Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 115 - Memanfaatkan Waktu


__ADS_3

Suara tangis kedua bayinya terdengar di pagi-pagi buta. Waktu masih menunjukkan pukul 02.00. Rupanya keduanya haus. Alih-alih membantu Naya, Richard malah tidur dengan nyenyak nya sambil memeluk si kecil Elnan.


Butuh beberapa menit untuk menenangkan keduanya. Setelah itu, Naya kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia menatap kedua orang yang ada di hadapannya.


"Walaupun kalian bukan anak dan ayah akan tetapi sifat dan karakter El begitu mirip denganmu, Rich. Bahkan wajahnya pun mirip denganmu."


Setelah mengatakan itu, Naya memeluk Elnan juga. Mereka tidur dalam posisi berpelukan.


*****


"Hoam ... " Richard menguap ketika ia mulai merasakan pagi datang. Sudah tak ada lagi Naya di ranjang mereka. Hanya si kecil Elnan saja. Ia berpindah posisi menjadi duduk.


"Kemana Naya?" tanya Richard sambil melihat ke sekelilingnya.


Richard bangun dari duduknya menjadi berdiri. Rupanya kedua bayi kembarnya pun sudah tak ada di box bayi mereka. Hal tersebut, membuat Richard yakin bahwa Naya sudah keluar dari kamarnya dan membawa sang anak untuk berjalan-jalan di sekitar rumah.


Richard membangunkan Elnan dengan menepuk pipi Elnan pelan. "El, bangun!"


Tak lama kemudian Elnan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Ia masih terlihat bingung. Sementara Richard tersenyum senang karena berhasil membangunkan Elnan.


"Mandi bareng papa mau tidak?" tanya Richard. Elnan kecil mengangguk.


Kedua laki-laki itu akhirnya mandi bersama. Setelah sudah memakai baju yang bersih, keduanya keluar dengan Elnan digandeng oleh Richard.


"Mama dimana ya?" tanya Richard pada sang anak.


"Mama di--tu ..." Elnan berucap sambil menunjuk ke ruang keluarga. Naya dan kedua anak kembarnya sedang berada di ruang keluarga bersama sang mama dan Ele.


"Eh, kau sudah bangun rupanya. Tadinya aku akan kembali ke kamar dan membangunkan kalian berdua," ucap Naya yang melihat kedatangan Elnan dan Richard.


"Telat sayang!" jawab Richard.


"Tapi kok kau tidak pakai baju kerjamu yang sudah aku siapkan? Memangnya kau tidak akan mulai bekerja lagi?" tanya Naya yang keheranan.


"Aku kan bosnya sayang. Jadi terserah aku mau berangkat kerja atau tidak. Lagian sudah ada yang membantu pekerjaanku secara sukarela, hehe," jawab Richard.


Sang mama hanya menggelengkan kepalanya. Ia sudah paham dengan tingkah laku Richard yang seenaknya sendiri.


"Ya sudahlah, terserah kau saja. Yang terpenting kau harus ingat anakmu sudah bertambah. Jadi, kebutuhannya semakin banyak. Jangan sampai nanti mereka kekurangan kebutuhan dan perlengkapannya," ujar Naya yang kemudian sibuk menimang si cantik Ela.

__ADS_1


Kak Naya, Kak Naya, mau kak Richard tidak kerja selama setahun ataupun tiga tahun pun, uangnya tidak akan habis. Bahkan kebutuhan hingga kedua anakmu S3 pun sepertinya masih berlimpah-limpah uangnya. Kalau aku jadi kau, aku akan meminta ini dan itu.


"Sudah dulu ngobrolnya. Ayo kita sarapan!" ajak sang mama.


*****


Sarapan pun selesai, Ele berangkat ke kampus. Mama Helen pergi untuk bertemu teman-temannya. Elnan bermain di luar rumah bersama Nani. Tinggallah Naya dan Richard disana bersama kedua mereka.


Dua bayi kembar itu tertidur pulas di ranjang. Naya terus mengamati wajah keduanya.


"Aku heran. Aku yang mengandung mereka selama sembilan bulan. Tapi kenapa wajah mereka mirip denganmu? Dari hidungnya, bentuk wajah, bibirnya, bahkan alisnya pun sama. Tidak adil sekali!"


Richard tertawa mendengar kekesalan Naya yang merasa anak mereka tidak ada kemiripan dengannya. Terlihat begitu menggemaskan.


"Sayang, mereka itu masih bayi. Wajahnya masih suka berubah-ubah kemiripannya. Biasanya akan terlihat mirip dengan siapa ketika usianya menginjak berbulan-bulan. Sementara kedua anak kita, mereka sebulan pun belum ada," balas Richard menanggapi kekesalan Naya.


"Sini mendekat ke arahku. Jangan terus dipandangi nanti kau jadi tambah kesal karena tak ada yang mirip denganmu, haha."


Ucapan Richard diakhiri dengan tawa, agar istrinya terlihat semakin kesal. Benar saja, Naya kini mengerucutkan bibirnya.


"Jangan begitu, nanti aku cium baru tahu rasa!"


"His! Kau ini!"


"Kau itu benar-benar pintar sekali menguji kesabaran ku! Kan aku sudah bilang, aku memintamu untuk mendekat padaku. Kau masih saja disana. Anak kita itu sedang tidur. Biarkan dia pergi ke alam mimpinya. Jadi, kita bisa berduaan. Jika mereka sudah sebesar Elnan nanti akan sangat susah untuk seperti ini. Pasti mereka akan selalu mengganggu kita," ucap Richard sambil menatap Naya lekat-lekat.


Naya pun mengerti apa yang diucapkan Richard. Mereka berdua memang harus pintar-pintar memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk bisa saling mengobrol dan saling berbagi kasih.


"Iya iya aku paham," jawab Naya.


"Sayang, kau tidak menyukaiku ya?" tanya Richard tiba-tiba.


Naya mendelik dan mulai bertanya.


"Kau ini kenapa bertanya seperti itu? Padahal aku kan sudah pernah mengatakan kalau aku mencintaimu," ucap Naya.


"Habisnya, kau ini pelit sekali mengucapkan kata sayang padaku. Kau selalu memanggil ku dengan nama. Kalau kita berada di luar, mungkin orang akan menganggap kita ini bukan pasangan suami istri," keluh Richard.


Naya menghela napas. Rupanya Richard mempermasalahkan panggilan yang ia sematkan pada dirinya.

__ADS_1


"Lalu kau mau kupanggil apa?" tanya Naya menawarkan.


"Hm? Apa ya?" Richard mulai berpikir.


"Panggil sayang, papa, suamiku atau apapun terserah mu. Asalkan jangan nama, aku tidak suka."


"Baiklah sayang," jawab Naya.


"Nah begitu dong, hehe."


Richard tersenyum senang. Mereka berdua pun menghabiskan waktu mereka dengan mengobrol dan menonton serial drama romantis. Akan tetapi Richard selalu mengambil kesempatan untuk mencuri-curi cium ke Naya. Apalagi dramanya ada adegan ranjangnya, membuat Richard semakin ingin lebih dari sekedar kecupan. Sialnya, hal tersebut tidak bisa direalisasikan karena masa berpuasanya masih berlanjut.


****


Sementara di perusahaan Richard, Ethan terus menggerutu kesal. Karena banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Benar-benar sahabat tidak tahu diri! Dia pikir aku ini pengangguran kali ah! Kalau tiap hari aku mengurusi perusahaannya terus, bisa-bisa perusahaan ku yang gulung tikar! Huh!"


"Sabar tuan." Leon berusaha untuk meredakan kekesalan Ethan.


"Sabar, sabar aku sudah hilang kesabaran. Bilang tuh sama bos mu! Suruh cepat-cepat berangkat kerja! Heran deh! Pengen kaya tapi maunya di rumah!"


"Kan bos Richard sudah kaya Tuan," ucap Leon meluruskan.


"Huh! Rupanya kau juga membuatku kesal Leon! Sana keluar! Lakukan lagi saja tugasmu!"


"Baik tuan."


Setelah Leon keluar dari ruangan. Ethan merebahkan tubuhnya di sofa.


"Kirimkan aku bidadari Tuhan. Supaya aku tidak jadi budak sahabatku sendiri."


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.

__ADS_1


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_


__ADS_2