Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 41


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Aisyah menyembunyikan wajah di dada Malvyn karena terlalu malu berada di pangkuan suaminya di hadapan John dan Johan.


"Kenapa diam, hm?" tanya Malvyn karena biasanya Aisyah akan banyak bicara bila sedang bersamanya.


"Aku malu," jawab Aisyah tanpa menunjukkan wajahnya.


"Pembatas sudah aku pasang, kamu gak perlu khawatir!" terang Malvyn membuat Aisyah memberanikan diri duduk tegak dan melihat pembatas antara kursi depan dan kursi penumpang telah tertutup.


"Aku turun, ya?" tanya Aisyah tetapi Malvyn langsung menggeleng cepat.


"Tetaplah disini," kata Malvyn dan Aisyah hanya menurut. Tidak ada yang membuka suara lagi karena pria itu menikmati suasana hening dengan Aisyah yang mendekapnya dan ia mengelus rambut istrinya itu.


Aisyah menegakkan tubuh nya ketika ponsel Malvyn yang berada di saku berdering dan pria itu berusaha mengambil bendah pipih tersebut tanpa menurunkannya lebih dahulu.


Aisyah tidak tahu siapa yang menghubungi Malvyn. Tetapi ia melihat pria itu hanya menatap ponsel nya yang berdering dengan wajah datar tanpa berniat menerima panggilan telepon tersebut.


Bukan hanya sekali, ponsel Malvyn berulang kali berdering hingga harus mematikan ponsel itu.


Sebenarnya Aisyah sangat penasaran siapa yang menghubungi Malvyn hingga pria itu tidak berniat menerima panggilan nya.


"Kenapa gak diangkat?" tanya Aisyah membuat Malvyn menatapnya juga.


"Orang gak penting. Jangan pikirkan orang lain. Fokuslah untuk rencana kita buat anak, sayang."


Aisyah hanya berdecak. "Aku gak punya pengalaman. Gimana mau fokus," kata nya jujur apa yang ada.


Malvyn mengelus pipi Aisyah kemudian mengecup bibir gadis itu. Rasanya sudah tidak sabar untuk menyatu bersama gadis yang dicintainya sejak dulu.


Memang Malvyn sudah menginginkan Aisyah sejak peristiwa dahulu. Tetapi beberapa tahun belakangan, kedekatan nya bersama Jesica membuatnya merelakan kebahagiaan Aisyah yang berada jauh disana.


Tetapi, takdir seakan sedang bermain dengan nya sehingga bertemu kembali dengan Aisyah.


"Aku akan mengajarimu sampai mahir memuaskan ku," kata Malvyn yakin membuat pipi Aisyah bersemu merah.


Sesampainya di basement apartemen, Malvyn dan Aisyah langsung menuju apartemen mereka tanpa John dan Johan.


"Ayo kita jajan, Han!" ajak John yang mulai kehilangan kendali.


"Ini masih sore, John."


John berdecak seraya mengacak rambutnya karena frustasi. "Aku manut saja."

__ADS_1


*


*


"Aku mau mandi dulu," kata Aisyah setelah mereka sudah berada di dalam kamar.


Malvyn hanya tersenyum tetapi mengikuti Aisyah masuk ke dalam kamar mandi. Ia memeluk istrinya dari belakang membuat Aisyah memekik.


"Ini aku," bisik Malvyn kemudian memberi kecupan di telinga, belakang teling, turun ke leher.


Sementara Aisyah hanya mampu memejamkan mata, memberikan akses bagi Malvyn yang sedang menikmati permukaan kulitnya. Tangannya mengepal karena merasa gugup untuk menjalani penyatuan yang tak akan lama lagi akan terjadi.


"Euungh.. Vyn," lenguh Aisyah.


Malvyn membalikkan badan Aisyah ke arahnya. Tanpa mengatakan apapun, ia membuka hoodie Aisyah kemudian mencumbu bibir istrinya itu lagi.


Setelah keadaan sama polos tanpa sehelai benang, Malvyn membawa Aisyah dan mengguyur kedua tubuh mereka di bawah shower. Lagi-lagi Malvyn menunjukkan kemahiran nya dalam menaklukkan tubuh seorang wanita.


Tetapi, semenjak menikahi Aisyah tidak pernah sekalipun Malvyn bercinta dengan wanita lain. Ia benar-benar menjelma menjadi pria sabar dan hari ini akan memanen hasil dari kesabaran nya.


Malvyn tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi. Ia gendong Aisyah bak bayi koala menuju kamar mereka.


Setelah puas memandangi, Malvyn mengulang pemanasan dengan lembut karena ingin menciptakan rasa nyaman untuk Aisyah.


"Keluarkan saja suaranya, sayang. Jangan ditahan," ungkap Malvyn mendengar desaah yang tertahan dari bibir Aisyah.


"Geli, suamiku. Kenapa kamu seperti anak bayi begitu? aaahhh, Vyn..!" racau Aisyah ketika Malvyn mulai menjilat, memilih, menghisap, menggigit kecil pucuk payuudara miliknya.


Bahkan tubuh Aisyah menggelinjang merasakan sensasi yang tidak dapat di ungkapkan oleh Aisyah karena baru pertama kali merasakan hal seperti ini.


"Vyn.. Aahh," Aisyah sudah tak karuan lagi ketika Malvyn mulai mengecup dan menjilati permukaan kulitnya. Ketika berada di perutnya, seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan disana.


Malvyn sendiri merasa semakin bergaiirah setiap kali Aisyah mendesaah menyebut namanya.


Malvyn membuka kedua paha Aisyah sehingga menampakkan dimana tempat pengasahan pedang nya disana. Berwarna putih ke merah-merahan yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang belum terlalu lebat.


"Vyn.. Aku malu," ungkap Aisyah hendak menutup kembali paha nya tetapi dihalangi Malvyn.


Malvyn menunduk mulai memainkan jemari dan lidahnya. Lagi-lagi merasa bangga kala Aisyah terus menyebut namanya.


"Vyn.. Aku mau pipis," cicit Aisyah menghalangi kepala Malvyn di bawah sana.

__ADS_1


"Keluarkan saja, sayang."


"Ta-tapi,-"


Belum sempat Aisyah mengatakan apapun, Malvyn sudah kembali bermain dibawah sana sehingga pelepasan pertama untuk Aisyah telah di dapatkan dan habis di hisap oleh Malvyn.


Malvyn tersenyum melihat Aisyah sedang memejamkan mata menikmati sisa-sisa pelepasan pertamanya.


"Kamu siap?" bisik Malvyn membuat Aisyah membuka matanya.


"Apa ini proses pembuatan anak kita?" tanya Aisyah polos membuat Malvyn terkekeh.


"Ya," Malvyn mengarahkan pedang kesaktian nya menujutempat pengasahan.


Masih ujung kepala pedang tetapi Aisyah sudah memekik kesakitan. "Sa-sakit."


Ternyata kamu masih gadis, Ais. Aku semakin mencintaimu.


"Tenang, ya. Ini hanya sebentar sakitnya. Setelah itu akan enak terus," Malvyn menenangkan Aisyah. Benar-benar bukan seperti seorang Malvyn sebelumnya.


Aisyah tidak terisak namun air matanya terus mengalir. "Benarkan hanya sebentar?" tanya Aisyah memastikan.


Ia sendiri tidak menyangka akan sesakit ini hanya untuk membuat anak, batinnya.


"Iya hanya sebentar," sahut Malvyn. Sebenarnya tidak tega melihat Aisyah kesakitan seperti ini, tetapi tidak mungkin menghentikan aksinya karena kepala pedang nya sudah masuk.


Perlahan Malvyn mendorong pinggulnya sehingga membuat Aisyah kembali memekik. Ia segera membungkam bibir Aisyah dengan bibirnya seraya mendorong pinggulnya secara perlahan.


Setelah sudah masuk sempurna, Malvyn mengecup seluruh wajah Aisyah dan membiarkan istrinya tenang lebih dahulu.


Malvyn menggerakkan pinggulnya secara perlahan hingga nafas keduanya kembali cepat seirama dengan gerakan pinggul itu.


Aisyah yang awalnya tampak malu-malu kini menjadi merespon setiap gerakan Malvyn. Punggung yang banyak terluka akibat cengkraman dari Aisyah sudah tak terasa lagi. Seprei yang awalnya rapi sudah tidak terbentuk lagi.


Malvyn begitu menikmati permainan nya bersama Aisyah. Ia merasa bangga dan merasa gagah karena dapat memimpin permainan ini.


Apalagi mendapati Aisyah yang selalu menurut setiap fantasi liar Malvyn muncul ditengah permainan.


Bukan hanya sekali pelepasan Malvyn melakukan nya berkali-kali karena memang senikmat itu menyatu dengan Aisyah.


Sementara Aisyah hanya mampu menerima dan pasrah menjadi tempat Malvyn mencurahkan cairan masa depan dirahimnya.

__ADS_1


__ADS_2