Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 120


__ADS_3

"Sial!!" umpat Jerolin kemudian masuk ke dalam mobil setelah pintu dibuka oleh Nick, asisten sekaligus orang kepercayaan nya.


"Kita harus ke rumah sakit, tuan." Tampak Nick khawatir melihat lengan atas Jerolin terluka.


Saat menemui klien di klub, musuh klan nya berhasil melukai nya. Biasa nya mereka akan sigap. Namun, seperti nya malam ini sedikit lengah.


"Antar aku ke Apartemen saja, Nick. Ais sedang menungguku," kata Jerolin lemah disertai ringisan merasakan sakit di lengan nya.


"Tapi luka anda harus segera di obati, tuan."


"Antar aku pulang, Nick." Jerolin mengatakan dengan tegas dan Nick hanya dapat menurut saja.


Benar.


Aisyah sedang menunggu nya karena ingin membuat salad buah, stok di lemari pendingin sudah habis. Memang, ibu hamil itu ingin membuat sendiri. Hanya saja, dirinya yang khawatir dengan perut sudah membesar dan akan menggunakan senjata tajam. Kekhawatiran Jerolin sangat sebesar itu.


Jerolin membuka kemeja yang terkena noda merah. Di pakai kemeja bersih yang selalu tersedia di jok belakang secara perlahan. Umpatan terus terucap ketika kesulitan mengenakan kemeja tersebut.


Beberapa saat kemudian mobil mereka telah sampai di basement Apartemen. Jerolin keluar dari mobil setelah pintu di buka oleh Nick.


Jerolin tidak langsung menuju apartemen Aisyah, ia masuk ke dalam Apartemen nya lebih dulu untuk mengobati luka nya sendiri. Diambil kotak p3k yang tersimpan di dapur lalu duduk kembali di depan televisi.


Lagi-lagi Jerolin berdecak ketika hendak membuka kemeja nya. "Kalau begini, mending tadi gak perlu pakai baju. Hais... Kenapa harus seceroboh ini," gerutu nya kemudian meringis merasakan sakit akibat luka sayatan tersebut.


"Sshh.." Ringis nya ketika membersihkan luka dengan saline. Setelah itu diberi Betadine dan di bungkus dengan perban. Ia tak ingin Aisyah menunggu dirinya terlalu lama.


Setelah mengobati luka ala kadarnya, Jerolin ke luar Apartemen dan gegas menuju Apartemen Aisyah. Memencet bel setelah sudah berada di depan pintu itu. Berusaha menampakkan senyuman meski rasa sakit itu mulai menjalar pada tubuhnya.


Ah, dia melupakan obat yang seharusnya diminum.


"Kamu lama. Anak kamu sudah gak sabar," cerocos Aisyah ketika baru saja membuka pintu.

__ADS_1


Jerolin tercengang sesaat mendengar itu. Seketika senyumnya merekah saat Aisyah mengatakan jika kandungan itu anak dirinya. Apa wanita itu lupa jika Malvyn lah yang menanam benih itu.


"Maaf. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, Mom. Ayo kita buat salad buah nya."


Keduanya masuk ke dalam dapur. Beberapa macam buah sudah ada disana dan bahan membuat saus.


Jerolin tersenyum mengikuti langkah Aisyah lalu duduk saling berhadapan. Seperti biasa, Aisyah akan membuat saus. Sementara dirinya mengupas dan memotong buah.


Tapi agaknya, sebab luka tersebut membuat pergerakan nya terbatas. Berulang kali diri nya menahan ringisan agar tidak terdengar oleh Aisyah.


Aisyah menghentikan gerakan tangan yang mengaduk saus itu karena melihat Jerolin sepertienahan sakit. "Om kenapa?" ia bangkit mendekati Jerolin. Saat tangan nya tak sengaja menyentuh lengan atas pria itu justru mengerang sakit, sontak membuat nya terkejut dan mundur selangkah hingga membuat tubuhnya terhuyung.


Beruntung tangan kanan yang bebas dari luka dapat menangkap tubuh Aisyah. "Hati-hati, Ais. Boleh khawatir, tapi ingat diri kamu. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa," ungkap Jerolin membuat Aisyah mengangguk lemah.


Aisyah tidak menjawab. Ia masih mematung memahami keadaan yang terjadi. "Ma-makasih," ungkapnya. Selanjutnya ia menyadari, memutari Jerolin dan membuka kancing kemeja pria itu tanpa izin.


"Maaf. Aku sudah curiga ada sesuatu yang kamu sembunyikan," terang Aisyah menyadari kesalahan nya. Sementara Jerolin diam menahan nafas diperlakukan seperti itu kepada Aisyah.


"Hanya luka kecil. Hei... Jangan takut, aku gak apa-apa. Besok pasti sembuh," kata Jerolin menenangkan Aisyah. Apalagi melihat tangan ibu hamil itu gemetar seperti itu.


Aisyah menarik nafas pelan disertai pejaman mata. "Kita ke rumah Sakit, ya."


Jerolin menggeleng cepat. "Aku gak apa-apa. Ayo kita buat salad lagi," ajaknya membuat Aisyah berdecak.


"Salad nya bisa buat lagi setelah kamu di obati. Aku gak mengerti tentang medis, kita ke Rumah Sakit, ya." Aisyah membujuk Jerolin, tapi agaknya mulai mengerti bila pria di hadapan nya yang tengah duduk itu cukup keras kepala dan bertahan dalam pendirian nya.


"Aku sudah gak sakit lagi, Ais. Percayalah," kata Jerolin tegas.


"Oh, ya?" pekik Aisyah kemudian memukul lengan Jerolin yang terluka pelan.


Jerolin mengerang keras kesakitan hingga Aisyah terlonjak kaget. Usai itu, berdecak kesal. "Masih bilang gak sakit? gimana mau jadi Papi kalau begini?" cerocos Aisyah cemberut lucu justru membuat jantung Jerolin berdebar tak beraturan.

__ADS_1


Jerolin berdehem mengurangi kegugupan. "Ya sudah, kita ke Rumah Sakit. Aku telepon Asisten ku dulu," terang nya lalu mengambil ponsel.


Aisyah yang terlanjur khawatir dan merasa pergerakan Jerolin terlalu lambat. "Sini, aku saja yang telepon."


"Ehh.. Itu sudah tersambung, Ais."


Aisyah melihat ponsel itu dan sudah terhubung dengan Nick. Gegas di tempelkan poselnitu ke telinga. "Halo, Om Nick. Segera ke Apartemen Ais, ya. Cepat gak pake lama, Bos kamu harus di bawa ke Rumah Sakit." Aisyah tak mendengar jawaban dari Nick karena sudah ia putuskan sambungan telepon tersebut.


Aisyah menatap gambar wallpaper ponsel Jerolin. Foto dirinya sedang bermain ponsel sambil menikmati es krim. Sejenak ia menatap gambar itu lalu di kembalikan kepada sang empu. "Aku cantikkan?"


Jerolin salah tingkah telah tertangkap basah oleh Aisyah. Malu hingga lidah nya kelu tak dapat mengelak.


"Kalau mau foto aku bilang-bilang. Jadi aku bisa bergaya dulu," Aisyah tergelak sambil berjalan memasuki kamar berganti pakaian karena hendak pergi keluar.


Jerolin memejamkan mata tak dapat membendung rasa malu nya. "Hais.. Mengapa begini?"


***


Di seberang telepon Nick yang baru saja sampai Apartemen, membersihkan diri, dan telah berganti piyama gegas pergi. Apalagi ia sudah mengetahui bila Aisyah adalah wanita yang dicintai bos nya.


Ia terkekeh sendiri membayangkan bagaimana Jerolin menjadi penurut oleh seorang wanita. Sebab, 15 tahun bekerja menjadi kaki tangan pria itu tak pernah sedikitpun takluk. Apalagi mengingat sejak awal terluka, ia sudah membujuk Jerolin agar ke Rumah Sakit karena luka tersebut cukup dalam dan butuh perawatan intensif.


Beberapa saat kemudian, mobil nya telah sampai dan langsung menuju apartemen Aisyah. Sebelumnya, ia pernah mengantar Jerolin sampai depan pintu saja. Tombol bel terus ia tekan hingga tampak Jerolin membuka pintu dengan wajah masam. Sementara dirinya menahan senyum.


"Berhenti mengejekku, Nick." Sentak Jerolin membuat Nick menunduk.


"Tidak, tuan."


"Ayo kita pergi," Aisyah keluar kamar membuat dua pria ituenoleh ke sumber suara.


Pantas saja.

__ADS_1


__ADS_2