Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 83


__ADS_3

Suara decapan terdengar syahdu dan semakin membuat hasrat dua sejoli membara ingin berbuat lebih dari sekedar bercumbu.


Dua pasang tangan yang bergelayut membantu membangkitkan gaiirah yang sudah tak dapat di bendung lagi.


Setelah puas bermain, Malvyn mengarahkan rudal Amerika ke tempat pengasahan yang sesungguhnya. Ia tidak menggerakkan lebih dahulu karena mendengar Aisyah meringis.


"Maaf. Apa aku kurang pemanasan?" tanya Malvyn mencoba menahan hasrat nya ditengah remaasan yang tercipta dari milik Aisyah.


Aisyah tidak menjawab, keduatangan nya dikalungkan pada leher Malvyn kemudian membungkam bibir pria itu begitu liar. Rasanya sudah tidak ingin memikirkan apapun selain mencapai puncak nirwana bersamaan.


Begitu juga Malvyn yang selalu merasa candu dengan tubuh dan cinta Aisyah. Ia tidak tahu entah mengapa setelah bercinta dengan istri kecil nya, ia merasa ada sesuatu dari Aisyah yang tidak dimiliki wanita lain. Termasuk juga Jesica.


Yang membedakan adalah cinta dan nafsuu. Jika bersama Jesica, Malvyn hanya bernafsu karena keagresifan wanita itu. Dirinya adalah pria normal dan bebas. Tentu membuatnya terlena selama beberapa tahun.


Namun, ketika bersama Aisyah sangat berbeda. Ada rasa cinta di setiap sentuhan nya.


"Aku hampir sampai, Vyn?!!" kata Aisyah ditengah gempuran yang diciptakan oleh Malvyn.


Kedua mata mereka beradu. "Aku juga. Bersama sayang," Malvyn mempercepat gerakan maju mundur di bawah sana.


Suara syahdu saling bersahutan dengan menyebut nama keduanya secara bersama. Hingga Aisyah merasakan rudal Amerika milik Malvyn bergetar menumpahkan cairan masa depan.


"Terimakasih, sayang!" bisik Malvyn kemudian berguling ke sisi Aisyah.


Cukup lama mereka berdiam dan memejamkan diri menikmati sisa-sisa percintaan mereka yang telah berulang-ulang.


Malvyn bangkit lebih dahulu daripada Aisyah. Ia menyelimuti tubuh sang istri dan tak lupa mengecup seluruh wajah mungil itu. "Tidurlah. Maaf sudah buat kamu kelelahan," gumamnya kemudian melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, ia terus tersenyum mengingat bagaimana menggebunya rasa rindu yang tersalurkan tadi.

__ADS_1


*


*


Usai membersihkan diri, Malvyn menuju Villa lain untuk bertemu dengan Mario. Walau tenaganya hampir habis tidak membuat keinginan nya untuk bertemu dengan pria itu.


Bahkan Malvyn langsung mendobrak pintu Villa ketika sudah berada disana.


"Apa-apaan kamu, Vyn?" sentak Mario terkejut atas apa yang dilakukan oleh Malvyn.


"Sudah aku katakan jangan cari Malya," gertak Malvyn kemudian duduk di sofa tepat berhadapan dengan Mario.


Tatapa. matanya tajam menghunus jantung Mario. Rasanya tidak rela bila Malya harus tersakiti lagi.


"Aku mencintainya," gumam Mario pelan kemudian duduk ditempat semula.


*


*


Aisyah sudah terbangun ketika hari sudah gelap. Rasanya sangat sulit untuk menggerakkan tubuhnya saking lelahnya. Ia mengingat jika mereka memulai permainan ketika hari masih pagi.


"Dia benar-benar meluapkan rindunya," gumamnya kemudian menutupi kepalanya karena merasa malu sendiri mengingat betapa liar nya mereka ketika bercinta tadi.


Aisyah kembali membuka selimut yang menutupi kepalanya. Tangan nya terulur mengambil ponsel di atas nakas. Dicarinya pesan dari Malvyn karena pria itu tampaknya tidak berada di Villa.


"Kamu dimana?" tanya Aisyah ketika sambungan telepon terhubung dengan Malvyn.


"Aku disini, sayang!"

__ADS_1


Aisyah langsung menoleh ke arah pintu dimana Malvyn baru saja masuk ke dalam kamar. Ia melihat bila Malvyn baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku.


Sekali lagi Aisyah terpesona oleh Malvyn. Bukan hanya ketampanan dan tubuh atletis nya. Namun, sikap lemah lembut pria itu mampu membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Hanya saja, ia masih gengsi mengakui perasaan nya itu.


Ingin rasanya Aisyah menghilang saat ini juga ketika Malvyn duduk di tepi tempat tidur tepat disampingnya. Ia menyembunyikan wajah nya di balik selimut kemudian di dalam sana, Aisyah membersihkan wajah. Mengelap kedua sudut bibir karena takut ada air liur, sudut matanya karena takut ada kotoran mata disana.


Sementara Malvyn terkekeh melihat kelakuan Aisyah. Ia tidak berkomentar karena setiap perlakuan istri kecilnya itu dinikmatinya sebagai moment penting dalam hidup.


"Sudah cantik, sayang!" kata Malvyn membuat Aisyah membuka selimut yang menutupi wajahnya.


Lihatlah, Aisyah cemberut menatap Malvyn.


"Bohong kamu, mah..," kata Aisyah dengan pipi bersemu merah.


"Aku jujur sayang. Kamu mau jalan-jalan?" tanya Malvyn karena memang tujuannya mengajak Aisyah kesini bukan hanya sekedar menghabiskan waktu di dalam kamar.


Sebenarnya jika ingin di dalam kamar saja juga tak masalah bagi Malvyn karena itulah kesenangan baginya.


Aisyah mengangguk kecil. "Tapi jangan jauh-jauh, ya. Capek," keluhnya.


Malvyn mengangguk disertai senyuman. Ia pun segera memgendong Aisyah yang masih polos ke kamar mandi.


"Vyn.. Turuni! Aku bisa sendiri," pekik Aisyah karena malu namun tangan nya melingkar di leher Malvyn.


Melihat wajah panik Aisyah membuat Malvyn tertawa. Bahkan sudah melotot bagai ingin menerkam nya karena ia menertawakan istri kecilnya itu.


Tiba di dalam kamar mandi, Malvyn tidak langsung memandikan Aisyah seperti biasa ketika sedang masa pemulihan sebelumnya. Ia menurunkan Aisyah di samping wastafel dan menyerangnya kembali.


Selanjutnya terdengar suara syahdu bersahutan di dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2