu keturunan mu. Bagaimana dengan Ais? sudah sangat jelas wanita jalaang mu membunuh nya, orang tua Ais juga dibunuh. Sebenarnya, siapa yang kau cinta? Wanita Jalaang mu atau Aisyah?"
❤️
Maaf semalam gak up ya.. Emak ada masalah serius, jadi keadaan hati gak sinkron.
oh iya, karena bulan ini up emak gak mencapai target, emak mau buat tamat dulu Sampek tgl 2 yang tapi besok tetap up walau sudah tamat. Emak takut level turun
__ADS_1