
"Jangan terlalu perhatian, Ais. Aku takut pada akhirnya kamu kembali kepada ayah anak yang kamu kandung," ucap Jerolin serius ketika Aisyah begitu perhatian membantu nya mengupas buah jeruk untuknya.
Aisyah menunduk masih mengupas kulit jeruk tersebut dan membersihkan nya. Setelah itu menyerahkan kepada Jerolin tanpa menatap pria itu. Tentu saja mengerti maksud dari ucapan pria itu.
Matanya terpejam beberapa detik untuk menenangkan hati nya. "Aku takut untuk memulai hubungan baru, karena yang pernah aku alami juga berawal dari sikap manis dan perhatian. Tapi, pada akhirnya aku dibuang."
"Aku gak mungkin begitu, Ais."
"Dia juga bilang begitu, om. Tapi, lihat sekarang. Aku sendiri. Aku tahu sejak awal kita bertemu lagi disini, tatapan mata mu sama persis seperti Malvyn dulu. Aku takut," kata Aisyah lirih dan terdengar menyayat hati.
Jerolin menggenggam tangan Aisyah dan satu tangan meraih dagu ibu hamil itu agar tatapan mereka bertemu. "Aku tahu kamu trauma atas masa lalu kamu, Ais. Tapi percayalah, aku gak akan sia-sia kan kamu. Aku gak punya wanita yang dekat dengan ku. Selama ini aku hanya bekerja."
__ADS_1
Aisyah menatap Jerolin sangat dalam dan memberikan anggukan pada pria itu. "Akan aku coba, om. Tapi, aku kasih waktu dua bulan untuk kamu memikirkan keputusan untuk hidup bersama ku. Aku seorang janda beranak satu. Aku gak punya penghasilan sama sekali dan aku sangat kecil untuk menjadi istri kamu," terang nya sudah mengambil keputusan.
Hampir setiap malam Aisyah memikirkan bagaimana masa depan anak nya. Ia tahu dan sudah berusaha keras belajar dengan giat agar setelah melahirkan dan meraih sarjana akan bekerja supaya anaknya mendapat kehidupan yang layak. Namun, anak laki-laki membutuhkan sosok seorang ayah sebanyak 75% dibanding sang ibu hanya 25%.
Wanita memang bisa menjadi peran ibu dan ayah sekaligus. Tetapi, kita tidak bisa pungkiri, kita tidak bisa menjamin bahwa mental anak kita akan baik-baik saja. Tekanan dan kenyataan yang tak sama seperti kehidupan anak lain dapat berdampak tidak baik bagi sang anak yang hanya hidup bersama sang ibu. Hanya dengan keputusan sang ibu dan menerima pria yang juga menerima keadaan juga sang anak sudah cukup bagi wanita seperti Aisyah.
Seketika senyum Jerolin mengembang mendengar ucapan Aisyah. Tentu saja. Sedari awal ia mencintai dan tidak pernah marah saat mengetahui wanita itu hamil anak Malvyn karena anak itu tidak bersalah juga dihasilkan dari pernikahan yang suci.
"Aku sudah tahu, Ais. Saat hatiku memilihmu, maka aku juga harus menerima anak itu." Jerolin berkata jujur kepada Aisyah.
"Jadi... Kita resmi pacaran?" Tanya Jerolin memastikan dengan wajah polos.
__ADS_1
Aisyah melihat wajah polos Jerolin tak sanggup menahan tawa nya. Ia tidak menjawab pertanyaan Jerolin sebab wajah itu tampak begitu lucu dan menggemaskan.
Jerolin melihat Aisyah tertawa merasa senang dan malu sekaligus. Menurutnya, ia tak melakukan apapun. "Apa kamu tertawa karena bagimu, perasaan ku sebuah lelucon?"
Tawa itu terhenti dan Aisyah terperangah atas pertanyaan yang baru saja di dengar. "Bukan. Aku gak pernah menganggap perasaan kamu itu adalah lelucon. Aku menghargai dan menghormati perasaan dan perlakuan munpadaku. Aku tertawa karena melihat ekspresi wajah kamu yang sangat lucu," terang Aisyah kemudian mencubit pipi Jerolin.
"Sakit, Ais. Kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi," keukeh Jerolin membuat Aisyah tersenyum kecil.
"Jawaban nya Ya."
****
__ADS_1
"Pergilah, Vyn. Enggak ada guna nya kamu datang kesini karena Aisyah gak ada disini."
"Kamu gak pernah cinta Aisyah. Kamu hanya terobsesi saja dengan nya."