
"Bisa dilihat ke layar yang ada disana, Nona. Ada sebuah titik kecil. Itu artinya anda benar-benar hamil. Selamat atas kehamilan anda," ucap sang dokter memberikan selamat.
Naya meneteskan air matanya tak percaya. Ia benar-benar hamil. Hamil? Nantinya akan ada janin di dalam rahimnya? Ada makhluk hidup yang bergantung pada dirinya. Rasa bahagia campur haru menyelimuti dirinya.
Richard langsung panik kala melihat istrinya menangis ketika masuk ke dalam ruangan dokter lagi. Ia mendekat ke samping istrinya lalu menatap tajam pada sang dokter. Ketika ia akan mengucapkan ancaman dan kemarahannya. Naya menggelengkan kepalanya.
Richard benar-benar tidak tahu alasan kenapa Naya menangis. Karena sedari tadi ia hanya fokus pada Alex yang sudah ia usir keluar dari ruangan dokter sehingga tidak memperhatikan dan mendengarkan ucapan dokter.
"Selamat ya Tuan. Anda akan menjadi seorang ayah," ucap sang dokter mengucapkan selamat padanya.
Speechless. Richard langsung mengalihkan pandangannya pada Naya. Kemudian ia bertanya pada Naya.
"Sayang, apa kau dengar apa yang diucapkan oleh dokter?" tanyanya.
"Iya aku mendengarnya. Kau akan menjadi seorang ayah," jawab Naya membenarkan bahwa pendengaran Richard tidak salah.
Richard langsung berteriak karena saking tidak percayanya.
"SAYANG, AKU AKAN MENJADI SEORANG AYAH! KAU AKAN JADI SEORANG IBU! KITA AKAN JADI ORANG TUA!"
Naya yang awalnya bahagia dan terharu malah menjadi malu karena melihat reaksi suaminya. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya bahwa Richard akan seekspresif itu mendengar kehamilan pertamanya.
Ternyata bukan hanya Naya saja yang malu, Alex pun demikian. Ia yang menunggu di luar ruangan pun bisa mendengar teriakan Richard yang akan menjadi seorang ayah.
Sepertinya dulu aku dihipnotis supaya mau berteman dengannya. Kerjanya buat aku repot dan buat malu saja.
Sementara bagi sang dokter, ini adalah sebuah hiburan untuknya. Baru pertama kali ia melihat respon suami yang berteriak ketika mendengar istrinya hamil. Biasanya mereka akan bahagia dan menangis haru lalu saling berpelukan.
Richard pun kembali normal dan mendekatkan wajahnya ke istrinya. Ia menatap dalam-dalam wajah istrinya.
"Terima kasih. Aku benar-benar berterimakasih padamu. Kau mau mengandung benihku di rahimmu. Aku masih percaya dan tidak percaya," ucap Richard lembut tanpa terasa air matanya pun menetes.
Perubahan sikap Richard terjadi 180 derajat perbedaannya. Yang tadinya ekspresif kini menjadi mellow. Naya langsung mengusap air mata suaminya.
__ADS_1
"Kenapa menangis?" tanya Naya lembut.
Richard langsung memeluk tubuh istrinya dan berkata, "Aku menangis karena terlalu bahagia. Terima kasih sayang. Aku akan menjadi suami siaga untukmu."
"Ya, kau memang harus belajar menjadi suami siaga," jawab Naya.
"Ehem." Sang dokter berdehem untuk membuat pasangan bucin itu melepaskan pelukan mereka. Mereka harus ingat, ini bukan di kamar tapi di ruangan dokter.
Keduanya pun melepaskan pelukan. Keduanya menjadi canggung.
Saat suasana mulai kondusif, sang dokter menjelaskan lagi.
"Setelah tadi saya memeriksa istri anda. Usia kehamilannya memasuki minggu ke 5. Usia yang masih rentan sekali terhadap benturan. Untuk itu, saya mohon anda bisa menjaga keamanan dan kenyamanan istri anda dengan baik. Setelah ini saya akan memberikan vitamin untuk ibu hamil."
"Dok, kan posisinya saya yang hamil. Kenapa suami saya yang mengalami gejalanya? Apa itu tidak menjadi masalah?" tanya Naya.
Pertanyaan Naya membuat Richard penasaran juga.
"Umumnya memang ibu hamil akan mengalami yang namanya morning sickness, atau perubahan suasana hati. Namun, terkadang ada juga yang tidak mengalami hal itu seperti anda. Justru suaminya lah yang mengalami gejala hamil tersebut."
"Kapan gejala ini berakhir dokter?" tanya Richard.
"Kehamilan simpatik biasanya dialami oleh suami saat kehamilan istri berada pada trimester pertama dan ketiga," jelas sang dokter.
"Nikmati saja semua prosesnya. Anggap saja ini sebuah kerjasama di antara seorang calon ibu dan ayah. Sang ibu nanti akan berjuang untuk melahirkan bayinya dan ayahnya membantu meringankan dengan sang suami yang menggantikan istrinya mengalami gejala-gejala kehamilan," ucap dokter melanjutkan.
Apakah Richard akan siap? Seminggu saja rasanya sudah hampir sebulan. Apalagi jika ia harus merasakannya di trimester pertama dan ketiga.
"Terima kasih dokter atas penjelasannya. Kami permisi dulu," ucap Naya.
Mereka berdua pun keluar dari ruangan dokter. Alex mengucapkan selamat pada sahabatnya.
"Selamat kau akan menjadi seorang ayah. Jaga selalu perilaku mu. Dengar-dengar dari orang, perilaku suami saat istrinya hamil akan mempengaruhi kelakuan anaknya nanti," ucap Alex sedikit menakut-nakuti Richard.
__ADS_1
Richard yang tidak tahu apa-apa tentang kehamilan dan antek-anteknya langsung menelan mentah-mentah ucapan Alex.
"Terima kasih. Kapan kau punya anak juga? Lihat usahaku sudah ada hasilnya. Tak sia-sia aku menggempur istriku setiap malamnya," ucap Richard membanggakan dirinya membuat Alex membuang muka. Niat ingin mengerjai Richard malah dirinya yang kena. Senjata makan tuan memang.
Naya sudah tidak aneh lagi jika pembahasan dua laki-laki itu absurd dan tentang ranjang. Ia sudah tak mau ikut campur. Yang ada nanti malah dirinya yang jadi korban pelampiasan kekesalan Richard dengan menerkam dirinya di ranjang.
***
Setibanya di rumah, Richard memanggil seluruh penghuni rumahnya untuk berkumpul di ruang tamu. Ia akan memberikan infomasi penting.
"Semuanya, dengarkan aku baik-baik. Mulai saat ini, kalian harus menjaga dan melayani istriku sebaik mungkin. Jangan biarkan dia kelelahan. Jangan biarkan dia menyentuh dapur. Pokoknya urusannya hanya mengurus Elnan saja. Itu pun harus ada dua orang yang menemaninya untuk mencegahnya kelelahan. Kalau sampai kalian mengabaikan tugasku ini. Siap-siap saja, aku akan memecat kalian."
Richard menghentikan ucapannya. Ele dan mama Helen masih belum mengerti arah pembicaraan Richard.
"Sebenarnya ada apa Icad? Kenapa kau menjaga ketat istrimu? Kasian dia, kalau dijaga seperti itu, tidak ada ruang kebebasan untuknya."
"Itu semua demi kebaikan keduanya ma. Istriku sedang hamil," sahut Richard menjawab pertanyaan mamanya.
"Apa? Hamil? Jadi aku akan punya cucu lagi?" tanya mama Helen yang tak percaya dengan berita yang didengarnya. Richard mengangguk.
Helen langsung berlari kecil ke Naya dan memeluk erat menantunya itu. Richard dengan segera melepaskan pelukan mamanya.
"Jangan memeluk terlalu erat ma. Kasian anakku di dalam. Dia pasti merasa kesakitan," larang Richard pada mamanya.
Semua orang yang ada disana melongo mendengar ucapan Richard. Bagaimana mungkin, makhluk kecil yang tumbuh di rahim Naya itu kesakitan? Ia bahkan belum tumbuh menjadi janin yang sempurna? Bahkan mungkin saja masih sebesar biji kacang. Benar-benar pemikiran yang aneh.
***
Maaf jika informasinya tidak lengkap. Aku bukan dokter, hehe. Jika ada yang menurut kalian tidak tepat mohon dikoreksi.
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
__ADS_1
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.