
Ucapan Jerolin menjadi nyata. Aisyah tidak menyangka akan secepat ini. Bukan ingin menolak. Namun, ia tak menyangka respons Jerolin akan seperti ini. Meski ada keraguan, bukan tentang Malvyn, melainkan keselamatan dirinya dan baby Dominic setelah menjadi nyonya Jerolin Marley pasti akan dipertaruhkan.
Aisyah juga tidak ingin memiliki hubungan seperti ini terus menerus. Dimana biaya hidup nya ditanggung oleh Jerolin dan mereka tinggal bersama tanpa ikatan suci. Memang benar, hidup di luar Negeri tidak mempermasalahkan hal ini. Namun, Aisyah tetap ingin memiliki ikatan yang Sah.
Perayaan atas pernikahan Jerolin dan Aisyah diselenggarakan dengan sederhana sesuai keinginan Aisyah. Di halaman belakang hanya di hadiri beberapa kolega bisnis Jerolin dan para asisten rumah tangga.
Aisyah tersenyum melihat Jerolin tampak semakin gagah dengan setelan texudo hitam begitu juga baby Dominic dalam gendongan pria itu. Ia menghela nafas disertai gelengan merasa heran dengan pria yang sudah menjadi suami nya beberapa waktu lalu, padahal Jerolin tengah mengobrol dengan beberapa pria dewasa tetapi tidak ingin memberikan baby Dominic kepadanya.
Lama ia menatap lurus ke arah Jerolin tetapi pikiran nya tidak berada di tempat. Pikiran nya melayang dimana beberapa bulan lalu ketika dirinya masih menjadi istri Malvyn.
Kisah kita benar-benar sudah selesai, Vyn. Semoga kamu bahagia disana. Selamat tinggal genderuwo bule, ku.
Faktanya, Aisyah tidak dapat membenci Malvyn. Hanya saja, untuk kembali tidak akan mau sebab rasa sakit itu masih ada. Apalagi mengingat Malvyn juga telah memiliki anak. Jika waktu lalu Aisyah menerima kesalahan Malvyn dan tetap bertahan, tetap saja ia tak akan bisa menerima anak Malvyn dari wanita lain sepenuhnya. Batin nya akan terus terluka mengingat perselingkuhan Malvyn.
Malam telah tiba, acara telah selesai dari sore tadi. Tubuh Aisyah menegang ketika merasakan lengan nya di pegang seseorang bahkan dikecup. Saat ini dirinya sedang nyusui baby Dominic. Ia tahu hal itu adalah perbuatan Jerolin karena sudah mengenal harum parfum dan bau badan pria itu.
"Apa anak kita sudah tidur?" tanya Jerolin berbisik di belakang telinga Aisyah hingga menimbulkan rasa geli.
__ADS_1
"Lihat. Dominic bangun lagi karena ulah kamu," cebik Aisyah seraya menahan pucuk gunung kembar nya sebab baby Dominic sedang tertawa menatap Jerolin.
"Kenapa kalian sangat kompak sekali?" tanya Aisyah menggerutu. Ada rasa cemburu melihat kedekatan antara Jerolin dan baby Dominic.
Jerolin terkekeh mendengar itu. Benar sekali, ia tidak menampik tentang pertanyaan itu. Seperti ada ikatan batin yang tidak dapat dijelaskan lewat ikatan darah.
"Pasti aku akan sangat cemburu saat waktu itu tiba, Ais. Dimana Dominic bertemu dengan ayah kandung nya," kata Jerolin pelan seraya menepuk-nepuk bokong bayi mungil itu agar segera terlelap.
"Kamu itu, ya. Ngomong nya sedih, tangan nya aktif nenangin Dominic, tapi mata kamu lihatin aset aku terus!" Kata Aisyah ketus. Apa yang telah dibicarakan Jerolin tentu saja dicerna nya.
"Terus, kamu gak perlu khawatir. Dominic pasti akan tetap menyayangi kamu, Jero." Aisyah sudah terlentang dan Jerolin masih duduk dengan satu tangan sebagai penyangga. Sedangkan baby Dominic telah terlelap kembali.
Aisyah tersenyum mendengar ungkapan kalimat tersebut.
"Aku pindahin Dominic, sebentar." Jero bangkit lalu mengitari ranjang dan menggendong bayi mungil itu perlahan.
Untuk malam ini, Dominic tidur di ranjang kecilnya dalam satu ruangan bersama Aisyah dan Jerolin. Ah, Jerolin berpikir harus segera merenovasi kamar tidur mereka agar terpisah.
__ADS_1
Setelah menaruh baby Dominic, Jerolin kembali naik ke ranjang. "Akhirnya, aku bisa memeluk mu dengan bebas, Ais. Istriku!!"
Wajah Aisyah memerah dan malu karena Jerolin memeluknya dari belakang.
"Apa kamu benar-benar sudah siap menerimaku, Ais?" tanya Jerolin meyakinkan hati sendiri.
"Tentu. Kalau gak, kenapa aku yang memintamu untuk menikahiku."
Senyuman terpatri di wajah keduanya. Aisyah menjawab dengan kesungguhan hati nya bahwa benar telah menerima kehadiran Jerolin.
"Jero. Kalau boleh tahu, kenapa dulu kamu gak lenyap kan aku saja?" tanya Aisyah masih penasaran.
Jerolin menggeleng. "Mata mu indah dan tulus saat menatapku."
Aisyah tersenyum kemudian memberikan kecupan pada bibir Jerolin. Pria itu terkejut dan langsung membungkam bibir Aisyah dengan rakus.
"Aku datang bulan!!"
__ADS_1
"Hahh?!!"