
Richard melihat kalender yang ada di ponselnya. Di dalam kalender tersebut masa si merah datang telah menunjukkan hari ke tujuh. Itu artinya, Naya akan segera bersih dari si merah sialan.
"Sayang," panggil Richard sambil memeluk Naya di tempat tidurnya.
"Hm," jawab Naya seadanya. Ia benar-benar masih mengantuk. Richard membangunkannya tidak tahu waktu. Langit masih menghitam, belum ada tanda-tanda sinar matahari yang masuk ke dalam kamar mereka.
"Apa hari ini kau sudah bersih?" tanya Richard penasaran.
Naya yang awalnya masih mengantuk tiba-tiba membuka kedua matanya. Ia langsung mengerti maksud dari pertanyaan yang Richard lontarkan.
"Belum, mungkin satu atau dua hari lagi baru selesai," jawab Naya bohong. Sebenarnya hari kemarin ia sudah bersih dari si merah. Namun, sesuai rencana ia ingin membuat Richard kesal.
"Kenapa lama sekali?" rengek Richard sambil menenggelamkan kepalanya di bahu Naya.
"Ya, mau gimana lagi. Memang begitu. Masa aku harus memarahinya dan menyuruhnya menghilang?" Richard mengangguk.
"Itu tidak bisa, Rich. Ini adalah siklus seorang wanita yang setiap bulannya akan kedatangan tamu. Kau sebagai laki-laki pun harus paham," ucap Naya memberitahu Richard.
"Iya, iya, iya. Akan aku ingat." Richard menjawab Naya dengan hati yang kesal. Ia sudah menunggu selama tujuh hari untuk meng-unboxing Naya akan tetapi semuanya zonk. Ia harus menunggu 2 hari lagi untuk meng-unboxing Naya.
"Ayo tidur lagi," ajak Richard.
"Aku sudah tidak bisa tidur, aku akan ke kamar Elnan untuk melihatnya. Kau boleh tidur lagi," ujar Naya sambil melepaskan pelukan Richard. Ia pun bangkit dari posisi rebahannya dan berdiri lalu berjalan keluar dari kamar.
"Is, sudah menikah masih saja Elnan yang didahulukan," gerutu Richard. Ia merasa diduakan oleh anaknya sendiri.
***
Siang harinya, Naya dan Ele duduk berdua di ruang keluarga sambil melihat Elnan yang bermain dengan berbagai mainan.
"Kak Naya, gimana apa kak Richard sudah menanyakan tentang masa suci kakak?" tanya Ele.
"Sudah, tadi pagi ia menanyakannya. Aku jawab saja belum selesai. Kemungkinan satu atau dua hari lagi."
Jawaban Naya membuat Ele terkikik geli. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana raut wajah kakaknya yang harus menunda malam pertamanya dua hari lagi.
__ADS_1
"Pasti Kak Richard kesal setelah mendengar jawaban dari kak Naya, hahaha," ujar Ele diakhiri dengan tawanya.
"Dia malah merengek seperti anak kecil," ujar Naya sambil mengingat-ingat kelakuan Richard tadi pagi.
"Hahaha, sesuai janjiku. Aku akan memberitahu kak Naya salah satu aib kak Richard."
Ele menelusuri foto yang ada di galerinya. Setelah dia menemukan foto aib kakaknya kemudian ia mengirimkannya pada Naya.
Naya segera membuka ponselnya, saat mendapatkan notifikasi pesan dari Ele. Ia melihat foto yang dikirimkan oleh Ele. Awalnya Naya heran, kenapa foto yang dikirimkan Ele adalah seorang perempuan kecil yang cantik dengan rambut sebahu dengan jepit rambut berwarna pink di kepalanya.
"Cantik kan, kak?" tanya Ele yang sudah terkikik terlebih dahulu.
"Itu adalah foto kak Richard saat usianya 12 tahun. Ia menjadi objek percobaan oleh kak Rihana. Saat itu usiaku masih 3 tahun. Kak Richard itu orangnya nurut sekali dengan kak Rihana. Apapun yang kak Rihana perintahkan, pasti kak Richard akan menurutinya termasuk cosplay jadi perempuan, hahaha. Sayangnya, aku tidak terlalu ingat kejadian itu. Aku hanya mendapatkan fotonya saja dari kak Rihana saat aku beranjak remaja," jelas Ele sambil terus tertawa.
Naya tidak tertawa, ia hanya tersenyum memandangi foto tersebut. Ia akan menggunakan foto tersebut sebagai senjatanya untuk melawan Richard. Jika dilihat-lihat foto tersebut memang mirip sekali dengan Richard. Hanya saja badannya belum berisi dan berotot seperti sekarang.
"Simpan baik-baik ya kak. Untuk hadiahnya, akan aku kirimkan 2 hari lagi. Pokoknya harus kakak pakai ya," paksa Ele padahal hadiahnya belum ada di depan mata Naya.
Naya mengangguk setuju tanpa tahu hadiah apa yang akan Ele berikan padanya.
***
"Gimana rasanya punya istri? Enak kan? Pasti junior mu sudah berkali-kali masuk ke dalam guanya," ujar Ethan yang tidak tahu menahu tentang malam pertama Richard yang gagal.
"Masuk dalam ke-zonk-an sih iya," jawab Richard asal.
Alex yang mengerti langsung tertawa. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadi Richard saat itu. Ia harus bersolo karir di kamar mandi tanpa istrinya.
"Mungkin itu karma untukmu. Karena selalu saja mencuri kesempatan dalam kesempitan. Nah, setelah kesempatan itu datang, ia sengaja mempermainkan mu," ucap Alex.
"Hahaha, jangan bilang si merah mengucapkan selamat datang untukmu!" seru Ethan saat mulai paham arah ucapan Alex.
"Aih, kalian berdua ini! Kenapa senang sekali meledekku! Aku sedang bersedih lho ini! ucap Richard memberitahukan kesedihannya.
"Terima nasib saja. Lagian kata orang, kalau kita melakukan hubungan suami istri setelah pasangan kita selesai dari menstruasi itu adalah masa-masa subur dari perempuan. Kau bisa saja langsung memiliki anak setelahnya," jawab Alex memberitahu apa yang ia ketahui.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Richard antusias.
"Benar atau tidaknya aku tidak tahu. Aku kan belum menikah. Coba saja kau tanyakan langsung pada dokter," saran Alex.
"Kau tidak membantu," ucap Richard mendengus sebal. Ia kira sahabatnya memang benar-benar tahu. Rupanya masih sekedar katanya dan katanya.
"Haha, sudahlah kita bahas yang lain saja, aku kasihan melihatmu, Rich," saran Ethan.
"Terserah," jawab Richard singkat.
Mereka bertiga pun membahas bisnis yang akan mereka kerjakan di dua bulan mendatang. Selesai itu, mereka pergi ke restoran terdekat untuk makan siang. Ya, walaupun sebenarnya waktu makan siang sudah lewat satu jam yang lalu.
***
Di sebuah apartemen, Denada tengah berhias di depan cermin. Ia memoleskan blush on ke pipinya. Setelah selesai, ia merapihkan dress nya. Kemudian berpamitan dengan Nicolas yang sedang tiduran di ranjangnya tanpa mengenakan pakaian atasnya.
"Aku kerja dulu sayang," pamit Denada lalu mencium bibir Nicolas.
Nicolas yang mendapat serangan dadakan dari Denada, tentunya menerima ciuman tersebut dengan senang hati. Ia malah ingin melakukan hubungan **** lagi dengan Denada. Padahal mereka baru saja berhenti melakukannya sekitar satu jam yang lalu.
"Kalau kau lapar, aku sudah membelikan makanan untukmu dan aku taruh di dapur," ucap Denada. Nicolas menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Aku tunggu di kantor sayang," ujar Denada yang mulai menghilang dari penglihatan Nicolas.
Nicolas bangun dari posisi tidurnya, ia berjalan ke dapur untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
"Kau wanita terbodoh yang aku kenal, Dena. Kau begitu mudahnya berpaling dari laki-laki yang bisa dikatakan sempurna dalam segala hal hanya demi sebuah karier yang bahkan tidak bisa membesarkan namamu tanpa membawa namaku. Kau juga dengan mudahnya memberikan kesucian mu padaku tanpa kau mengenal baik diriku pada awalnya."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.