Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 123


__ADS_3

Malvyn menatap rumah Satria, sudah kali ketiga dirinya mendatangi tempat itu semenjak Aisyah pergi dan dirinya sudah hampir menyerah. Dilihat mantan kakak ipar nya itu tengah bermain dengan seorang anak laki-laki. Seketika tubuhnya menegang dengan jantung yang semakin berpacu cepat.


Tetapi, beberapa saat kemudian gelengan kepala tampak. Gak mungkin Ais hamil. Kalau sudah hamil, pasti dia akan kembali bersamaku


Malvyn melangkahkan kaki memasuki pelataran rumah itu, tapi di sambut dengan tatapan sengit dari Satria. Ia yakin akan menerima kalimat pedas lagi dari pria itu.


Malvyn mematung ketika Satria berjalan mendekatinya.


"Pergilah, Vyn. Enggak ada guna nya kamu datang kesini karena Aisyah gak ada disini."


"Kamu gak pernah cinta Aisyah. Kamu hanya terobsesi saja dengan nya."


Malvyn hanya dia menunduk merasakan mata nya memanas karena perkataan Satria. Kenapa banyak yang mengatakan jika dirinya tidak mencintai Aisyah?


"Aku mohon, mas. Izinkan aku bertemu sekali saja dengan Ais, aku mohon." Malvyn bersimpuh di hadapan Satria.


Untuk pertama kalinya Satria melihat mantan adik iparnya bersikap rendah seperti ini. Tapi, sudah janji nyabuntuk tidak memberitahukan dimana Aisyah berada.


"Aku gak bisa kasih tahu dimana Aisyah. Tapi, aku bisa menunjukkan kalau Ais sudah bahagia," terang Satria membuat Malvyn tersenyum simpul. Tak mengapa tidak tahu kemana perginya Aisyah, asal tahu bila mantan istinya bahagia maka sudah waktunya ia menyerah.

__ADS_1


Satria mengambil ponsel dalam saku lalu menghubungi Aisyah melalui video call.


"Hallo, bang."


Malvyn memejamkan mata saat mendengar suara Aisyah. Suara yang sangat dirindukan, bahkan hanya mendengar suara itu mampu membuat jantung nya berdebar kencang.


"Kamu sedang apa?" tanya Satria seraya melirik ke arah Malvyn yang diam saja.


"Aku sedang jalan-jalan agar lancar nanti. Ada apa bang?"


Satria tersenyum melihat Aisyah sedang jalan-jalan bersama Jerolin. Siapapun yang bersama adik bungsunya itu, terpenting dapat membahagiakan dan menerima anak dalam kandungan Aisyah.


"Kamu boleh pergi, Vyn. Dan aku harap, kamu gak akan mengganggu kebahagiaan Aisyah. Pergilah dan terimakasih atas segala nya." Satria kembali masuk ke pekarangan rumah meninggalkan Malvyn sendirian disana.


Cukup lama hingga Mario mendatangi Malvyn. "Sudah waktunya berangkat, Vyn. Klien sudah menunggu."


Malvyn menghela nafas panjang kemudian balik badan mengikuti langkah Mario dan masuk ke dalam mobil.


Semua sudah berakhir, Ais.

__ADS_1


***


Aisyah menyeka keringat saat baru saja mendudukkan bobot tubuhnya. Matanya melihat Jerolin yang tengah membuka tutup botol air mineral dan memberikan kepadanya. Senyuman nya merekah menerima botol itu.


"Makasih, Om."


Aisyah menahan senyum melihat wajah Jerolin berubah cemberut setiap kali dipanggil Om oleh nya. Rasanya sangat menyenangkan membuat kekasih baru nya itu tersenyum.


"Jangan memanggilku Om terus, dong. Sekarang aku pacar kamu, tahu."


Tawa Aisyah pecah dan membuat Jerolin semakin kesal. Selalu saja seperti ini meski di sudut hatinya tetap merasa senang.


"Maaf. Aku suka lupa kalau kamu akan jadi papi anak aku," terang Aisyah menjadi serius. Meski hati nya belum sepenuhnya untuk Jerolin, tetap saja diakuinya bila pria itu sedikit demi sedikit telah mengobati luka hatinya dan mencoba menerima kehadiran pria itu.


"Anak kita, sayang." Jerolin mengatakan nya dengan tegas. Aisyah menoleh hingga tatapan mereka bertemu.


Aisyah tersenyum. "Iya anak kita. Aku sangat beruntung dipertemukan dengan pria sepertimu, Jero. Meski awalnya aku sangat takut berdekatan dengan mu Tapi, semakin kesini aku tahu kamu pria yang sangat baik."


"Aku tersanjung."

__ADS_1


__ADS_2