
Aisyah mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya dari sinar Mentari yang mengintip dari balik gorden. Pertama kali dilihat Aisyah adalah punggung suaminya yang sedang berdiri ke arah jendela.
Malvyn sedang berbicara kepada seseorang dan terlihat sangat marah. Selama tidak sadarkan diri, ia seperti mengalami mimpi buruk.
Bukan.
Ingatan Aisyah telah kembali. Ia juga teringat kejadian dimana dirinya ketika berada di rumah hantu.
Ia memejamkan mata kembali teringat seorang pria mengancam dirinya dan berakhir mendorongnya.
Saat ia mengingat kembali kejadian 8 tahun lalu. Setelah ini ia menjadi bingung harus berbuat apa. Jika saja ingatan nya tak kembali, bisa saja dengan mudah ia meminta agar Malvyn menceraikan nya demi keselamatan keluarganya.
Ya, pelaku yang mendorong Aisyah mengancam nya agar meninggalkan Malvyn. Jika tidak, keluarganya menjadi taruhan.
Ia tidak mengenali wajahnya karena orang itu memakai topeng tengkorak. Hanya suara yang dikenali Aisyah.
Aisyah mencengkeram perut nya yang terasa sakit. "Aku yang bodoh!" gumam nya dalam hati. Tanpa terasa air matanya menetes mengetahui apa yang telah terjadi padanya.
*
*
Beberapa saat lalu ketika Sania begitu panik mendapati Aisyah terjatuh dengan berlumuran darah keluar dari inti milik adik ya.
Sania dan dibantu salah satu pengunjung membawa Aisyah menuju Rumah Sakit terdekat.
Sania sudah meneteskan air mata sedari tadi karena sangat khawatir dengan keadaan Aisyah apalagi melihat darah segar terus mengalir dari pangkal pahaa sang adik.
Gambaran-gambaran buruk sudah bersemayam dikepala Sania dan hal terburuk adalah Aisyah mengalami keguguran.
Sebagai gadis 22 tahun tentu saja membuatnya menduga mengapa darah segar mengalir dari dalam sana.
Mobil yang di tumpangi Sania dan Aisyah baru saja sampai. Sania keluar dari mobil dan berlari masuk ke area Rumah Sakit.
"Dokter... Tolong adik saya!! suster tolong," Sania berteriak dan membuat beberapa perawat berlari membawa sebuah brankar.
"Terimakasih, bang. Terimakasih banyak," ungkap Sania kepada pemuda yang membantunya tadi.
"Sama-sama, kak. Kalau gitu saya pulang dulu," kata pemuda itu kemudian Sania berlari mengikuti para perawat membawa Aisyah.
"Mohon diisi data pasien dan administrasi nya, ya."
Sania mengangguk patyu kemudian berlari menuju resepsionis untuk memenuhi persyaratan rawat inap di Rumah Sakit ini.
"Kamar rawat inap nya mau kelas berapa?" tanya perawat yang bertugas di meja resepymalam ini.
"Kelas satu, kak. Tolong kasih perawatan terbaik. Saya akan menelepon suaminya agar segera datang," kata Sania merasa bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
Sania membuka tas selempang milik Aisyah dan mengambil ponsel milik sang adik. Ponsel itu terus berdering sedari tadi. Tetapi karena masih dalam keadaan panik, ia tak menggubris sama sekali.
Di pandang layar ponsel keluaran terbaru milik Aisyah. Tertera nama 'Suamiku❤️' disana. Ia pun segera mendial icon telepon genggam warna hijau disana.
"*Hallo, sayang! kamu kemana saja? aku telepon gak diangkat. Terus ngapain kamu di Rumah Sakit? siapa yang sakit? kamu baik-baik saja, kan? apa aku harus jemput kamu?" cecar Malvyn panik karena sudah lewat pukul 9 malam tetapi Aisyah belum juga sampai rumah.
Setelah melihat aplikasi pelacak, ponsel Aisyah berada di sebuah Rumah Sakit dan itu berhasil membuat Malvyn khawatir*.
Sania menggigit bibir bawahnya mendengar cecaran Malvyn yang sangat jelas bila suami dari adiknya itu mencintai Aisyah.
"Maaf,-" belum selesai Sania bicara sudah dipotong oleh Malvyn dengan suara yang sangat dingin.
"Kenapa ponsel istri saya ada di tangan anda?" Malvyn tidak suka milik nya disentuh orang tidak penting seperti Sania.
Sania menekan rasa sakitnya demi sang adik. "Maaf, tuan. Ais mengalami kecelakaan dan sekarang dibawa ke Rumah,-" belum selesai Sania menjelaskan, panggilan telepon itu sudah terputus.
Sania menatap ponsel milik Aisyah. "Yang ada aku naik darah kalau menikah dengan pria seperti suami Aisyah."
*
*
Benar dugaan Malvyn bila terjadi sesuatu dengan Aisyah. Malvyn mengambil jaket lalu memakainya. Tidak lupa mengambil tas ransel dan diisi dengan uang tunai juga memasukkan dokumen penting milik Aisyah.
Sekuat tenaga Malvyn mencoba tetap tenang walau hatinya sudah ketar-ketir memikirkan kemungkinan-kemungkinan hal buruk terjadi kepada Aisyah.
Setelah keperluan nya sudah selesai. Malvyn segera keluar kamar dan bertemu dengan kedua mertua nya.
Mami Adzilla dapat melihat mimik wajah Malvyn dan tidak baik-baik saja. "Ada apa? apa terjadi sesuatu, nak?" tanya mami Adzilla tak kalah lembut.
Malvyn menatap ibu mertuanya sekilas lalu mengangguk. "Ais kecelakaan saat berada di Pasar Malam. Aku harus segera ke Rumah Sakit," terangnya membuat papi Askar dan mami Adzilla terkejut.
"Mami ikut," kata Mami Adzilla begitu juga papi Askar. Kedua paruh baya itu segera berlari menuju kamar mengambil jaket, ponsel, dan uang yang dimasukkan ke dalam tas.
"Ayo," kata papi Askar menjinjing tas keperluan mereka.
Malvyn mengangguk kemudian menerima kunci mobil yang diberikan papi Askar. Diperjalanan, Malvyn tidak lagi memikirka. apapun selain ingin segera cepat sampai pada tujuan mereka.
Ketika sudah berada di Parkiran Rumah Sakit juga Malvyn segera berlari menuju ruang Unit Gawat Darurat.
Malvyn segera mendekati Sania yang sedang berdiri di depan ruangan tersebut dan disusul papi Askar juga mami Adzilla.
"Mengapa ini bisa terjadi kepada istri saya?" tanya Malvyn dingin dihadapan Sania.
Sania menjadi takut dengan tatapan Malvyn kepadanya. Beberapa hari ini ia memerhatikan bagaimana perlakuan Malvyn begitu lembut dan selalu menatap Aisyah penuh cinta.
Berbeda dengan sekarang yang menatapnya sangat dingin dan tajam. Pelan-pelan Sania menceritakan kejadian itu bermula.
__ADS_1
Rahang Malvyn mengeras serempak dengan kepalan tangan begitu erat. Ia merogoh kantung celana mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hancurkan tempat wahana itu, Rio. SEKARANG!!!"
Ucapan Malvyn mampu membuat tiga orang lain nya terkejut. Bahkan Mami Adzilla menjadi pias memikirkan bagaimana nasib mereka yang mencari nafkah disana.
"Nak Malvyn, apa ini enggak keterlaluan?" tanya mami Adzilla pelan karena takut bila menantunya merasa tersinggung.
Sementara papi Askar sedari tadi hanya diam merasa khawatir dengan putri bungsu nya sehingga tidak dapat membuatnya berbicara.
"Mereka sudah mencelakai istriku, mi. Itu hukuman yang setimpal untuk mereka."
Tidak ada bantahan dari mereka lagi karena sadar jika Malvyn lebih berhak atas hidup Aisyah.
Beberapa saat kemudian seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut. "Suami pasien?" tanya beliau.
"Saya, suaminya."
"Ikut saya, tuan."
Malvyn mengangguk lalu mengikuti langkah sang dokter. Diikuti papi Askar, mami Adzilla, dan Sania. Tetapi Sania tidak ikut masuk ke sana hanya mendengarkan lewat pintu yang tidak tertutup rapat.
"Maaf sekali saya harus mengatakan ini, tuan. Istri anda mengalami keguguran dan harus segera dilakukan kuretase," ungkap sang dokter membuat tubuh Malvyn membeku.
Pasalnya selama ini ia tidak pernah berpikir Aisyah akan secepat itu hamil. Tapi, benarkah tidak dapat diselamatkan?
"Dok. Apakah tidak bisa dipertahankan?" tanya Malvyn tanpa sadar meneteskan air mata.
Sang dokter menggeleng lemah. "Maaf, tuan. Pendarahan yang di alami istri anda sangat banyak dan tidak dapat diselamatkan," terang nya lagi.
Malvyn menangkup wajahnya karena tak dapat membendung kesedihan nya. Siapa yang tidak bersedih ketika diberi kenyataan sepahit ini?
Sudah sangat ingin memiliki anak namun mereka akan berpisah setelah baru saja diketahui apa yang mereka ingin kan seharusnya segera hadir justru tidak dapat diselamatkan.
Dibalik pintu, Sania menutup mulutnya karena terkejut mendengar itu. Berarti dugaan nya benar bila terjadi sesuatu dengan perut Aisyah.
Beberapa jam kemudian setelah Aisyah di kuretase dan dipindahkan ke ruang rawat inap .
Seketika rasa bersalah menyeruak dihati Sania. Ia pun segera menuju ke ruang rawat inap Aisyah selepas Malvyn keluar dari sana.
Sania duduk di samping brankar Aisyah dan melihat wajah pucat adiknya itu. Digenggam tangan itu yang terbebas dari infus.
"Maafin kakak yang gak bisa jaga kamu, dek. Maaf karena kakak lalai jaga kamu buat kalian kehilangan calon anak kalian. Maaf," ucap Sania kemudian mengusap air matanya yang sudah menetes.
"Setelah ini kakak enggak akan lagi ganggu hubungan kalian. Kakak janji," ungkapnya lagi kemudian berdiri dan mengecup dahi Aisyah. Setelah itu ia pergi dari ruangan tersebut.
Sepeninggalan Sania, Aisyah membuka mata dan air matanya sudah menetes. Ia meraba perutnya yang rata dan terasa sakit, kini.
__ADS_1
Aisyah mengingat terakhir masih meminum pil pencegah kehamilan itu saat sebelum kabur dari rumah selama seminggu bersama Gio.
Aku hamil dan keguguran?