Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 106


__ADS_3

Aisyah terkejut ketika Jerolin hendak menuang kuah sambal yang sudah di buat pria itu. Kuah sambal tersebut mengenai kemeja yang dikenakan.


"Apa aku marah semenyeramkan itu sampai om gerogi begitu?" ejek Aisyah tergelak kemudian.


Jerolin melirik Aisyah yang masih tertawa. Lagi-lagi terpesona oleh kecantikan alami dimiliki ibu hamil itu. Memang benar, dirinya gerogi sehingga tak sengaja menumpahkan kuah pentol nya.


"Om buatin kuah nya lagi, ya?" tanya Jerolin tanpa menjawab pertanyaan Aisyah sebelum nya. "Setelah itu baru aku akan membereskan kekacauan di dapur kamu, aku janji."


Jerolin menyerahkan semangkuk pentol yang baru saja matang di rebus beberapa saat lalu. Sebenarnya, pria itu sudah sangat risih dengan tubuhnya yang berkeringat, bau bawang, minyak, tepung, dan kuah sambal pentol yang tumpah di kemeja nya. Jika bukan untuk Aisyah, tak akan pernah ia masuk ke dalam dapur karena selama ini hidupnya sudah di layani pelayan.


Bahkan tangan Jerolin masih berminyak karena belum cuci tangan saat mencetak adonan agar berbentuk bulat-bulat.


Aisyah melihat Jerolin mulai tak nyaman dengan kemeja yang sudah tak layak pakai membuat nya bangkit. "Enggak perlu, om. Cukup pentol ini saja. Nanti dikasih saos sama kecap saja."

__ADS_1


Aisyah maju mendekati Jerolin membantu membuka kancing kemeja pria itu satu persatu tanpa berniat buruk pada nya. Sementara pria itu hanya mampu menahan nafas berada di dekat ibu hamil itu, apalagi kancing kemeja dibuka dan melepas kemejanya.


Astaga!!! kenapa aku jadi begini? Apa aku sakit jantung? sebaiknya aku periksa kesehatan jantung ku. Ini sungguh gak baik.


"Om kan pakai kaos dalaman, begini saja. Sekarang, cepat bersihkan dapur ku. Setelah itu kita makan pentol itu bersama," terang Aisyah lalu duduk kembali di mini bar.


Jerolin menatap Aisyah memelas. "Aku panggil nanny saja, ya?" tawar nya karena sudah kelelahan membuat pentol buat ibc hamil itu.


Aisyah menggeleng tegas. "Aku bukan penjual yang bisa ditawar-tawar, om. Cepat bersihkan," katanya ketus kepada Jerolin.


Seketika itu pula ingatan nya teralih pada saat baru menjadi istri Malvyn dan membuat kekacauan di dapur Apartemen mantan suami nya itu. Ia menghela nafas dalam-dalam berulang kali agar hatinya kembali tenang, mendongak kan kepala menatap langit-langit dapur dengan mengedipkan mata beberapa kali guna mengusir air matanya.


Aku gak boleh lemah. Malvyn bukan lagi suami, Ais.

__ADS_1


Aisyah terus menguatkan hatinya agar kembali tegar.


Tanpa disadari Aisyah, Jerolin melihat apa yang dilakukan wanita itu dan yakin bila sedang tidak baik-baik saja.


Melihat Aisyah seperti itu membuat hati Jerolin sangat sakit. Sungguh, baru sekarang merasa sangat peka terhadap wanita. Ingin rasanya melindungi dan membahagiakan wanita itu.


"Habis ini, kamu mau makan apa?" tanya Jerolin setelah selesai membersihkan dapur, mencuci tangan dengan sabun, lalu mengeringkan tangan nya.


Jerolin mengambil saos dan kecap di lemari pendingin lalu di berikan kepada Aisyah. Ia duduk berhadapan dengan ibu hamil tersebut.


Aisyah tak lantas menjawab, ia menuangkan saos dan kecap dalam wadah kecil kemudian di aduk menjadi satu. Di ambilnya satu garpu, di tusuk pentol tersebut, lalu di totol-totol ke saos dan kecap yang sudah menyatu. Terakhir, pentol itu ia sodor kan ke depan mulut Jerolin. Tak lupa memberi isyarat agar pria itu membuka mulut menerima suapan pentol nya.


"Aku ingin makan daging manusia seperti makan pentol ini!!!"

__ADS_1


❤️



__ADS_2