Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 52


__ADS_3

Aisyah melengos sebal karena Malvyn baru saja mengirim pesan bila akan pulang terlambat dan jangan menunggu pulang. Padahal, hari ini ingin sekali mengajak pria itu untuk pergi ke acara ulang tahun Opa Qenan.


Bodooh nya ia lupa memberitahukan undangan tersebut kepada Malvyn. Dan lebih mengesalkan lagi Malvyn tidak menginginkan nya untuk pergi kemana-mana selepas kuliah.


Tetapi, niat dan sungkan untuk tidak hadir di acara tersebut lebih dominan dengan hatinya. Karena itulah ia sedang memikirkan cara agar terbebas dari kedua pengawalnya.


"Aku mau ke salon," kata Aisyah setelah pulang kuliah dan makan siang di kafe sendirian.


Rasanya memang hari ini adalah hari yang menyebalkan bagi Aisyah. Baik Meta maupun Gio tidak dapat menemani nya.


Pemuda itu bahkan sangat menyesali karena akan ada acara keluarga. Mengetahui itu, Aisyah juga tidak mempermasalahkan.


"Kenapa belum jalan juga, mobilnya?" tanya Aisyah merasa heran karena mobil belum juga bergerak.


John dan Johan masih diam karena memastikan keinginan Aisyah ke salon bukan salah satu persiapan untuk pergi ke tempat acara opa Qenan.


Melihat John dan Johan masih memerhatikan nya membuat Aisyah menyadari, pastilah mencerugainya. Aku lupa. Pasti mereka melaporkan apa yang aku lakukan hari ini.


Seketika itu Aisyah memijat pelipisnya dengan mata terpejam. Seketika ide itu terlintas di kepalanya.


"Aku ingin pulang saja. Besok saja aku ke Salon bareng suamiku. Badan ku pegal-pegal, pak!"


"Pegal-pegal? memangnya nyonya muda habis ngapain?" tanya Johan seperti masih mencurigai Aisyah.


Aisyah menahan kesal dan memberanikan diri menatap kedua pengawalnya bergantian. "Tadi pagi suamiku minta dua ronde lagi, pak. Padahal malam nya sudah tiga ronde. Satu ronde di ruang tamu. Dua ronde lagi di di Ding dan di kasur," ia mengatakan itu seraya memijat bahu nya sendiri. Dalam hati nya sangat menekan rasa malu nya.


Terdengar cebikan dari Johan merasa menyesal telah bertanya kepada Aisyah dan melupakan kepolosan dari nyonya muda nya itu.


Tetapi berbeda dengan John yang terkekeh mendengar jawaban Aisyah yang mengarah ke anu-anu. "Enak gak? tuan pakai gaya apa? digendong? itu nya tuan besar gak?"


Mendengar pertanyaan beruntun dari John membuat wajah Aisyah memanas dan tampak memerah. Rasanya sangat tabu bila menceritakan urusan ranjang.


Entahlah. Mungkin seiring berjalan waktu, Aisyah telah berubah menjadi sedikit dewasa namun akan ada disatu waktu sifat kekanak-kanakan itu pasti ada.


"Baiklah. Kita pulang saja. Nyonya harus istirahat. Ingat kata tuan muda, anda tidak boleh kemana-mana."


Aisyah menatap Johan dengan bibir yang menipis disertai anggukan. "Baiklah," ungkap nya.


Beberapa saat kemudian Aisyah benar-benar diantar hingga ke kamar mereka. Sebenarnya ada rasa tak enak hati membohongi kedua pengawalnya yang sudah dianggap Aisyah seperti keluarga sendiri.

__ADS_1


Tetapi, rasa untuk keinginan hadir di acara Opa Qenan begitu menggebu.


*


*


Tepat pukul tujuh malam Aisyah sudah bersiap untuk pergi ke acara Opa Qenan. Ia tampak sangat cantik dengan dres merah mudah yang ditemuinya di lemari pakaian. Rambut kecoklatan yang digulung ke atas dengan menyisakan sedikit rambut disisi kanan dan kiri saja.


Tas selempang kecil yang hanya cukup untuk ponsel, undangan dan dompet kecil saja. "Oke. Mari kita berangkat," senyuman terus mengembang ketika membuka pintu apartemen ternyata sudah tidak ada kedua pengawalnya.


Ketika di lantai dasar, Aisyah langsung menutup wajahnya dengan tas ketika tak sengaja melihat John dan Johan sedang berada di Kafe.


"Syukur," kata Aisyah mengelus dada ketika baru saja tiba di halte bis tanpa ketahuan kedua pengawalnya.


Aisyah langsung memberhentikan taksi saat melihat kendaraan beroda empat tersebut dan memberitahukan alamat yang ditujunya.


*


*


"Kembalian nya untuk bapak saja," kata Aisyah yang selalu menyisihkan untuk yang lebih membutuhkan. Seperti itulah yang diajarkan kedua orang tuanya.


"Terimakasih kembali, pak!" ucapnya kemudian keluar dari mobil.


Aisyah berdecak kagum dan merasa bangga melihat tempat acara itu. "Ternyata nasib mu manjur, Ais.. Dinikahi orang kaya dan sekarang juga punya temen orang kaya," ucapnya girang dan jiwa missqueem Aisyah meronta-ronta ketika melihat deretan mobil mewah berbari disana.


Aisyah juga menatap takjub ketika hendak masuk harus diperiksa dan dimintai undangan resmi.


"Terimakasih," ucapnya kemudian ia masuk ke pekarangan panti Asuhan tersebut.


Pertama kali dilihatnya adalah sepasang suami-istri yang tak lain pemilik panti Asuhan tersebut. Ia pun tersenyum kala mereka menyapanya.


Kemudian ia berjalan dan tak sengaja menabrak seorang gadis. "Maaf, maaf, kak." Aisyah merutuki dirinya yang tak dapat menghilangkan kecerobohan nya.


"Iya, gak apa-apa. Aku juga minta maaf karena terburu-buru," ungkap gadis itu.


Aisyah mematung ketika tatapan mereka bertemu. Sepasang mata cokelat seperti Malvyn berada dihadapan nya.


"Aku Malya.. Kamu siapa?" tanya Malya menelisik penampilan Aisyah tampak sederhana namun elegan. Dan yang pasti terlihat sangat muda.

__ADS_1


Aisyah mencoba tersenyum dibalik rasa gugupnya karena takut disangka penyusup. "Aku Aisyah, kak. Oma Nadira mengundangku kesini," terang nya.


"Oohh.. Kamu yang gadis yang diceritain Oma? astaga... Aku disuruh menunggumu di depan. Sudah ayo ikut aku bertemu dengan Oma. Dari tadi Oma menunggumu," ungkap Malya karena tujuan nya terburu-buru tadi karena Oma Nadira menyuruhnya menunggu Aisyah.


Aisyah tersenyum disertai mengangguk. Hatinya menghangat diperlakukan baik seperti ini padahal belum lama mengenal. Stigma orang kaya sombong ternyata tidak bagi keluarga Oma Nadira, batin nya.


"Kamu tahu nggak? karena Oma dan mami dua kali melihatmu sangat murah hati dan mau membagi pada yang tidak mampu, kedua wanita itu langsung berangan-angan ingin memiliki menantu sepertimu," ungkap Malya membuat Aisyah terkejut.


"Tenang saja. Mereka tahu kalau kamu sudah menikah. Dan kakak ku sudah punya pacar. Tapi sayang, aku dan Oma tidak menyukainya. Sedangkan mami selalu menerima pilihan kakak," imbuh Malya mengerti dari terkejutnya Aisyah.


Aisyah hanya tersenyum karena belum dekat dengan Malya. Tetapi ia akui bila wanita yang merangkul lengan nya itu mudah akrab dengan orang lain.


"Aisyaahh," pekik Oma Nadira kemudian memeluk Aisyah.


Aisyah membalas pelukan Oma Nadira kemudian beralih memeluk mami Ivy. Setiap saat memeluk, Aisyah memejamkan mata karena merasa tenang. Ia sangat merindukan kedua orang tuanya.


Ingin pulang, ia sungkan dan tak ingin ditanya masalah pernikahan nya karena tak dapat berbohong dihadapan kedua orang tuanya.


Aisyah tak mungkin memberitahukan pernikahan nya yang dirahasiakan hingga hampir setengah tahun itu.


"Kamu sendirian?" tanya Oma Nadira yang sangat ingin mengetahui pria mana yang beruntung mendapatkan gadis baik seperti Aisyah.


"Iya, Oma. Maaf, suamiku sedang ada pekerjaan!" kata Aisyah menahan rasa kesalnya.


Oma Nadira mengangguk disertai senyum manisnya. "Nggak apa-apa. Ayo Oma kenalkan sama Opa Qenan, anak-anak Oma, dan cucu Oma."


Aisyah mengangguk dan mengikuti Oma Nadira menuju meja paling depan dimana keluarga rudal Amerika itu berada.


"Sayang. Ini dia gadis yang aku ceritakan waktu itu," kata Oma Nadira membuat Oma Qenan berdiri dan tersenyum melihat Aisyah yang tengah mencium punggung tangan nya.


Aisyah terlalu gugup saat menjabat tangan Papi Edzard, Mommy Elysia, mama Alice, papa Aditya, hingga Aisyah terperanjat berada dihadapan Malvyn.


Tatapan mereka bertemu. Tatapan Malvyn yang menggambarkan rasa bersalah yang mendalam. Aisyah melirik ke arah samping pria yang menjadi suaminya itu berdiri seorang wanita berpenampilan seksii sedang bergelayut manja di lengan Malvyn.


Jesica.


Aisyah tersenyum miris seraya mengulurkan tangan dan tak lama Malvyn menyambutnya. "Aisyah. Panggil saja Ais."


Ternyata kamu belum memutuskan nya, Vyn. Bahkan keluargamu sudah mengenal Jesica. Kenapa dunia begitu sempit?

__ADS_1


__ADS_2