Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 117


__ADS_3



Jerolin menyerahkan dua pasang pakaian kepada Aisyah. Pria itu heran melihat reaksi ibu hamil itu hanya diam menunduk menatap dua pasang yang di berinya.


Benar.


Aisyah menunduk menatap pakaian bayi tersebut. Lagi-lagi terharu dan merasa tak percaya bila dirinya akan menjadi seorang ibu pada usia muda.


Masa muda yang seharusnya dihabiskan dengan bermain atau menikmati proses pendewasaan dan kesuksesan secara alamiah. Sementara dirinya, sudah harus dipaksa dewasa dan menjadi ibu terlalu dini.


Bukan tidak menerima keadaan. Dirinya sudah belajar menerima semua yang telah ditakdirkan padanya. Tidak ada yang disesali karena percaya dengan yang telah hilang akan dihadirkan sesuatu lebih berharga.


Seperti anak dalam kandungan nya. Anak nya akan menjadi sesuatu yang sangat berharga dalam hidup nya. Sebab kehadiran makhluk kecil itu pula membuat nya semakin dewasa dan belajar menyikapi keadaan yang terjadi padanya.


Aisyah menengadah menatap Jerolin dengan mata berkaca-kaca. "Makasih, om. Makasih sudah mau mengurusku," kata nya seraya mengusap pipi yang telah basah karena air mata.


"Jangan menangis. Nanti anak kamu sedih kalau Mommy nya menangis," kata Jerolin menenangkan Aisyah meski hanya dengan ucapan sebab belum berani menyentuh ibu hamil itu di luar batas.

__ADS_1


"Kenapa om sangat baik padaku? Andai aku bisa membalas semua kebaikan mu pasti akan aku lakukan," tutur Aisyah tulus. Sudah menjadi keputusan nya karena memang Jerolin begitu baik mengurus nya yang hidup sendirian di Negara luar.


Jerolin menatap Aisyah sejenak. Mencerna makna dari ucapan wanita itu lebih dalam. Memperkirakan jawaban yang akan diterima usai mengutarakan keinginan nya kepada pujaan hatinya. Gelengan kecil terlihat darinya.


"Kenapa om geleng kepala begitu?" tanya Aisyah sedang memerhatikan Jerolin sedari tadi.


"Aku gak mau kamu melakukan sesuatu untukku hanya karena balas budi, Ais. Sebab apa yang aku inginkan berhubungan dengan hati ku dan hidup mu," terang Jerolin.


Untuk kali pertama Aisyah melihat Jerolin tampak rapuh, wajah sendu menghiasi wajah tampan itu. "Aku boleh tahu apa itu, om?"


Jerolin menatap Aisyah lagi. Tidak tahu harus mengatakan keinginan nya atau tidak karena separuh hati nya belum siap mendengar penolakan dari Aisyah.


Jerolin balik badan tak ingin, lebih tepatnya tak siap mendengar jawaban dari Aisyah.


Sementara Aisyah seperti jaringan ponsel, ngelagh. Praduga hal ini bakal terjadi pernah terpikir olehnya. Sebab, teringat ucapan Sania dahulu sebelum menikah.


"Kedekatan laki-laki dan perempuan gak akan murni sebagai teman ataupun sahabat karena pasti salah satu telah jatuh cinta," terang Sania kala itu.


"Beri aku waktu," kata Aisyah lirih.

__ADS_1


Jerolin menipiskan bibir mendengar ucapan Aisyah. Sudah di duga dan mencoba mengerti atas keputusan wanita itu. Ia balik badan memamerkan senyum tampan nya.


"Aku mengerti, Ais. Jangan dipikirkan, oke."


Aisyah mencoba tersenyum disertai anggukan. "Baiklah."


"Oh iya, kamu suka bajunya?" tanya Jerolin mendekati sofa dimana pakaian bayi yang dibeli nya.


"Suka. Selera kamu bagus, om. Kamu sudah mengajari anak ku seperti bos pakai jas begitu," puji Aisyah kepada Jerolin.


Jerolin tersenyum senang. "Harus dibiasakan, Ais. Kamu jangan melupakan kalau Daddy nya seorang pengusaha sukses," terang Jerolin.


Aisyah tersenyum masam. Tentu saja tahu bila Malvyn adalah pengusaha sukses. Ia sudah mencari tahu tentang itu.


"Kamu lebih pantas disebut papi oleh anakku, om. Kamu yang mengurus dan menjaga kami. Kamu yang menghidupi kami disini. Jika saja aku gak ketemu kamu, mungkin aku masih bekerja paruh waktu untuk membiayai segala keperluan kami dengan keterbatasan. Tapi, kamu datang dan menawarkan pekerjaan yang sangat menguntungkan untukku," terang Aisyah lagi, matanya berkaca-kaca kembali memikirkan betapa pahit takdir kehidupan yang diberikan emak author untuknya.


"Aku? Papi?" tanya Jerolin menatap tak percaya.


Aisyah mengangguk pasti. "Kamu lebih pantas di panggil papi oleh anakku, om. Dari pada pria yang menanamkan benih itu di rahimku," terdengar nada suara nya kecewa memikirkan Malvyn disana.

__ADS_1


Sementara Jerolin mematung. "A-aku, papi?"


__ADS_2