Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 129


__ADS_3

Aisyah tersenyum melihat baby Dominic tampak tertawa dan kedua tangan mungil itu bergerak seperti meminta Jerolin untuk menggendong nya.


"Papi baru saja pulang, Dom. Papi harus mandi dulu," terang Aisyah berbicara lembut dengan bayi mungil tersebut. Mengajari sedini mungkin agar mengerti keadaan sekitar.


Jerolin baru saja tiba dari Perusahaan dan mampir sebentar di Markas. Setiba di Rumah Aisyah, ia merasa bahagia disambut oleh kedua orang tersayang nya. Meski, belum memiliki ikatan yang sah tapi ini sudah sangat membuatnya sangat senang.


Jangan ditanya berapa ingin sekali berumah tangga bersama Aisyah. Namun, ia tak ingin memaksakan kehendak.


"Papi mandi dulu. Setelah itu kita main," kata Jerolin berdiri di hadapan kedua orang tersayang nya itu. Ia membungkuk menyamakan tinggi baby Dominic dalam gendongan Aisyah.


Kedua tangan mungil itu bergerak seperti hendak menggapai Jerolin dengan ocehan khas bayi.


"Kenapa kalian begitu dekat, sih?" tanya Aisyah pura-pura sewot.


Jerolin terkekeh geli melihat Aisyah cemberut seperti itu. Ia pun mengecup pipi ibu muda itu.


"Iihh.. Jero!!"


Bukan nya takut dengan pelototan Aisyah justru membuatnya tertawa. Aisyah begitu menggemaskan baginya. "Aku mandi dulu. Kamu sudah makan?" tanya Jerolin, pertanyaan rutin setiap pulang bekerja.


Aisyah menggeleng. "Aku nunggu kamu. Malam ini aku masak," kata nya. Semenjak menjadi seorang ibu, Jerolin lebih suka Aisyah mengurus bayi saja daripada harus memasak untuknya sebab sudah ada asisten rumah tangga disini.


Jerolin menggeleng kecil mendengar jawaban Aisyah. "Aku senang kamu menunggu aku pulang, tapi kalau sudah lapar jangan menungguku, Ais. Ingat, kamu ASI." Padahal ia sudah makan malam di luar. Tapi, tidak ingin mengecewakan Aisyah. "Tunggu sebentar, aku akan mandi."


Jerolin Menuju kamar nya terburu-buru. Di dalam kamar, senyuman nya terbit melihat piyama telah tersedia di atas ranjang. Betapa bahagia hati nya.

__ADS_1


Sementara Aisyah kembali ke kamar untuk menyusui baby Dominic sebab sudah waktunya tidur bagi bayi mungil itu. Di rumah nya ini ada dua ART, pengasuh baby Dominic, tukang kebun, penjaga, dan sopir pribadi nya.


"Tolong jaga Dominic ya, mbak." Katanya kemudian keluar kamar menuju ruang makan.


Ternyata Jerolin juga baru tiba di ruangan tersebut sedang menatap makanan lezat khas Indonesia tersusun disana.


"Aku kangen makanan Indonesia, Jero. Gak apa-apa kan?" tanya Aisyah membuat Jerolin menatap nya.


Jerolin tersenyum yang dipaksakan. Mendengar Aisyah kangen makanan Indonesia justru membuat nya berpikir jika kekasihnya itu sedang merindukan Malvyn. Ah, hatinya terbakar cemburu saat ini.


Aisyah mengambilkan makanan bagi Jerolin. "Mau opor ayam atau rendang daging nya?"


"Daging saja," jawab Jerolin singkat.


"Kenapa kamu hanya pakai rebusan sayur, sambal, dan ikan kering itu saja?" tanya Jerolin ternyata memerhatikan makanan yang dimakan nya.


Aisyah tersenyum. "Ini lebih enak, Jero. Apalagi aku menyusui. Katanya, sayur rebusan bisa menambah kadar ASI aku."


Jerolin berdecak saja. "Kurang banyak gimana lagi, Ais. Aku hampir tiap hari melihat baju kamu basah karena ASI."


"Kau!!" Aisyah melotot mendengar ucapan itu. Ia tak menyangka Jerolin memerhatikan sedetail itu.


Aisyah tak lagi bicara menanggapi ucapan Jerolin agar tak melebar kemana-mana pembicaraan mereka.


Beberapa saat kemudian, keduanya telah selesai makan malam. Aisyah memerhatikan Jerolin tampak sibuk dengan ponselnya. Kini, keduanya berada di ruang keluarga.

__ADS_1


"Kapan kamu mau nikahi aku?" tanya Aisyah membuat Jerolin mematung.


Beberapa detik kemudian setelah ditanya seperti itu oleh Aisyah hingga membuat Jerolin mematung. "Ais," ucapnya lirih. Lidahnya terasa keluh hanya sekedar untuk memperjelas pertanyaan Aisyah barusan.


Tatapan keduanya bertemu. Baru pertama kali Jerolin melihat Aisyah tampak serius seperti ini.


"Aku tahu, pasti kamu anggap aku wanita murahan karena meminta mu nikahi aku. Aku gak mau begini terus, Jero. Aku gak mau terus-menerus menjadi beban kamu dan habisin uang kamu," kata Aisyah kembali memberanikan diri menatap Jerolin.


"Aku gak pernah beranggapan kalau kamu habisin uang aku, Ais."


Aisyah mengangguk mengerti. "Aku tahu. Nikahi aku, Jerolin."


Keadaan hening sesaat. Jerolin menatap mata Aisyah dengan seksama. Mencari kesungguhan disana.


"Jujur, waktu inilah yang aku tunggu. Aku ingin menikahimu, Ais. Tapi aku takut suatu saat kamu kembali dengan dia. Aku takut, aku hanya menjadi rumah persinggahan kamu."


Aisyah tersenyum mendengar ucapan Jerolin. Tentu saja mengerti akan yang dirasakan pria itu. Wajar, apalagi Malvyn adalah pria pertama dalam hidupnya. Tapi, takdir memisahkan mereka dengan cara begitu kejam.


"Nikahi aku, Jero. Apa kamu ingin terus begini dengan hubungan kita? Tinggal serumah tapi punya batasan tinggi?"


Jerolin tersenyum mendengar pertanyaan Aisyah. "Apa kamu sudah gak sabar untuk melewati batasan, Ais?" tanyanya menaik turunkan alis menggoda Aisyah.


"Jero!!"


Jerolin tertawa berhasil menggoda Aisyah. Ia pun mengikis jarak agar mudah mendekap tubuh mama muda itu. "Besok kita akan menikah."

__ADS_1


__ADS_2