
"Badan saja yang besar, tapi makan saja tidak bisa ambil sendiri!" sindir papi Askar merasa kesal melihat Aisyah mengambilkan makan untuk Malvyn.
Mami Adzilla memberi cubitan halus di pinggang papi Askar, sementara Malvyn melirik kesal dan Aisyah mengerutkan dahi.
"Papi enggak boleh begitu. Setelah menikah justru Ais yang sering di ambilin makan bahkan dimasakin sama suami Ais," bela Aisyah menatap papi Askar.
Ketepatan papi Askar dan Malvyn saling melirik satu sama lain. Bila lirikan papi Askar terlihat kesal, berbeda dengan Malvyn tersenyum kemenangan.
"Kalau begitu menu sarapan besok, suami kamu yang masak," celetuk papi Askar ingin memberi pelajaran kepada menantunya.
"Oke!" sahut Malvyn tetapi membuat mami Adzilla merasa tidak enak hati.
"Jangan, nak Malvyn. Biar mami dan Sania saja yang masak besok pagi," kata mami Adzilla.
Malvyn menghentikan kunyahan nya menatap mami Adzilla. "Enggak perlu repot-repot, mi. Saya sudah biasa memasak sebelum menikahi Ais," ungkapnya menolak secara halus apalagi nama kakak iparnya disebut oleh ibu mertuanya.
Sesuai apa yang dikatakan, keesokan hari Malvyn dan Aisyah sudah bangun pagi-pagi sekali karena harus pergi ke Pasar lebih dahulu.
"Hampir terang, Vyn. Kamu sih minta jatah segala," sungut Aisyah kesal sembari menaikkan resleting jaket yang dikenakan nya lalu memberikan jaket bahan kulit dan langsung dikenakan oleh Malvyn.
Malvyn berjalan cepat seraya mengenakan jaket bahan kulit pemberian dari Aisyah. Ia tidak menyela omelan Aisyah sedari tadi karena mengakui kesalahan nya.
Karena pada kenyataannya, walau setelah selesai Aisyah akan mengomel tidak membuat istrinya itu menolak setiap ajakan nya.
Malvyn melakukan itu selain nikmat juga ada tujuan lain yakni berharap Aisyah segera mengandung anak nya. Bukan berarti menunduk sang istri agar segera hamil, tetapi rasanya sudah tak sabar melihat dan merawat anak-anak nya bersama Aisyah.
"Ngapain masuk mobil? sini!!" tanya Aisyah sembari memberi isyarat melalui tangan nya agar Malvyn mendekat ke arahnya yang berdiri di samping sepeda motor matic.
Malvyn mengerutkan dahi tetapi tetap menurut mendekati Aisyah. Dengan wajah polosnya, ia menerima kunci sepeda motor tersebut.
"Vyn.. Kamu yang bonceng," kata Aisyah membuat Malvyn menelan saliva.
Sudah sangat lama ia tidak mengendarai sepeda motor. Apalagi yang dikendarai nya selama ini adalah sepeda motor sport.
Malvyn menghidupkan sepeda motor matic tersebut perlahan. Beruntung ia pernah membaca langkah-langkah melajukan sepeda motor jenis ini. Tidak lupa keduanya memakai helm.
Ia tersenyum tipis ketika sepeda motor itu melaju dengan lancar dan tetap hati-hati karena tidak ingin Aisyah kenapa-kenapa berada dibelakang nya.
__ADS_1
Padahal Aisyah sudah menahan kesal atas apa yang dilakukan Malvyn saat ini karena melajukan sepeda motor tersebut begitu pelan.
"Ini sudah siang, Vyn. Di percepat," kata Aisyah kesal sekali.
"Sayang. Jalan ini banyak batu dan lubang. Aku enggak mau kamu kenapa-kenapa," ungkap Malvyn jujur adanya. Pria ini secinta itu kepada Aisyah sehingga sangat takut sesuatu terjadi padanya.
Aisyah mencebik kemudian menepuk-nepuk punggung Malvyn. Ia turun kemudian menyuruh Malvyn untuk mundur agar dirinya yang mengambil alih sepeda motor matic tersebut.
"Dasar lamban.. Ninu-ninu saja yang cepat!!" gerutu Aisyah pelan namun tetap di dengar oleh Malvyn.
"Sayang.. Aku hanya enggak mau kamu kenapa-kenapa," bela Malvyn walau tidak ada amarah sama sekali.
"Iya aku tahu.. Tapi lihat kondisi juga," kata Aisyah tak mau kalah lalu melajukan sepeda motor itu dengan kecepatan tinggi.
Tubuh Malvyn langsung menegang tanpa sadar meremas jaket yang dikenakan Aisyah dengan kuat.
Bukan hanya melaju kencang, Aisyah juga selalu menginjak pedal rem ketika di depan mereka terdapat lubang cukup dalam. Jika tidak terlalu dalam, maka akan diterjang begitu saja oleh Aisyah.
"Sayang. Hati-hati dan awas di tilang," pekik Malvyn merasa takut. Sekarang ini ia sudah memeluk tubuh mungil Aisyah.
Malvyn baru menyadari bila sisi lain dari Aisyah adalah berkendara dengan ugal-ugalan.
"Butuh gendongan atau gimana, sayang? kamu menarikku tapi langkah ku jauh lebih lebar," Malvyn tersenyum senang melihat Aisyah cemberut.
Malvyn menghentikan langkah melihat Pasar yang ia kira sama seperti Pasar di ibukota ternyata jauh berbeda. "Sayang. Ini bau, kotor, dan berkuman." Malvyn menahan tangan Aisyah saat hendak menariknya masuk ke dalam.
Dahulu saat bergabung dengan dunia gelap terbiasa hidup di hutan. Namun bukan berarti seperti keadaan Pasar di depan nya.
"Kita beli di supermarket saja," kata Malvyn mulai mual dengan bau yang tercipta di tempat itu.
"Disini enggak ada Supermarket, suamiku. Disini lebih murah. Ayo!" ajak Aisyah.
Mau tak mau Malvyn mengikuti Aisyah. Saat melewati genangan air dan lumpur berwarna hitam, dengan senang hati Malvyn menggendong Aisyah.
Sudah pasti kelakuan dua sejoli ini menjadi pusat perhatian. Apalagi Malvyn seorang bule tampan.
"Berapa ayam sekilo, bang?" tanya Aisyah ramah.
__ADS_1
"27 ribu, dek. Naik semua karena mau tahun baru," sepertinya penjual ayam boiler itu sedang curhat kepada Aisyah.
Padahal mau semahal atau semurah apapun harga pangan tetap saja Aisyah tidak tahu menahu masalah itu.
Ini saja belanja karena diberi daftar oleh mami Adzilla dan di amanah kan untuk tawar menawar dengan pedagang nya.
"20 ribu ya, bang. Aku mau beli 5 kilo," tawar Aisyah membuat Malvyn melebarkan mata.
Malvyn tidak menyangka bila istri nya menawar harga sekilo ayam. Bukan karena uang yang dimilikinya tidak akan habis tujuh turunan melainkan bagaimana tega pembeli menawar begitu kepada penjual.
"Sayang. Enggak boleh tawar menawar begitu. Kasihan mereka, mungkin saja belum balik modal."
Aisyah mencebik mendengar bisikan Malvyn. Menurutnya, suami ya itu tidak tahu saja banyak penjual yang sengaja naik kan harga hanya karena penampilan pembelinya.
"Kalau boleh 20 ribu sekilo, saya bolehin deh istri Abang foto sama suami saya," kelakar Aisyah karena sedari tadi tahu istri dari pedagang ayam boiler itu memerhatikan suaminya.
Lagi-lagi Malvyn dibuat terkejut atas apa yang dilakukan Aisyah.
Seorang Malvyn Abraham?
"Sayang," rengek Malvyn menarik-narik bagian belakang jaket Aisyah.
Aisyah balik badan, berjinjit menggapai telinga Malvyn. "Nanti malam aku servis," bisiknya membuat Malvyn tersenyum senang.
"Oke, deal!" keduanya berjabat tangan dan membiarkan istri-istri para penjual di Pasar itu meminta foto bersama dengan Malvyn.
Tapi jangan senang dahulu. Tentu saja Malvyn tidak membiarkan dirinya tanpa Aisyah di foto itu.
Bahkan setiap bidikan kamera banyak memperlihatkan wajah bahagia Malvyn dan wajah cemberut Aisyah.
❤️
Makasih banyak atas perhatian kalian..
Aku terharu baca komentar kalian kasih tau aku obat sakit gigi untuk ku❤️❤️🥺
Aku sayang kalian..
__ADS_1