
"Sudah aku ikuti saran mu. Lalu apalagi?" tanya Richard lagi.
"Hanya itu yang baru aku pikirkan," jawab Alex.
"Coba anda telpon suami anda lagi. Siapa tahu dia akan menerima panggilannya saat ini," pinta Alex pada Dona.
Lagi-lagi panggilan telepon Dona tidak diangkat oleh suaminya.
"Biasanya dia pulang kerja jam berapa?" tanya Ele.
"Suami saya kalau pulang kerja pagi hari, kemudian istirahat beberapa jam dan langsung kerja lagi. Seperti itu kegiatannya," jawab Dona.
"Berarti anda jangan pulang dulu sampai suami anda sendiri yang menelpon anda. Tinggallah dulu disini," ucap Richard.
"Ele antarkan ibu ini dan anaknya ke kamar belakang," pinta Richard pada Ele.
Ele pun mengangguk dan langsung mengantarkan ibu dan anaknya untuk beristirahat. Karena sedari tadi, Ele melihat anak dari Dona terus menguap dan memejamkan matanya. Ia tidak tega melihat anak kecil yang sudah mengantuk tidak dibiarkan untuk berbaring di ranjang.
"Aku harus bagaimana sekarang? Apa aku harus menunggu kabar dari suruhan si Nicolas? Sampai kapan? Bagaimana jika sampai besok pun dia tidak menghubungi istrinya? Bagaimana jika Nicolas memperlakukan istriku dengan buruk? Atau bagaimana jika istriku disentuh oleh si b*jingan itu? Aku benar-benar akan memenggal kepala orang yang berani menyentuh istriku!"
Mendengar omelan Richard, Alex menghela napasnya kasar. Ternyata cinta bisa membuat orang yang selalu juara di bidang bisnis, terlihat bodoh jika sudah bicara tentang cinta. Apakah kebucinannya menjadikan Richard tak bisa berpikir jernih?
"Kau jangan kebanyakan berpikiran buruk! Pikirkanlah hal yang baik-baik. Semoga Naya baik-baik saja dan tidak diapa-apakan oleh suruhan Nicolas itu," sahut Alex.
"Aku tidak bisa! Memikirkan Naya itu selalu saja membuatku pusing. Sedikit saja Naya tidak berada di jangkauan ku rasanya aku merasa kosong dan tak ada gairah hidup," ujar Richard.
"Bucin! Bucin! Bucin!" ejek Ethan.
Mata Richard langsung mendelik ke arah Ethan. Ethan justru memberikan ekspresi biasa saja, ia bahkan tidak takut jika Richard melakukan hal buruk padanya.
****
Sementara di tempat lain, yaitu di apartemen Nicolas, ia sudah tak melihat lagi wajah orang yang biasanya mengikutinya kemana pun ia pergi. Ia pun berinisiatif untuk mencoba keluar dari gedung tersebut. Takutnya, jika masih ada orang suruhan Richard, semua yang sudah ia rencanakan menjadi gagal.
__ADS_1
Nicolas turun ke halaman gedung tersebut, ia merasa keadaan sudah aman. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke tempat dimana orang suruhannya menculik Naya.
Di sebuah rumah yang sederhana, tempat dimana Naya diculik, wanita itu mulai sadar dan memegang kepalanya yang sedikit pusing.
"Eung, aku dimana?" tanya Naya pada dirinya sendiri karena melihat dirinya terbangun di tempat asing yang tak pernah ia kunjungi.
Seingatnya tadi ia habis dari toilet kemudian tak ada Ele, dan dia berjalan lalu setelah itu ada yang membius dirinya dari belakang lalu semuanya menjadi gelap.
Walaupun kepalanya sedikit pusing, Naya berusaha untuk bangun dan menyandarkan kepalanya di tepi ranjang. Andaikan saja ia tadi membawa ponsel saat ke toilet, mungkin saja ia sekarang bisa menelpon Richard dan mengirimkan lokasi tempat dia berada.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar. Ia membawa semangkuk sup ayam dan segelas teh hangat.
"Silahkan dimakan dan diminum nyonya," ucap sang wanita yang terlihat seumuran dengannya.
"Kau siapa?" tanya Naya yang benar-benar asing dengan orang yang ada di hadapannya.
"Saya Inem nona. Saya yang diperintahkan oleh Tuan untuk melayani anda," jawab wanita yang bernama Inem.
"Saya tidak tahu Nona. Pak Doni tidak memberitahukan pada saya siapa nama Tuan," jawab Inem.
"Siapa lagi Pak Doni?" tanya Naya yang semakin bingung dengan nama orang asing.
"Dia yang memerintahkan saya untuk melayani anda sesuai perintah dari Tuan," jawab Inem.
Jawaban tersebut membuat Naya semakin pusing. Ia ingin keluar dari kamar asing ini dan menghirup udara bebas lalu pulang dan bertemu suaminya.
"Saya ingin berjalan-jalan keluar, bisa bantu saya untuk berdiri?" pinta Naya pada Inem, ia masih merasa pusing dan masih belum bisa bertumpu pada tubuhnya sendiri.
"Baik Nona," jawab Inem. Inem pun langsung mendekat dan memapah Naya. Ia memapah Naya dengan berjalan sangat pelan.
Sesampainya di depan pintu kamar yang hanya sebuah tirai kain, Doni sang penculik pun melihat 2 pasang kaki yang berdiri disana.
Ia sudah bersiaga untuk menjaga agar orang yang ia culik tetap berada di dalam rumah dan jangan sampai keluar. Itu pesan yang disampaikan oleh tuannya.
__ADS_1
Tirai kain itu benar-benar memperlihatkan dua wanita, dengan satu wanita yang dipapah oleh si pelayan yang disewa. Keduanya berjalan menuju pintu keluar. Melihat itu, Doni yang awalnya duduk di kursi langsung berdiri dan menghalangi jalan dari kedua wanita tersebut.
"Kalian mau kemana?" tanya Doni.
"Siapa kau?" Bukannya menjawab Naya justru bertanya balik.
"Jangan biarkan wanita ini keluar dari rumah ini. Lebih baik anda antarkan wanita ini kembali ke kamar. Atau anda ingin tuan marah dan langsung menghukum anda!?" ancam Doni pada wanita paruh baya itu.
"Ma-af, baik akan saya antar wanita ini kembali," ucap Inem yang takut pada ucapan Doni.
"Ayo nona, lebih baik kita ikuti ucapan pak Doni," ucap Inem yang tiba-tiba membalikan tubuhnya mengajak Naya kembali ke kamar.
"Saya tidak mau! Saya ingin pulang! Biarkan saya keluar dari rumah ini!" kekeh Naya sambil menatap tajam laki-laki yang dipanggil pak Doni oleh Inem.
"Maafkan saya Nona, anda tidak bisa kemana-mana. Itu sudah perintah dari Tuan. Anda hanya boleh melakukan aktivitas di dalam rumah ini saja," jawab Doni.
"Sebenarnya siapa tuan yang kau maksud?" tanya Naya yang benar-benar penasaran siapa yang sudah membuatnya sampai harus berpisah dengan suaminya dan dikurung di rumah ini.
Bukannya menjawab, Doni malah tak membuka mulutnya sama sekali. Hal itu sudah menunjukkan bahwa mau berapa kali pun ia bertanya jawaban tersebut tak akan pernah ia dengar.
Naya pun menghela napas kasar. Ia ingin sekali berontak dan keluar dari rumah itu, akan tetapi ia takut, jika ia berontak, akan terjadi hal buruk pada dirinya dan janin yang ada di kandungannya. Saat ini ia hanya berharap Richard bisa segera menemukannya sebelum si tuan dari kedua orang yang ada di rumah tersebut datang.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_
__ADS_1