Penjara Cinta Tuan Malvyn

Penjara Cinta Tuan Malvyn
Bab 97


__ADS_3

Malvyn berdiri masih menatap surat gugatan cerai dari Aisyah. Tangan nya gemetar dan matanya memanas membaca isi surat ini. Terlihat jelas alasan menggugat ialah perselingkuhan antara dirinya dan Jesica.


Ia tahu hal terburuk yang akan terjadi pasti seperti ini. Tetapi, bukan berarti bercerai pikirnya. Malvyn tidak menginginkan Jesica, ia hanya ingin menyelamatkan anak yang dikandung wanita itu.


Malvyn melangkah keluar ruang perawatan Oma Nadira dengan tubuh terasa melayang. Seakan kehilangan separuh jiwa nya.


Cinta nya.


Semangat hidupnya.


Telah pergi.


Atas kebodohan dirinya sendiri.


Malvyn menyembunyikan wajah di depan stir mobilnya. Punggungnya tampak bergetar lantaran sedang menangis, rasanya tak sanggup bila harus berpisah dengan Aisyah.


Beberapa Minggu ini berusaha mencoba mencari keberadaan Aisyah, sekuat tenaga menenangkan hati sendiri dan menanamkan salah hati bila Aisyah hanya menenangkan diri. Tetapi, ketakutan nya telah menjadi nyata. Aisyah telah pergi.


****


"Ngapain kamu masih disini?" tanya mami Ivy dingin menatap Jesica yang masih berdiri di ruang perawatan Oma Nadira.


"Mi. Aku sedang mengandung anak Malvyn," katanya lirih. Jesica merasa mami Ivy telah berubah sikap kepadanya semenjak kehadiran Aisyah.


Tangan nya terkepal mengingat Aisyah yang sudah pergi tapi masih saja yang membela nya.


Semua orang menatap Jesica dengan tajam.


"Sudah saya ucapkan tidak menerima cucu di luar nikah," tekan opa Qenan.


Mendengar ucapan opa Qenan membuat tangan Jesica terkepal erat. Rasanya sangat sakit diperlakukan seperti ini oleh orang-, orang itu. Ia pun meninggalkan ruang perawat itu dengan emosi yang membuncah.


Di tengah langkahnya, Jesica menghubungi seseorang. "Lenyapkan bayi itu. Bila perlu lenyapkan ibunya juga!!!"


****


"Aku akan merindukan kalian," gumam Aisyah masih dalam pelukan John.

__ADS_1


"Kalau begitu, tetaplah disini."


Aisyah mengurai pelukan menatap kedua pengawalnya secara bergantian. Gelengan kepala pun terlihat, mana mungkin ia tetap disini melihat kebersamaan Malvyn dan Jesica.


"Jangan aneh-aneh," kata Aisyah cemberut.


John mengacak rambut Aisyah dengan gemas. "Baiklah. Hati-hati selama disana."


Aisyah mengangguk lalu berjalan menjauhi keduanya karena memang harus segera pergi. Tangan nya terus melambai kepada kedua pengawal itu bersamaan dengan air matanya nya yang menetes.


BRUK


Johan melihat Aisyah di tabrak seseorang langsung mengejar orang itu. Sementara John mendekati Aisyah.


"Nyonya!!!" pekik John khawatir.


"Ku mohon jangan lagi, Ais!!"


****


Johan terus mengejar orang yang menabrak Aisyah tadi. Dari penampilan orang tersebut dengan berpenampilan serba hitam, masker, dan topi membuatnya yakin bila kejadian tadi disengaja.


Orang misterius itu selalu mengelak setiap kali Johan hendak meraih masker itu.


"Sial!!" umpat Johan merasa kesal.


"Kau!!" pekik Johan ketika dapat membuka masker tersebut melihat orang itu ialah anak buah Jesica.


"Tolong jangan bunuh saya. Saya hanya diperintahkan oleh Nyonya Jesica."


"Apa yang diperintahkan wanita itu?" tanya Johan dingin.


"Saya disuruh melenyapkan bayi yang dikandung wanita itu atau melenyapkannya," kata pria itu dengan lemah.


Amarahnya memuncak hingga memberi bogeman yang membuat orang itu terkulai lemas di lantai. Tanpa mengatakan apapun lagi, Johan mengeluarkan senjata api yang selalu dibawa nya kemana-mana.


DOR

__ADS_1


DOR


DOR


Tiga tembakan tepat di kepala, dada, dan ******** pria itu. Tetapi agaknya Johan belum puas melakukan itu. Ia mengambil ponsel di saku menghubungi seseorang.


"Urus mayat di basement Bandara. Aku akan pergi," katanya kemudian kembali berjalan menyusul Aisyah dan John.


Ia menduga bila kotak hadiah dari Aisyah yang menemukan bukan Malvyn melainkan Jesica.


"Dasar bodoh!!" umpat Johan kepada Malvyn yang membiarkan wanita lain masuk ke dalam kamar pribadi.


"Aku akan membalasmu, Jesica!"


****


Aisyah menarik nafas dalam-dalam merasa syok atas kejadian itu. Dirinya belum sekuat itu menghadapi bahaya yang akan mengelilingi nya jika terus berada di sekitar kehidupan Malvyn.


Dapat dilihat tatapan pria yang menabraknya ialah pria yang mendorong nya di rumah hantu dan mencoba membunuhnya dengan tembakan waktu itu.


Ia tidak menyangka jika akan seperti ini lagi. Bukankah dirinya sudah merelakan Malvyn untuk Jesica? untuk anak mereka? Bahkan ia merelakan anaknya tak diketahui oleh siapapun.


"Ais harus segera pergi!" katanya bangkit berjalan cepat.


*


*


❤️


Maaf ya.. emak lagi ada acara jadi lama up nya.


Dan memang emak lagi merasa gimana gitu sama NT.


Tetap dukung emak ya..


Mampir juga punya temen emak

__ADS_1



__ADS_2