Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 71


__ADS_3

"Maafin aku, Gio. Aku enggak tahu kalau Aisyah sudah menikah," kata Meta merasa bersalah melihat sepupunya tampak galau beberapa Minggu ini.


Gio mengangguk mengerti atas apa yang disampaikan Meta kepadanya. Dirinya saja yang seharusnya mencari tahu lebih dahulu latar belakang Aisyah.


Sejak awal Gio sudah merasa aneh dengan Aisyah yang memiliki dua pengawal tetapi tidak pernah memberitahu siapa nama orang tua dan menjalani bisnis bidang apa.


Sebagai anak dari pengusaha maju dan pewaris baginya tidak sulit mencari tahu latar belakang Aisyah. Tetapi, sekarang Gio mengerti mengapa sangat sulit mencari tahu karena ada keluarga Abraham yang melindungi gadis pujaan hatinya.


"Aku melihat Aisyah bahagia dan sangat terpuruk saat jauh dengan tuan Malvyn," kata Gio dan dibenarkan oleh Meta.


"Tapi, kenapa Aisyah yang dinikahi? padahal sudah sangat lama mereka berhubungan. Bahkan netizan selalu bangga-banggain pasangan itu, kan?" tanya Meta sampai sekarang masih bingung dengan Aisyah yang hadir di antara Malvyn dan Jesica.


Gio berpikir keras untuk menemukan jawaban atas pertanyaan Meta barusan. "Apa kehadiran dua pengawal Ais itu untuk menjaga dari sesuatu hal buruk yang bisa saja terjadi karena Ais merebut Malvyn dari Jesica?" ia menerka-nerka hal apa saja yang kemungkinan terjadi pada hubungan Aisyah dengan suaminya.


Meta menjentikkan jari disertai anggukan karena setuju atas apa yang dikatakan Gio.


"Kamu juga harus melindungi Ais, Gio."


Gio menatap Meta ragu. Ia sangat tahu siapa keluarga Abraham, bukan hanya kehebatan dalam berbisnis. Keluarga itu juga terkenal begitu melindungi dan mencintai keluarga nya.


"Kalau melindungi Ais, keluarga mereka juga bisa, Ta." Gio tentu saja pesimis karena dirinya belum banyak pengalaman pada dunia luar.


"Masalahnya Jesica sudah lama berhubungan dengan Malvyn. Pasti wanita itu sedikit banyak nya sudah tahu seluk beluk keluarga, tempat, atau apapun yang berhubungan dengan keluarga Abraham."


Hening.


Gio hanya diam saja menyerna dan memikirkan sesuatu yang akan dibuat jika sesuatu terjadi dengan Aisyah.


"Apa kamu mengajariku menjadi perebut istri orang?" tanya Gio membuat Meta tergelak dan ia pun mencebik bibir.


Meta menepuk-nepuk pundak Gio. "Kalau aku bila iya, apa kamu akan lakuin?" tanya Meta memastikan tetapi Gio mencebik bibir.


"Lebih baik aku menunggu janda nya Ais dari pada harus merebut, Ta. Aku buka cowok seperti itu," kata Gio yakin dan diacungi dua jempol oleh Meta.

__ADS_1


*


*


Di sebuah ruangan yang temaram. Jesica menatap keluar jendela, tangan nya terkepal setelah mendengar laporan dari anak buah nya bahwa Aisyah selamat. Tetapi ia cukup senang karena wanita kecil itu mengalami keguguran.


"Aku akan membuat wanita mu menderita sampai dia benar-benar menyerah dan pergi dari hidupmu, honey!"


"Enggak ada yang boleh mengandung mengandung anakmu selain diriku," ucapnya menatap keluar jendela dengan tatapan tajam menghunus bak pedang panglima.


Ia tidak ingin ada wanita lain disisi Malvyn selain dirinya. "Baiklah. Jika 10 tahun ini belum membuatmu menikahiku, maka aku akan membuat cara agar kamu menikahiku!" Jesica tersenyum miring ketika sebuah ide muncul dikepalanya.


*


*


"Sayang.. Cucu ku," pekik Oma Nadira menghampiri Aisyah yang sedang duduk di atas brankar dan di suami Malvyn.


Orang tua Aisyah langsung berdiri ketika keluarga menantu nya datang. Sangat terlihat jelas perbedaan kasta diantara mereka.


Bahkan orang tua Aisyah hanya diam saja sedari tadi. Tetapi, mereka bersyukur karena anak mereka diperlakukan baik oleh keluarga Malvyn.


Papi Edzard dan Mami mendekati orang tua Aisyah lebih dahulu. Tak lupa pula saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri.


"Maafkan atas kelakuan anak kami, besan!" ungkap Papi Edzard yang tak enak hati karena anak mereka menikahi Aisyah secara paksa.


Papi Askar mengangguk tegas. "Tidak apa l, tuan. Terpenting anak kami bahagia dan diterima keluarga anda," terang papi Askar.


"Tentu. Kami menerima dan akan menyayangi Ais seperti putri kami sendiri."


Jawaban papi Edzard membuat hati kedua orang tua Aisyah bernafas lega. Kekhawatiran yang sempat bersemayam membuat mereka tidak tenang.


Kedua pasang paruh baya berbesan itu langsung menoleh ke arah brankar ketika suara erangan Malvyn karena mendapatkan pelajaran dari Opa Qenan dan Oma Nadira.

__ADS_1


"Aduh!! Sakit, Opa!!" pekik Malvyn ketika tulang kering kaki nya terkena pukulan tongkat milik Opa Qenan.


Aisyah juga syok dengan apa yang terjadi. Ingin menjadi perisai untuk Malvyn juga tak bisa karena dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Opa.. Jangan pukul suami Ais," pekiknya khawatir.


"Biarkan saja. Jadi suami kok enggak bisa jaga istri. Sudah nikahi gadis muda, maksa, disembunyikan lagi!" omel Oma Nadira dan Malvyn juga tidak melawan.


Malvyn juga menerima atas apa yang diberikan Opa Qenan dan Oma Nadira karena mengakui kesalahan nya yang tidak bisa menjaga istrinya.


"Opa.. Ais yang bandel karena tetap pergi padahal sudah di larang," ungkap Aisyah dan berhasil membuat tongkat itu tidak lagi melayang ke kaki Malvyn.


Opa Qenan berdecak mendengar ucapan Aisyah. "Enggak istri, enggak cucu menantu sama saja kelakuan nya. Izin nya pergi hanya untuk melihat pameran, enggak tahu nya janjian sama pria lain!" sindir beliau membuat Oma Nadira mendelik.


Oma Nadira sangat tahu bila opa Qenan menyindirnya dimana dahulu ia izin ikut pergi ke Malaysia bersama sang ayah dan adik nya untuk menghadiri pameran lukisan adiknya yang mewakili negara Indonesia.


Di Malaysia, Oma Nadira bertemu dengan Pria yang melindunginya dahulu, Wido. Opa Qenan mengetahui itu menjadi marah dan mengakibatkan keguguran karena banyak pikiran.


"Dad, Mom. Malu dengan besan ku. Astaga!!" tegur papi Edzard tidak habis pikir dengan kelakuan orang tua nya.


Opa Qenan dan Oma Nadira tersadar dan segera mendekati papi Askar dan mami Adzilla. Tidak lupa pula saling berjabat tangan.


"Apa cucu ku buat ulah selama berada di rumah kalian?" tanya Oma Nadira merasa ragu dengan kelakuan Malvyn.


Mami Adzilla tersenyum tulus disertai gelengan di Ruang rawat inap itu, "Malvyn anak yang baik. Anak kami lah yang sering buat ulah. Benarkan nak Malvyn?" tanya beliau menatap Malvyn sedang dimanja Aisyah.


Malvyn yang ditanya seperti itu langsung menatap Aisyah. Ia terkekeh ketika mengingat betapa banyak nya tingkah laku Aisyah diluar nalar yang selalu membuatnya pusing.


"Benar, mi. Tapi aku suka Aisyah yang ceria dan cerewet begitu. Bukan seperti ini yang nangis dan merasa bersalah karena kejadian malam tadi," ungkap Malvyn masih menatap Aisyah yang menunduk sedang meneteskan air mata.


Seketika ruangan itu yang tadinya ricuh berubah menjadi hening diselimuti kesedihan. Malvyn langsung membawa Aisyah dalam dekapan nya.


"Sudah .. Sudah .. Jangan merasa bersalah lagi, ya. Jangan sedih lagi.. Kita hadapi bersama."

__ADS_1


__ADS_2