
Pagi ini Aisyah bangun lebih dahulu daripada Malvyn. Senyuman nya terbit manakala melihat tugasnya sudah rampung, dan tentu saja yang menyelesaikan nya ialah suaminya.
Ia pun melangkahkan kaki mendekat ke tempat tidur sisi dimana Malvyn masih tertidur pulas. Ia pun mengecup pipi suaminya tersebut lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian ia telah selesai membersihkan diri dan bersiap. Dilihat Malvyn masih tertidur pulas, ia memilih keluar kamar dan menelepon pihak Villa agar mengantarkan sarapan untuk mereka.
Aisyah memilih keluar dari Villa karena penasaran dengan pemandangan laut disana. Ia merasa bersyukur karena dapat berkunjung ke Maldives.
Ia masuk ke dalam Villa setelah pelayan mengantar sarapan bagi mereka berdua. Ia pun segera menghabiskan sarapan dan menyimpan sarapan Malvyn lebih dahulu.
Rasa penasaran membuat Aisyah nekad keluar Villa untuk mendekati pantai. "Air nya dingin," ia cekikikan karena merasa kampungan walau sebenarnya memang kampungan.
Ketika sedang asyik bermain air, Aisyah dikejutkan dengan suara pekikan seseorang yang kesakitan tidak jauh darinya.
"Argh," pekik seorang pria.
Jiwa penolong Aisyah meronta sehingga membuatnya spontan berlari kearah pria tersebut. "Ya ampun, darah!" pekik Aisyah tanpa melihat pria tersebut.
"Mari saya bantu," kata Aisyah menggunakan bahasa Inggris seraya memapah tubuh pria tersebut.
Pria tersebut duduk di sebuah pondok Kafe dan Aisyah dengan telaten membersihkan luka tersebut. Ia juga mencabut pecahan kaca kemudian membungkus luka menggunakan bando tali yang dikenakan nya.
"Terimakasih," kata pria tersebut.
Tubuh Aisyah membeku beberapa saat ketika menyadari suara pria yang ditolong nya terdengar tidak asing. Ia pun memberanikan diri menengadah menatap pria tersebut.
Tatapan mata keduanya terkunci seperti sama-sama sedang mengingat wajah masing-masing.
"*Matanya benar-benar indah!" gumam Jerolin dengan degub jantung yang tak beraturan.
"Dia ... Jangan menangis, Ais. Jangan buat musuh mu melihat kelemahan mu," gumam Aisyah dalam hati tidak ingin Jerolin tahu bila dirinya sudah mengingat kejadian 8 tahun silam*.
Aisyah berdehem kemudian bangkit. "Sama-sama. Kalau begitu aku permisi dulu, om!" katanya membuat Jerolin melotot.
"Aku belum setua itu," ucap Jerolin kesal.
__ADS_1
Aisyah terkekeh. Ia tidak menyangka pria yang begitu menyeramkan dahulu terlihat lucu hanya karena dipanggil sebutan 'om'.
"Aku masih sangat muda dan kamu sepertinya jauh lebih tua dariku," kata Aisyah masih berpura-pura tidak mengenali Jerolin.
Tetapi agaknya Jerolin masih terlihat kesal. "Berapa usia mu?" tanya nyanmasih terdengar ketus.
"18 tahun," sahut Aisyah terdengar berani. Padahal hatinya ketar-ketir saat ini.
"Hanya selisih 14 tahun. Aku belum setua itu," lagi-lagi Jerolin tidak terima dianggap setua itu oleh Aisyah.
Aisyah terkekeh dan memilih mengalah. "Baiklah."
"Nama kamu siapa?" tanya Jerolin seolah tidak mengenali Aisyah, padahal hanya basa-basi semata.
Aisyah yang masih duduk bersebelahan dengan Jerolin kembali menoleh kearah pria itu. Ia mengerjapkan mata berulang kali memikirkan sesuatu. "Ais. Namaku Ais," ia menipiskan bibirnya mencoba tetap tenang agar pria disamping nya tidak mencurigai dirinya yang sudah mengingat kejadian kelam itu.
Jerolin tersenyum mendengarnya. Bukan karena ia sudah mengetahui siapa nama dari istri Malvyn tersebut. Melainkan kecantikan wanita kecil ini semakin membuatnya terpesona. Apalagi sebagian rambut itu melayang-layang karena tertiup angin.
Jerolin juga tak menyangka gadis kecil yang dahulu ia culik bahkan dibawanya ke Luar Negeri untuk membuat gadis kecil itu lupa ingatan bisa tumbuh menjadi wanita yang cantik jelita.
"Kamu datang ke sini dengan tujuan apa?" tanya Jerolin mencoba mengobrol dengan Aisyah.
Aisyah menoleh lagi ke arah Jerolin dan tertawa kecil mendengar pertanyaan pria itu. Tapi, tanpa disadari nya justru membuat Jerolin terpesona.
"Maldives terkenal banyak dikunjungi karena keindahan alam dan bertujuan bulan madu disini. Masak om lebih tua dariku gak tahu, sih!" katanya, walau tahu pria disebelahnya berhubungan dengan Jesica. Namun, ia tidak mengetahui bila Jerolin adalah kakak Jesica.
Jerolin membuang muka mendengan perkataan Aisyah. Ia tahu tujuan wanita itu datang kemari, hanya saja karena ingin mengobrol lebih lama membuatnya melontarkan basa basi semata. Wajahnya memerah karena merasa malu atas kebodohan nya.
Sial. Ada apa denganku? gumam Jerolin seketika itu juga.
"Ah iya aku lupa. Baiklah, sampai bertemu lain waktu. Aku pergi dulu," kata Jerolin ketika melihat Malvyn keluar dari Villa seperti mencari sesuatu dan yakin bila Aisyah lah yang dicari pria tersebut.
Aisyah tersenyum disertai anggukan. "Apa om bisa jalan sendiri? mau aku bantu?" tanya nya tulus karena tahu luka di telapak kaki Jerolin cukup dalam.
Hati Jerolin menghangat, darah nya berdesir mendapat perhatian dari Aisyah. "Enggak perlu. Aku bisa sendiri, terimakasih."
__ADS_1
Aisyah mengangguk kemudian berdiri dan menatap punggung pria itu. Ia mengingat perkataan papi Askar tempo dulu.
"Jika ada seseorang berbuat jahat kepada kita, jangan dibalas dengan kejahatan juga. Tetaplah berbuat baik kepadanya, seiring berjalan waktu pasti seseorang itu akan merasa bersalah dan menyesal dengan sendirinya. Itulah balas dendam paling apik," nasihat papi Askar yang terus diingatnya hingga sekarang dan akan berlanjut selamanya.
"Semoga aku bisa memaafkan dan membuka lembaran baru," gumam Aisyah setelah menatap punggung Jerolin hilang dibalik bangunan Villa lain nya.
"Memaafkan siapa?" bisik Malvyn membuat Aisyah terperanjat.
Aisyah mengelus dada sakit terkejutnya. "Kamu buat aku kaget saja," kata nya membuat Malvyn terkekeh.
"Kamu lihat apa sampai gak dengan aku panggil bahkan gak tahu aku berdiri di belakang kamu?!" kata Malvyn memang tidak melihat Aisyah bersama Jerolin.
Mendengar pertanyaan Malvyn, ia merasa gugup karena tidak ingin suaminya salah paham. "Bukan lihat apa-apa. Kamu sudah sarapan?" tanya ya mengalihkan pembicaraan.
Malvyn hanya menggeleng kemudian menarik pinggang Aisyah hingga tubuh mungil istrinya itu menubruk tubuhnya. "Aku ingin sarapan kamu," katanya kemudian mengecup pipi Aisyah yang sudah bersemu merah.
Aisyah menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Malvyn. Kehangatan yang tercipta mampu menenangkan dirinya yang dilanda kegugupan.
"Kamu sarapan lebih dulu baru boleh makan aku," kata Aisyah tersenyum menggoda.
Bagai hujan di gurun pasir. Ingin rasanya Malvyn melompat untuk mengekspresikan kebahagiaan nya kali ini. Tetapi, tentu saja itu hanya hayalan semata karena ia selalu stay cool.
Malvyn berdehem dengan senyum penuh arti. Digendong Aisyah ala bridal style menuju Villa.
"Ingat! kamu harus makan lebih dulu, Vyn."
"Iya sayang. Aku menurut kali ini," kata Malvyn benar adanya karena tidak ingin di tengah permainan nya, penduduk tengah merontah meminta di bagikan sembako.
*
*
Jerolin menatap kepergian sepasang suami istri yang tampak berbahagia. Sebagai pria dewasa tentu tahu akan terjadi apa selanjutnya ketika pasangan itu masuk ke dalam Villa.
"Haruskah aku menghancurkan kebahagiaan gadis kecil itu?"
__ADS_1