Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 77


__ADS_3



"Sudah. Kalian hanya beberapa jam gak bertemu!" Malvyn merangkul lengan Aisyah karena istri dan kedua pengawal itu sedang melakukan salam perpisahan yang sangat dramatis baginya.


Tentu saja itu membuat Malvyn cemburu. Andai saja Aisyah tahu jika John dan Johan selalu mendapat hukuman darinya ketika istrinya itu membicarakan mereka, tentu istrinya akan menyembunyikan keakraban mereka.


Aisyah menunduk tatkala mereka telah memasuki Lobby. Banyak pasang mata mengarah kearah mereka.


Baik Malvyn maupun Mario menatap tajam setiap tatapan para pegawai yang melihat kearah mereka.


Sebenarnya, Malvyn dan Mario ingin memberi pelajaran dan mengakhiri pertikaian ini dengan Jesica. Tetapi, wanita itu pergi entah kemana bagai di telan bumi, begitu juga dengan Jerolin.


Aisyah melihat apa yang ada di Kantor Malvyn. Sebagai orang kampung, tentu saja berada di gedung menjulang tinggi dan sangat megah. Dinding-dinding kaca menambah kemewahan setiap ruangan itu.

__ADS_1


Ketika Aisyah dan Malvyn baru saja masuk ke dalam ruang kerja Presdir, Aisyah takjub atas interior ruang tersebut.


"Warna gelap lebih mendominasi. Apa gak banyak nyamuk?" tanya Aisyah seraya mendudukkan bobot tubuhnya di sofa panjang yang terdapat di salah satu sudut ruangan. Tak lupa membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya sejak tadi.


Malvyn terkekeh mendengar pertanyaan Aisyah. Ia pun duduk di sebelah kanan Aisyah lalu memeluk disertai kecupan di dahi. "Kamu lucu banget, gemes, dan buat hati ku gak bisa berpaling dari kamu dari dulu. Aku cinta kamu," kata nya mengakui perasaan nya setiap hari tanpa dapat dihitung oleh Aisyah.


Aisyah mengangguk kecil kemudian membalas pelukan Malvyn. Rasanya pelukan pria yang bergelar sebagai suaminya ini adalah tempat ternyaman disetiap kali ia kehilangan arah.


Cukup lama keduanya saling berpelukan sehingga Aisyah mendorong pelan dada bidang Malvyn. "Kamu kerja, sana."


Malvyn terkekeh seraya mengurai pelukan. Dikecup bibir Aisyah berulang kali hingga membuat sang empu tertawa geli, apalagi kecupan itu sudah turun hingga ke leher.


Apalagi Malvyn menggelitik perut, pinggang, dan bagian tubuh Aisyah lain nya yang menimbulkan sensasi geli.


"Ampun, Vyn."

__ADS_1


Tetapi Malvyn belum ingin menyudahi permainan ini karena ia begitu senang melihat Aisyah tertawa lagi. Ia sangat merindukan Aisyah yang periang dan selalu membuat ulah hingga membuatnya pusing karena tingkah laku istrinya.


"Teruslah ceria begini, sayang. Aku sangat merindukan kamu yang begini. Jangan sedih-sedih lagi," kata Malvyn serius. Tepat ketika posisinya mengukung Aisyah di sofa tersebut.


Aisyah hanya mengangguk lemah karena di dasar hatinya sangat takut jika sendirian senjak kejadian perudungan tersebut.


"Aku mulai kerja dulu, ya. Sebentar lagi John dan Johan akan datang membawa cemilan," kata Malvyn mengecup dahi Aisyah. "Saat mereka datang, aku pergi rapat, gak apa-apa kan?" izin nya karena memang pagi ini sedikit sibuk hingga sebelum waktunya makan siang.


Aisyah tersenyum, dalam hatinya bersyukur Malvyn begitu mencintainya. "Iya. Kamu kerja sana. Aku pinjam ponsel kamu, ya. Mau nonton," kata Aisyah dan di turuti oleh Malvyn.


Malvyn bergegas memberi ponselnya yang disimpan di saku jas nya. Kemudian ia bangkit, berjalan menuju meja kerjanya dan bergegas memulai pekerjaan.


Aisyah sendiri tidak langsung memainkan ponsel Malvyn karena memandang suaminya yang tampak sangat tampan berkali-kali lipat karena sedang fokus pada pekerjaan.


Aisyah bangkit berjalan perlahan memerhatikan ruangan Malvyn hingga ada sebuah lemari kaca tidak terlalu besar berisi piala penghargaan beserta foto-foto keluarga. Senyuman nya terbit ketika melihat satu foto Malvyn yang masih muda berfoto dengan gadis kecil. Posisi Malvyn berjongkok dan gadis kecil yang tak lain merupakan dirinya dirangkul oleh pria muda yang sekarang ialah suaminya.

__ADS_1


Aisyah ingat foto itu di ambil oleh Mario saat keduanya akan kembali ke ibu kota. Ternyata kami sudah backstreet dari dulu, gumam Aisyah menunduk malu dengan pipi bersemu merah. Padahal tidak ada yang melihatnya.


Haruskah aku berjuang?


__ADS_2