
Malvyn menggeram kesal karena harus mandi lagi malam ini. Bagaimana tidak? Ia harus melakukan senam jari karena ulah istrinya sendiri.
Malvyn mengingat ucapan papi Askar setelah menikahi Aisyah.
"Aisyah masih sangat polos, tuan. Kenapa harus anak bungsu saya?"
"Karena dia pilihan saya!"
Ternyata benar adanya. Sudah sering ia mencium bibir Aisyah tetapi masih saja kaku walau begitu tetap membuat Malvyn merasa senang karena bibir gadis itu adalah candu baginya.
*
*
Tadi, setelah Aisyah memegang dan mempertanyakan apa yang ada dibalik celana Malvyn, pria itu memejamkan mata sejenak. Karena tangan mungil itu masih berada di tempat semula membuat Malvyn tidak tahan akhirnya membungkam bibir Aisyah dengan bibirnya sangat rakus.
Namun, karena Aisyah yang penasaran mendorong dada Malvyn dan memasang wajah cemberut. "Aku itu tanya, loh. Kenapa malah di cium? kata papi kalau penasaran mending bertanya langsung," desis Aisyah kembali membuat Malvyn menghela nafas panjang.
"Sewaktu kamu SMA, pernah belajar biologi?" tanya Malvyn ingin menjelaskan secara umum.
Aisyah mengangguk polos.
"Pernah belajar organ reproduksi manusia?" tanya Malvyn berharap otak Aisyah menyambung ke arah sana.
"Tahu. Kayak punya cewek ada ovarium, tuba falopi, uterus, vagiina,-" belum sempat Aisyah menyebutkan yang lain sudah di potong oleh Malvyn.
"Nah. Kalau punya cowok?" tanya Malvyn memotong ucapan Aisyah.
"Ada peenis," jawab Aisyah pelan kemudian mendelik setelah menyadari apa yang sudah di pegangnya.
"Kamu sudah tahu, sekarang?" tanya Malvyn datar dan diangguki cepat oleh Aisyah.
"Tapi kenapa bisa keras begitu? bukan nya gambar yang ada di buku itu dia ke bawah, ya?"
__ADS_1
Sumpah demi apapun, Malvyn sangat tersiksa malam ini menghadapi Aisyah yang sangat banyak tanya dalam hal sensitif seperti ini.
Rasanya sangat serba salah baginya. Dirinya yang terbiasa irit bicara, belajar untuk mendekatkan diri dengan Aisyah justru membuatnya sangat pusing.
"Kenapa gak dijawab?" tanya Aisyah membuat Malvyn menjadi mengukung gadis itu.
Tanpa mengatakan apapun, Malvyn kembali menikmati bibir ranum istri kecilnya. Ia tersenyum ketika Aisyah merespons gerakan bibirnya walau sangat kecil sekali.
Cukup lama bibir keduanya saling berbalas hingga Aisyah memukul dada Malvyn karena kehabisan pasokan oksigen.
"Aku mau ke dapur," Aisyah segera turun dari tempat tidur dan berlari keluar menuju dapur.
Sementara Malvyn duduk dengan mengacak rambutnya. "Sampai kapan harus ku tahan?"
Malvyn masuk ke dalam kamar mandi buat menuntaskan hasrat nya dengan senam lima jari yang membayangkan tubuh Aisyah.
Malvyn keluar dari kamar mandi dan melihat kamarnya masih kosong. Ia pun memilih keluar kamar demi mencari Aisyah.
*
*
John dan Johan menoleh kemudian berdiri tepat di depan pintu apartemen tersebut. "Anda tidak boleh pergi, nyonya muda."
Aisyah berdecak. "Padahal aku pingin banget nasi goreng di pinggir jalan ajak pak John dan Pak Johan."
"Kalau pergi bersama kami, boleh!" kata Johan membuat Aisyah tersenyum senang.
"Ayo!" ajak Aisyah tanpa berpamitan kepada Malvyn.
Ketiganya langsung masuk ke dalam lift dan keluar dari gedung apartemen mewah itu menuju tempat yang diinginkan Aisyah.
"Apa nyonya muda sudah izin pada tuan muda?" tanya Johan khawatir bila kejadian lalu terulang kembali.
__ADS_1
Aisyah tersenyum dan mengangguk saja.
Ketiganya berjalan tanpa menggunakan kendaraan karena permintaan Aisyah sendiri. Berjalan di pinggir jalan begini membuat nya teringat kampung halaman. Dahulu sering sekali ikut Satria berjualan kebab dan burger, meneruskan usaha orang tua mereka.
"Pak John. Aku mau nasi goreng spesial yang pedas, ya."
Johan mendengar itu tentu saja menjadi khawatir karena selama mereka bekerja untuk menjaga Aisyah, makanan yang dimakan gadis itu adalah makanan sehat.
"Jangan, John. Nyonya muda tidak boleh makan nasi goreng jika pedas," tutur Johan yang memang lebih tegas daripada John yang sering mengerti Aisyah.
Aisyah cemberut tetapi tetap menurut. Kemudian ia duduk di sebuah tikar dengan meja bahan kayu di tengah tikar tersebut.
"Kalian mau kemana?" tanya Aisyah setelah pesanan nya telah tiba dan kedua pengawalnya hendak mencari tempat duduk lain.
"Aku gak suka makan sendiri, ya. Jangan terus-terusan menolak ku, pak. Atau aku akan mogok makan," rajuk Aisyah yang memang selalu mengajak kedua pengawalnya agar makan bersama.
Akhirnya kedua pengawal itu menuruti permintaan Aisyah karena merasa iba dan sebenarnya senang menjaga nyonya muda mereka.
"Waahh.. Ini sangat enak," pekik Aisyah seperti belum pernah makan nasi goreng pinggir jalan.
Aisyah tidak perduli jika tingkah nya menjadi pusat perhatian pembeli lain nya.
*
*
Sementara di apartemen Malvyn dibuat pusing akibat tidak ketemunya Aisyah disana. Ia pun segera masuk ke dalam ruang kerja dan melihat CCTV.
"Beraninya istri kecil ku itu pergi tanpa izin dariku," geram Malvyn. Rasanya malam ini istrinya sangat menguji kesabaran.
Ia bergegas menuju kamar dan memakai kaos saja. Kemudian segera menyusul Aisyah. Ketika melihat istrinya bercengkrama dengan kedua pengawal itu begitu akrab.
"MENJAUH DARI ISTRIKU?!!!"
__ADS_1