
"Jangan memarahiku, Vyn. Ini semua gara-gara kamu," kelakar Aisyah saat Malvyn memutar tubuhnya agar dapat melihat luka cakaran dari kuku panjang milik pramuniaga itu.
Malvyn mengerutkan dahi. "Kenapa kamu menyalahkan aku?" ia bingung, amarah yang ditahan sejak tadi kembali tersulut.
Aisyah mencebik mendengar pertanyaan Malvyn seakan tidak terima dengan apa yang dikatakan sebelumnya.
"Awalnya aku itu kesel sama kamu yang gak ada kabar sama sekali, padahal aku masih marah sama kamu. Jadi ya aku tegur itu orang karena muka nya jutek banget dan ngehina aku makan di restoran tapi beli makanan yang paling murah. Aku gak terima dong. Eh, dia nya jambak rambut aku. Ya aku balas.Tapi tetap saja aku yang kalah karena badan diablebih gede," cerocos Aisyah tanpa tahu bila Malvyn sudah menahan amarahnya mendengar ada orang lain yang berani menyentuh istrinya.
Malvyn langsung mengurai rambut Aisyah dan melihat luka bekas cakaran pramuniaga tersebut.
"Apa masih sakit?" tanya Malvyn menekan amarahnya.
Aisyah menggeleng dan membiarkan Malvyn meniup bekas luka itu hingga menimbulkan geli. "Hanya perih sedikit. Gak perlu khawatir," tuturnya.
"Apa kamu mau aku membalas dia?" tanya Malvyn yang sebenarnya tanpa meminta izin juga sudah membalas perbuatan wanita itu terhadap istrinya.
Aisyah langsung menggeleng lemah. "Gak perlu, suamiku. Aku hany gak suka dia memandangku rendah. Seharusnya siapapun yang pesan dan mau pesan apapun harus dilayani dengan baik. Bukan seperti tadi," ungkapnya tulus dan membuat Malvyn merasa bangga.
Malvyn mengelus rambut Aisyah dan membiarkan istrinya itu bercerita sesuka hati. "Terus kenapa kamu gak beli sepuas kamu saja?"
"Kirain sisa uang jajan aku cukup tanpa pakai kartu yang kamu kasih. Eh, ternyata enggak."
Malvyn menghela nafas panjang. "Baiklah. Maafin aku yang kurang peka, ya. Aku bakal belajar untuk itu," seharian ia juga merasa tidak tenang karena sedang marahan dengan Aisyah.
Seharian ini ia beristirahat karena tidak tidur semalaman menunggu pintu kamar dibuka Aisyah. Betapa khawatirnya ia mendapat kabar dari Mario jika Aisyah mendapat perlakuan tidak menyenangkan di Restoran Tante Alice.
Setelah mendapat kabar dari Mario, Malvyn segera pulang dan tidak terima dengan hal ini.
Aisyah menatap Malvyndengan intens. "Makasih. Dan maafin aku yang kekanak-kanakan ini," ungkapnya.
Malvyn tersenyum seraya merapikan anak rambut Aisyah yang menghalangi pandangan mata istrinya itu. "Jadi, sudah nggak marah?"
Aisyah ditanya seperti itu langsung membuang muka karena gengsi untuk mengakuinya.
Malvyn menahan senyum melihat tingkah Aisyah yang menggemaskan. "Masih marah?" tanyanya lagi membuat Aisyah mencebik bibir saja seraya melipat kedua tangan di dada.
__ADS_1
"Padahal tadi mau aku peluk loh," goda Malvyn langsung membuat Aisyah menoleh kearahnya.
"Ya sudah kalau mau peluk," cicitnya tetapi masih memasang wajah cemberutnya.
Malvyn melipat bibirnya menahan tawa karena sudah amat gemas dengan tingkah Aisyah. "Tapi kamu marah. Nggak jadi deh, peluknya."
Aisyah menatap Malvyn sebal kemudian mencebik. "Ya sudah, aku gak marah!" cicitnya membuat Malvyn tersenyum puas.
"Kamu ngomong apa? nggak kedengeran," goda Malvyn lagi semakin membuat Aisyah sebal.
"Aku nggak marah," cicit Aisyah lagi karena masih gengsi untuk mengakui.
Malvyn tersenyum seraya merentangkan kedua tangan, mempersilahkan Aisyah agar memeluknya.
Senyuman terbit diwajah Aisyah kemudian menubruk tubuh Malvyn dan memeluk suaminya dengan erat.
Sekarang ia mengerti, apa yang membuatnya tidak tenang semalaman karena tidur tidak dalam pelukan Malvyn.
Ia tidak tahu apakah ini cinta atau karena sudah terbiasa hidup bersama dengan Malvyn.
"Aku nggak bisa tidur tadi malam," Aisyah mengakui apa yang dirasakan nya.
Malvyn mengeratkan pelukan seraya memejamkan mata menikmati kehangatan yang tercipta. Ia tahu jika Aisyah belum paham apa itu arti cinta.
Tapi, bukankah di suatu hubungan harus di dasari dengan kenyamanan?
Karena adanya kenyamanan maka akan datang rasa percaya dan saling menjaga perasaan satu sama lain.
"Tetaplah bersamaku, Ais. Jangan pernah berubah dan jangan pernah pergi meninggalkan aku," tutur Malvyn jujur karena akan terjadi sesuatu di kemudian hari.
Aisyah mengangguk dalam pelukan Malvyn. "Kamu jangan marah-marah terus, ya. Aku akan berusaha keras untuk menjadi istri yang baik dan penurut. Dan satu lagi, aku janji akan belajar dengan giat agar nilai kuliah ku naik jadi bagus, nggak cukup saja."
Malvyn sedikit melonggarkan pelukan lalu menunduk menatap Aisyah yang juga tengah menatapnya dengan memamerkan deretan gigi putih yang rapi itu.
"Jangan dipaksa. Maaf kalau semalam aku marah karena nilai kamu hanya cukup begitu. Yang terpenting kamu selalu bersama ku, Ais. Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu."
__ADS_1
Aisyah mengerjap mata berkali-kali mendengar ungkapan cinta dari Malvyn. "Waktu 4 bulan bersamaku apa sudah membuat kamu mencintaiku?"
Malvyn tersenyum seraya membelai pipi Aisyah dengan lembut. "Jauh sebelum itu, sayang. Dari pertama kali kita bertemu sebelum kamu pecahin kaca mobil kesayangan aku," tuturnya mulai terbuka dengan perasaan nya.
Aisyah terkekeh mengingat kejadian pertama kali mereka bertemu. "Waktu itu muka kamu sangat menyeramkan. Aku takut," akui nya yang memang tak bisa menyembunyikan apa yang dirasakan nya.
"Benarkah?"
Aisyah mengangguk kemudian mengeratkan pelukan disertai senyuman manisnya. Dan perlakuan nya membuat Malvyn merasa bahagia.
"Apa kamu nggak ingat aku? kita sudah bertemu 8 tahun lalu," ucap Malvyn membuat Aisyah melonggarkan pelukan dan menatapnya dalam.
Aisyah menunduk dengan menyentuh kepalanya disertai ringisan karena terasa sakit saat ia mencoba mengingat Malvyn dan memutar memori 8 tahun lalu.
"Jangan dipaksa kalau kamu gak ingat, sayang. Yang terpenting kamu baik-baik saja," ucap Malvyn memeluk sembara mengelus kepala Aisyah. Tapi, dibalik sikap lembutnya, ia menyimpan sejuta amarah untuk Jesica dan kakak laki-laki wanita itu.
"Sudah baikan?" tanya Malvyn menekan amarahnya.
Aisyah tersenyum dan mengangguk. Ia pasrah ketika tubuhnya direbahkan di atas tempat tidur.
"Hei.. Jangan tidur," pekik Malvyn ketika Aisyah memejamkan mata.
"Jadi? bukan nya kamu suruh aku rebahan karena mau tidur?"
Malvyn tertawa mendengar pertanyaan Aisyah yang begitu polos. "Kita harus buat anak, sayang. Kita sudah melewatkan satu malam karena kamu ngambek dan aku disuruh tidur di luar," kelakar nya membuat Aisyah melebarkan mata.
"Masih siang, Vyn. Nanti malam," tolaknya menyilangkan kedua tangan.
"Nanti malam kamu bebas, sayang. Aku gak akan minta lagi," ungkap Malvyn tentu saja berbohong. Mana mau ia angguri Aisyah begitu saja.
Tetapi agaknya Aisyah benar-benar tidak ingin sehingga membuat Malvyn menggelitik pinggang, perut, telapak kaki membuat keduanya tertawa lepas di atas tempat tidur.
"Iya-iya ampun, Vyn. Oke, aku kalah!" katanya dengan nafas tersengal.
Malvyn bersorak menang dan segera mengeksekusi istri kecilnya itu.
__ADS_1