
"Berapa usia kehamilanku, Vin?" tanya Denada pada Vino.
"Untuk memastikan itu, sebaiknya kau langsung saja periksa ke dokter kandungan. Kalau begitu aku permisi dulu, banyak sekali pasien yang aku urus hari ini. Selamat kau akan menjadi seorang ayah, Nic. Percepat lah tanggal pernikahanmu dan Denada sebelum semua orang mengetahui kehamilan Denada atau karir mu akan hancur."
Ucapan Vino begitu menancap di otak dan hati Nicolas. Pernikahan? Memikirkannya saja tidak pernah. Kehamilan Denada akan membuat dirinya susah dan tidak bisa mendapatkan hati gadis kecilnya.
Denada tersenyum cerah. Ia masih tidak menyangka dirinya akan hamil.
"Sayang, nanti kau antar aku periksa ke dokter kandungan, ya?" pinta Denada dengan lembutnya.
"Tidak bisa, aku ada rapat penting hari ini dan itu tidak bisa diwakilkan oleh orang lain."
Jawaban Nicolas membuat Denada bersedih. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya pada Nicolas.
"Baiklah aku akan memeriksanya sendiri," ucap Denada.
Nicolas lalu berpamitan pada Denada untuk berangkat kerja. Suasana hatinya sedang buruk sekarang. Ia tidak ingin melihat wajah Denada.
Di perjalanan, Nicolas selalu memikirkan tentang kehamilan Denada. Benar-benar suatu hal yang tak pernah terpikirkan olehnya.
***
Sesampainya di kantor, Richard langsung mendapatkan banyak berkas yang harus ia tanda tangani. Ia menghela napas melihat tumpukan berkas tersebut.
"Leon, apa kau tidak salah memberikan semua berkas ini padaku?" tanya Richard.
"Tidak bos, semua berkas ini memang pekerjaan anda hari ini."
"Aih, menyebalkan sekali!"
"Leon aku ingin menanyakan satu hal padamu," ujar Richard yang iseng bertanya pada Leon.
"Apa benar jika usia kehamilan masih di trimester pertama tidak boleh melakukan hubungan suami istri?" tanya Richard.
"Katanya sih seperti itu bos. Kakak saya juga begitu. Katanya usia kehamilan pada trimester pertama itu masih sangat lemah dan rentan akan guncangan," jawab Leon.
"Kau tidak membohongi aku kan?" tanya Leon yang masih tidak percaya.
__ADS_1
"Tidaklah bos," jawab Leon yang menyangkal bahwa ia tidak membohongi bosnya.
Richard pun langsung menekan nomor telepon dokter kandungan Naya. Panggilan telepon pun tersambung.
"Ada apa tuan Richard menelpon saya? Apa ada masalah pada kandungan istri anda?" tanya sang dokter.
"Dokter apakah melakukan hubungan suami istri di tri semester pertama boleh dilakukan?" tanya Richard dengan kerasnya.
"Ah, ternyata anda menelpon untuk menanyakan hal itu. Pada usia kandungan trimester pertama, sebaiknya pasangan tidak melakukan hubungan suami istri apalagi mengeluarkannya di dalam. Karena hormon prostaglandin yang terdapat pada sp*rma dapat menyebabkan kontraksi pada rahim sang ibu, sehingga dapat membahayakan janin dalam kandungan. Dengan demikian lebih baik anda menahan diri untuk tidak melakukan hubungan suami istri untuk menghindari bahaya tersebut. Karena usia kehamilan di trimester pertama masih sangat lemah dan rentan mengalami keguguran," jelas sang dokter.
Setelah mendengarkan penjelasan dokter, Richard pun mengucapkan terima kasih dan mematikan panggilan tersebut.
"Bagaimana? Ucapan saya tidak bohong kan bos?" tanya Leon.
"Hm," jawab Richard.
"Sana kembali ke tempatmu! Aku ingin bermesraan dengan berkas-berkas ini karena aku harus berpuasa sampai janin istriku kuat dan aku akan membuatnya kewalahan."
"Bos sinting!" gumam Leon.
"Kau bilang apa Leon?" tanya Richard yang melihat Leon mengucapkan kata.
Leon pun keluar dari ruangannya, meninggalkan Richard sendirian.
"Aih, biji kacang itu selalu saja menyiksaku. Dokter tadi hanya bilang bahwa aku tidak boleh mengeluarkan spermaku di dalam milik istriku kan? Jadi kalau aku bermain di luarnya saja, seharusnya boleh kan?" Senyum seringai muncul di bibir Richard. Ia tidak akan memberikan kesempatan istrinya untuk tenang-tenang saja. Ia akan membuat Naya melayang dengan cara yang lain.
***
Di kediaman Kavindra, Helen tampak sibuk menyiapkan berbagai makanan untuk menantunya yang kini sedang hamil muda. Ia juga membuang makanan yang sekiranya tidak boleh di makan oleh ibu hamil. Ia benar-benar senang setelah mendengar berita Richard kala itu.
Helen menuju ke ruang keluarga dengan membawa sepiring buah-buahan untuk Naya.
"Kau tidak boleh kelelahan Nay, kandungan mu masih lemah. Biar mama saja yang menjaga Elnan," ucap Helen pada Naya.
"Tidak apa-apa ma, lagian aku hanya melihat Elnan bermain saja. Itu tidak akan membuat aku lelah."
"Baiklah, dimakan buahnya. Buah ini bagus untuk kandungan mu." Naya mengangguk. Ia pun mengambil buah yang sudah dipotong oleh mama mertuanya.
__ADS_1
"Oh, iya. Apa ibumu sudah mengetahui kehamilan mu, Nay?" Naya menjawab dengan gelengan kepala.
"Nanti saja aku memberitahu ibunya ketika aku mengunjunginya bersama Richard." Helen pun mengangguk mengerti.
"Ngomong-ngomong Ele kemana ma? Aku tidak melihatnya di rumah pagi ini?" tanya Naya menanyakan keberadaan Ele.
"Dia pulang ke negaranya, saat kau dan Icad masih tertidur. Dia tidak ingin mengganggu waktu tidur kalian. Ele juga disana tidak akan lama. Ia hanya memenuhi syarat dari mami dan papinya jika ingin berkuliah di sini, ia harus pulang dan meminta izin langsung pada orang tuanya. Jangan hanya lewat telepon atau meminta bantuan dari Icad," jelas mama Helen.
"Oh begitu ma. Tapi suasana rumah memang jadi sepi kalau tidak ada Ele," ujar Naya merasakan hal berbeda saat tidak ada Ele di dekatnya.
"Kau benar. Mama malah bersyukur jika Ele mau berkuliah disini. Mama bisa melepas semua kerinduan mama terhadap kakak perempuan Icad, karena sifat Ele dan Rihana sangatlah persis bak pinang yang dibelah dua."
Mendengar ucapan mama Helen, ia begitu penasaran dengan sosok kakak perempuan dari suaminya. Namun, ia tak ingin menanyakan hal itu karena ia tak ingin membuat mama mertuanya kembali mengenang putrinya yang sudah tiada.
"Mama juga bersyukur atas hadirnya dirimu dalam keluarga ini. Kau membuat Icad jadi lebih sering di rumah. Membuatnya jadi Icad yang dulu bahkan Icad begitu bahagia saat bersamamu," ujar mama Helen lagi.
"Semuanya bukan karena aku ma. Semuanya karena dirinya sendiri. Dia sudah bisa menerima dan mengikhlaskan apa yang terjadi padanya."
Mama Helen langsung memeluk Naya dengan eratnya. Ia benar-benar sangat bersyukur Naya menjadi menantunya. Ia tak bisa membayangkan jika menantunya adalah wanita malam yang selalu menjajakan tubuhnya kepala para lelaki hidung belang.
Terima kasih Tuhan. Kau telah memberikan pasangan untuk anakku dan ibu untuk cucuku sebaik dirinya.
Keduanya saling berpelukan begitu lama, hingga suara tangis Elnan membuyarkan segalanya.
Mama Helen langsung sigap menggendong cucunya yang terjatuh karena saking aktifnya belajar untuk berdiri.
"Cup cup cup sayang. Cucu oma yang ganteng jangan nangis ya sayang. Jadi anak laki-laki harus kuat," ucap mama Helen membujuk Elnan untuk tidak menangis.
Elnan langsung berhenti menangis. Bayi itu sepertinya mengerti ucapan yang dilontarkan oleh neneknya.
Setelah Elnan tidak menangis lagi, Helen membaurkan Elnan untuk melakukan apa pun yang ia mau.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
__ADS_1
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.