Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 112


__ADS_3

Malvyn berjalan meninggalkan Apartemen dengan tatapan kosong. Setelah mendengar ucapan kedua pengawal itu, ia seakan ditampar sekuat-kuatnya sehingga menyadari kesalahan nya.


Saat menaiki mobil juga Malvyn berulang kali berhenti karena perasaan kalut yang tak bisa diatasi nya. Bagaimana bisa dirinya mencintai tetapi memberi penderitaan yang sadis terhadap Aisyah?


Mendengar Jesica hamil karena perbuatan nya membuat melupakan ada wanita yang seharusnya ia bahagiakan. Kehamilan Jesica seakan menjadi pengobat atas kehilangan calon anaknya dengan Aisyah. Niat awal hanya ingin mempertanggungjawabkan calon anaknya itu lalu merawat bersama Aisyah harus pupus. Ia lupa jika tidak semua wanita akan menerima anak suami dari wanita lain.


"Ngapain kamu kesini?" sentak mami Ivy melihat anak sulung nya masuk ke dalam Mansion.


Malvyn tidak menanggapi, ia terus berjalan dengan tatapan kosong menuju ruang kerja. Mencari sesuatu yang selama disimpan nya. Di bawa barang itu menuju ruang keluarga dimana orang-orang yang dikasihinya berkumpul.


Opa Qenan dan papi Edzard menoleh ke arah Malvyn dengan tatapan sengit. Oma Qenan tersenyum melihat cucu nya kembali pulang. Malvyn duduk di hadapan semua orang, menaruh selembar kertas yang akan menentukan ikatan cinta antara dirinya dan Aisyah.


"Aku sudah kehilangan calon anak ku lagi," ucap Malvyn lirih.

__ADS_1


Semua orang langsung berubah pias. Semarah apapun mereka, tetap sadar jika janin itu tidak bersalah. "Terus, gimana keputusan kamu selanjutnya? apa kamu akan meninggalkanku wanita itu?"


Malvyn menggeleng tegas. Tidak ada sedikitpun dalam pikiran nya untuk hidup bersama Jesica. Apalagi telah sadar jika wanita itu harus diberi pelajaran setimpal.


"Terus? kamu mau mengejar Aisyah?" tanya mami Ivy lagi. Sebagai seorang ibu, tentu saja dirinya ingin terbaik untuk sang putra. Tetapi, jika harus menyakiti hati wanita lagi tentu saja tidak akan ia izin kan.


Malvyn menggeleng lagi. "Aku sudah membuat Aisyah masuk dalam penjara cinta ku yang penuh siksaan. Aku gak mau memasukkan nya lagi, mi. A-aku akan bebaskan Ais," ucap Malvyn lirih. Hati nya terasa nyeri, dada nya begitu sesak memikirkan bagaimana menjalani hidup tanpa Aisyah dalam hidupnya.


Benar-benar tanpa Aisyah dalam segi apapun.


Malvyn menunduk dalam. Punggung nya tampak bergetar. Ternyata pria gagah itu tengah menangis. Tak bisa membayangkan hidupnya benar-benar tanpa Aisyah.


Oma Nadira menatap Opa Qenan seakan tak rela kehilangan menantu sebaik dan seceria Aisyah. Namun, genggaman dan gelengan opa Qenan sudah mengartikan jika jangan halangi Aisyah terlepas dari cucu mereka.

__ADS_1


Bukan tidak setuju, melainkan mereka tahu bahwa Aisyah berhak bahagia meski tidak bersama Malvyn.


"Ya sudah. Sudah waktunya kamu membebaskan Ais demi kebahagiaan nya, nak."


Malvyn mengusap air matanya. Tangan nya terulur mengambil amplop cokelat pemberian Aisyah dahulu.


Lembaran kertas bertulis surat gugat cerai itu terlihat bergerak seirama tangan Malvyn yang gemetar. Alat tulis di tangan satu nya juga sama seperti lembaran kertas tersebut.


Hati Malvyn sakit dan tak rela. Namun, ia sudah sadar jika Aisyah memang harus terbebas dari penjara cinta nya. Bukan lagi tak cinta. Tapi mengingat suara Aisyah berbicara kepada Johan terdengar lebih ceria sama seperti awal-awal pernikahan mereka membuatnya yakin, terbebas dari nya dapat membuat pujaan hatinya bahagia.


Malvyn membubuhkan tanda tangan bersamaan itu pula air matanya mengalir tanpa pamit.


*Maafkan aku, Ais.

__ADS_1


❤️*



__ADS_2