
Sepulang dari rumah Sakit, Aisyah tampak lebih banyak diam. Setiba di Mansion juga langsung masuk kamar setelah meminta izin kepada Dominic dan Lucas bahwa dirinya merasa kelelahan.
Di dalam kamar, Aisyah tidak beristirahat melainkan masuk ke dalam kamar mandi berendam air hangat. Ia memejamkan mata menikmati tubuhnya mulai merasa jauh lebih baik.
Setelah tubuhnya merasa lebih baik, Aisyah keluar kamar mandi dan memilih lingerie merah ketika tercetus sebuah ide untuk menggoda Jerolin agar segera pulang. Apalagi dirinya sudah hamil besar dan melahirkan dalam waktu dekat.
Ingin memberitahukan atas pertemuan antara dirinya dan Malvyn kepada Jerolin namun, Aisyah tidak ingin suaminya itu akan kembali uring-uringan, khawatir, ataupun berpikiran buruk lagi. Ia tahu betapa takutnya Jerolin kehilangan dirinya. Sebab itu pula Aisyah perlahan luluh dan memaafkan segala perlakuan Jerolin di masa lalu.
Aisyah pun akhirnya melakukan panggilan video dan menggoda suaminya itu. Seperti ada rasa puas setiap kali mampu membuat Jerolin merasakan pelepasan karena ulahnya. Memang, ia akui sangat menyukai saat-saat dimana Jerolin merasakan pelepasan dan menikmati sisa-sisa kepuasan itu.
Tapi, ia merasa sedikit kecewa karena Jerolin menyuruhnya segera tidur. Padahal masih ingin mengobrol dan menceritakan apa saja yang ia lewati sepanjang hari tanpa Jerolin.
Tapi Aisyah mencoba mengerti bila Jerolin pergi karena pekerjaan yang tak dapat ditangani oleh orang lain. Harapannya hanya satu yaitu Jerolin sudah pulang sebelum ia melahirkan.
****
Malvyn beranjak dari duduknya setelah sekian lama disana tanpa mencegah Aisyah pergi. Rasa sakit kehilangan lebih parah lagi saat ini.
Ia langsung masuk ke dalam mobil setelah sampai di Parkiran. Kendaraan beroda empat itu melaju dengan kecepatan sedang tanpa arah. Namun, beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di depan gedung Apartemen miliknya dimana tempat berlindung selama menikah dengan Aisyah.
Helaan nafas terdengar lirih usai menyadari hatinya benar-benar telah patah dan masih mencintai wanita yang sama. Malvyn keluar mobil dan masuk ke dalam Apartemen tersebut dengan mudah sebab masih memiliki kartu akses disana meski sudah lima tahun tidak menyambangi tempat itu.
Pertama kali yang dirasakan Malvyn ketika baru saja masuk ke dalam Apartemen tersebut adalah sedih dan rindu berkepanjangan. Dimana Aisyah selalu saja membuat ulah dan ia hanya dapat diam saja. Membuat kekacauan dapur idaman nya. Ah, rasanya sudah sangat lama ia tidak memasak lagi. Padahal dahulu, memasak salah satu kesukaannya.
Malvyn memejamkan mata sejenak sambil menghela nafas panjang. Ia duduk di sofa ruang tamu itu, menyandarkan badan seraya memijat keningnya yang terasa pening. Matanya terbuka ketika suara ponsel berdering dan diambilnya dari saku celana.
"Iya, mi." Kata Malvyn kepada Mami Ivy sang penelepon.
"Kamu dimana, Vyn? Kenapa belum pulang?" Tanya mami Ivy dari seberang telepon.
__ADS_1
Malvyn diam sesaat kemudian matanya melirik ke sisi ruangan terletak ya jam dinding disana. Ah, ternyata cukup lama dirinya tertidur dalam keadaan duduk hingga tidak menyadari waktu sudah menunjukkan malam hari.
"Aku sedang berada di Apartemen, mi." Jawab Malvyn singkat. Kepalanya mendadak pening karena memikirkan nasibnya yang tak mujur.
"Kamu kenapa? Kamu merindukan Ais lagi? Jangan mabuk-mabukan, ya." Memang seperti inilah mami Ivy. Beliau takut ketika Malvyn merindukan Aisyah akan mabuk-mabukan dan berakhir dalam masalah besar.
"Aku gak mabuk, mi. Aku cuma kangen Aisyah saja," jawab Malvyn tak ingin memberitahukan pertemuannya dengan Aisyah siang tadi.
"Baiklah. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Belajarlah untuk menerima keadaan dan segera bangkit. Mami yakin, Aisyah memaafkan kamu."
Malvyn tidak menjawab ucapan mami Ivy yang terakhir. Kalimat itu membuat hatinya terenyuh karena pada kenyataannya, ia benar-benar harus bangkit dan Aisyah telah memaafkannya.
Ia mengusap wajah dengan kasar merasa sangat lemah perihal Aisyah sedari dahulu. Matanya memicing melihat satu kotak berukuran sedang begitu asing baginya yang tergeletak di atas meja dihadapan nya.
Ditaruh ponselnya kemudian diambil kotak tersebut. Kotak itu seperti kotak lama, sudah tidak rapi lagi. Karena penasaran, Malvyn membuka kotak tersebut dan melihat isi di dalam kotak tersebut.
Dahinya berkerut ketika melihat sepasang sepatu bayi. Diambilnya dan dipandangi benda tersebut. Tanpa terasa senyuman terbit. Lalu pandangannya kembali melihat kotak tersebut.
Lala memang mengajukan permohonan pengunduran diri saat tak berapa lama Aisyah pergi dan ia menyetujui tanpa menemui pelayan nya itu. Hingga saat ini bahkan tidak tahu nasib wanita itu.
Ia pun hendak menutup kotak tersebut tapi urung karena melihat ada satu lagi yang belum dibukanya dari dalam kotak tersebut. Malvyn mengambil sebuah amplop berwarna biru muda. Imut sekali lalu di taruh kotak tersebut ke tempat semula.
Dibuka amplop tersebut. Tapi, beberapa saat kemudian ia memasukkan isi amplop tersebut yang ia tahu pasti surat didalamnya. Ia merasa sangat lancang telah membuka barang milik orang lain. Karena merasa sangat penasaran apalagi tidak ada yang melihat, Malvyn kembali membuka kotak itu dan kembali membuka amplop biru tadi.
Genderuwo Bule, ku.
Begitu banyak ujian pernikahan kita. Tapi aku yakin, cintamu tulus untukku.
Malvyn, suamiku.
__ADS_1
Darimulah aku baru merasakan indahnya dicintai meski hubungan kita masih dalam bayang-bayang masa lalumu.
Malvyn, suamiku.
Aku sudah memaafkan semua yang telah terjadi. Aku sudah mengikhlaskan calon bayi kita yang telah tiada sebelum kita ketahui kehadiran nya.
Biarlah semua menjadi penutup cerita tentang yang lalu dan mulailah dengan suka cita bersama anak kita yang baru.
Mom mencintaimu, Dad.
Malvyn terpaku setelah selesai membaca isi surat itu. Tampak tangan nya gemetar selaras dengan selembar kertas itu bergerak. Matanya berkaca-kaca saat menyadari kenyataan yang baru saja diketahuinya.
Hamil?
Aisyah hamil anaknya?
Benarkah?
Antara senang dan sedih menjadi satu. Sebab tidak ada di samping Aisyah ketika hamil.
Bayang-bayang dimana terakhir kali dirinya bertemu Aisyah di Apartemen ini dan ia mendorong Aisyah. Ia mengingat tangan mantan istrinya itu memegang perut dan menahan sakit.
Hatinya mendadak cemas bila anak nya kembali tidak terselamatkan. Malvyn pun menghubungi Mario agar mencari tahu kehidupan Aisyah selama berpisah dengan nya. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan nya selama ini.
"Kamu tega sembunyikan ini dariku, Ais."
Malvyn menggeleng. "Bukan disembunyikan. Akulah yang membuat Aisyah pergi dan gak pernah tahu kehamilan Ais. Bodohnya aku yang gak pernah datang kesini."
Ponsel Malvyn kembali berdering dan Mario memberitahukan kehidupan Aisyah selama ini. Ia beranjak mendekati jendela kaca dengan tatapan tajam ke arah luar.
__ADS_1
"Apa bedanya kamu dengan aku Ais? Kamu juga menikahi orang yang hampir membunuhmu."