
"Gimana nyonya? jadi buat anaknya?" tanya John selalu ingin tahu dengan kehidupan majikan nya.
Bukan karena ketertarikan yang negatif. Ini karena John sangat menyayangi Aisyah seperti anak nya sendiri karena nyonya muda nya itu sangat polos dan tulus.
"Jadi, pak. Sakit," cicit Aisyah membuat John dan Johan tertawa.
"Berhentilah bertanya mengenai itu, John. Kau ini! sudah tua tapi kepo," tegur Johan tak habis pikir dengan apa yang ditanyakan John, ditambah Aisyah yang begitu lugu menjawab nya.
John terkekeh disertai menggaruk kepalanya karena sadar jika sudah melewati batas. "Oke gak lagi," katanya dan mempersilahkan Aisyah untuk masuk ke dalam kelas, sementara mereka menunggu di kafe yang tidak jauh dari kampus itu.
Di dalam kelas, Aisyah menahan nyeri dibagian intinya karena masih merasa tidak nyaman atas proses pembuatan anak.
Untung enak! gerutu Aisyah dalam hati seraya berjalan perlahan.
"Woy, Ais! Kenapa jalan kamu begitu? kayak habis pecah peraawan saja," Meta tergelak atas ucapan nya membuat Aisyah membeku.
Aisyah menelan saliva kemudian melangkah cepat segera duduk di kuslrsinya dengan menggigit bibir bawahnya menahan nyeri.
"Apaan sih, Ya! ngaco kamu!" kilah Aisyah tidak mungkin memberitahukan apa yang terjadi dengan nya.
Meta mencebik kemudian duduk ke arah Aisyah. "Yaelah, Ais. Bercanda!"
Aisyah mencoba tersenyum disertai anggukan karena mengerti bila Meta hanya bercanda.
"Ais. Menurut kamu, Gio gimana?" pancing Meta ingin tahu sejauh mana Aisyah menilai sepupunya.
"Kak Gio baik orangnya," sahut Aisyah sempat menjawab dan terhenti ketika dosen telah masuk.
*
*
Malvyn datang sangat terlambat hari ini. Tetapi tidak mengapa karena terpenting hidupnya sudah sempurna.
"Ada Tuan besar di dalam," ucap Mario setelah Malvyn tiba di depan ruangan nya.
Mata Malvyn terbuka lebar. "Ngapain Papi disini?" seketika dirinya menjadi panik.
"Ada Tuan Qenan juga," kata Mario tanpa menjawab pertanyaan dari Malvyn barusan.
__ADS_1
"Astaga," ucap Malvyn kemudian masuk ke dalam ruangan nya.
Ketika berada di dalam, Malvyn berdehem untuk menormalkan detak jantungnya. Jika hanya papi Edzard yang datang, Malvyn tidak akan setakut ini. Tetapi kali ini kedatangan opa Qenan tentu saja memiliki maksud penting.
"Ini dia, orang yang kita tunggu!" ucap papi Edzard membiarkan Malvyn duduk lebih dulu.
"Apa satu wanita saja nggak cukup bagimu, Malvyn?" tanya Opa Qenan yang sedari dulu selalu setia kepada istri tercintanya.
Tubuh Malvyn menegang tetapi detik berikutnya mengangguk. "Cukup, opa!" jawab nya tegas karena hanya Aisyah yang disentuhnya setelah menikah.
Mata Opa Qenan dan papi Edzard memicing menatap keturunan rudal Amerika itu. Mereka tampak ragu karena Malvyn sangat berbeda dengan mereka berdua.
"Apa buktinya? papi tahu kelakuan kamu di luar sana," ungkap papi Edzard.
Malvyn berdecak. "Sudah 4 bulan aku nggak bermain wanita, Pi. Jangan menuduhku begitu," bela nya karena menyesali kelakuan nya sebelum bertemu Aisyah kembali.
Opa Qenan menatap Malvyn begitu intens. "Lalu kamu kemana selama 4 bulan ini nggak pulang ke mansion utama kalau bukan bermain wanita?"
Lagi-lagi Malvyn menegang menerima pertanyaan dari opa Qenan. "Itu,-"
Malvyn tidak mampu melanjutkan ucapan nya karena belum siap untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Bukan karena takut keluarganya tidak menerima Aisyah.
Tetapi justru ia mengkhawatirkan Aisyah jika semua orang pada tahu tentang keadaan yang sebenarnya.
Ah, mengingat istri kecilnya seketika rindu itu menjalar pada tubuhnya.
Papi Edzard dan Opa Qenan saling pandang kemudian Manarik nafas panjang.
"Usia mu sudah hampir 28 tahun. Segeralah menikah!" ungkap papi Edzard karena tidak ingin anak nya terlalu lama terjun di dunia bebas.
Opa Qenan berdecak kemudian bersandar di sofa dengan merentangkan kedua tangan dan kaki bersilang. "Kalian memang lamban dalam urusan cinta. Aku di usia kalian sudah punya anak tiga," pria berusia 70 yang masih tampak gagah itu membanggakan diri dihadapan anak dan cucunya.
Papi Edzard mendengus kesal mendengarnya. "Ingat, Dad! Mungkin kalau bukan karena Daddy dan Mommy di grebek, pernikahan rahasia kalian gak akan pernah terjadi. Mungkin akan lebih lama dari kami," kelakar nya tidak mau kalah.
Malvyn hanya memerhatikan kedua pria satu keturunan saling adu argumen dan tidak mau kalah. Dari sini pula ka menyadari bila sifat tidak mau mengalah menurun padanya.
"Dan kamu jangan lupa, Ed! kamu telah menipu menantuku agar mau menikah denganmu, dasar kamu!!" ejek opa Qenan lagi.
Malvyn meringis mendengar perdebatan mereka. Ia tak menyangka awal kisah cinta Opa Qenan dan Papi Edzard tidak jauh berbeda dengan nya saat ini.
__ADS_1
Hanya saja, ia meyakini bila hidup Aisyah lebih berbahaya daripada Oma Nadira dan Mami Ivy saat pernikahan tersembunyi mereka telah diketahui.
Malvyn bangkit langsung dicegah oleh kedua pria itu. "Mau kemana?" sentak mereka hampir bersamaan membuat Malvyn terlonjak kaget.
"Aku butuh kopi untuk menyaksikan kalian berdebat," ungkap Malvyn kemudian meninggalkan kedua pria itu.
Malvyn pergi ke pantry untuk membuat kopi. Sebenarnya bisa saja minta dibuatkan oleh bahawahan nya. Tetapi butuh pasokan udara segar karena kehadiran dua pria di dalam ruangannya sangat membuatnya sesak.
*
*
"Jesica terus menghubungi ku, Vyn. Kapan kamu akan menemuinya? jangan membuat curiga," terang Mario setelah Opa Qenan dan Papi Edzard telah pergi.
Keduanya baru saja selesai rapat dan sedang memeriksa hasil rapat barusan di ruang kerja Malvyn.
Malvyn menghela nafas panjang. "Aku nggak tahu," ungkapnya.
"Jangan sampai Jesica mencari tahu penyebab kamu berubah karena Aisyah telah bersamamu, Vyn. Ingat! Jesica ada karena kamu ingin melindungi Aisyah, bukan? jika sudah begini kamu harus meminimalisir pertemuan mu dengan Aisyah di luar Apartemen," Mario memberi peringatan kepada Malvyn yang sedari tadi hanya diam saja.
Malvyn menghela nafas panjang. "Baiklah!"
*
*
"Pak Johan. Bapak apa nggak kangen sama istri dan anak bapak?" tanya Aisyah kepada Johan yang baru saja selesai memasakkan mie instan untuk nya.
Aisyah bersama kedua pengawalnya sedang berada di dapur apartemen. Aisyah meminta kedua pengawalnya masuk karena ia kelaparan dan bibi Lala sudah pulang.
Johan tersenyum. "Saya lajang, nyonya muda. Belum pernah menikah!" ungkapnya jujur membuat Aisyah terbelalak.
"Omo.. Sugar daddy begini belum pernah menikah?" tanya nya kemudian menatap John seakan bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Kalau saya dua kali menikah dan sekarang duda," sahut John seraya meletakkan segelas susu cokelat untuk Aisyah.
Percayalah. Perhatian yang diberikan John dan Johan akan terlihat bila tidak ada Malvyn karena mereka tidak akan berani melakukan itu.
"Kenapa kalian memilih lajang?" tanya Aisyah bingung.
__ADS_1
"Karena belum ada yang cocok!" jawab Johan.
"Karena punya istri ribet kalau gak sesuai dengan yang kita mau," jawab John.