
Hari demi hari terus berlalu, selama itu juga Nicolas tak pernah berhenti untuk datang ke rumah Denada untuk melihat anaknya. Tentunya menarik perhatian ibu anaknya juga.
"Kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Biar aku yang menjaga Ansel. Tenang, dia tidak akan menangis saat bersamaku."
Denada pun melanjutkan pekerjaannya membalas chat dari para pelanggannya dan mem-packing pesanan. Sementara Nicolas ia bermain dengan anaknya di luar rumah. Ia membiarkan Ansel untuk belajar berjalan tanpa adanya bantuan karena ketika di dalam rumah ia dibantu dengan meja untuk berjalan merambat.
"Ayo sini ke papa," ucap Nicolas.
Usaha Ansel sedikit berhasil hanya saja ketika mendengar suara kucing yang tak jauh darinya, Ansel jadi berpindah posisi menjadi merangkak dan mengejar kucing itu. Ia tampak begitu bahagia.
"Apa kau mau papa belikan kucing untuk menemanimu di rumah?" tanya Nicolas menyimpulkan dari kelakuan Ansel.
Hingga akhirnya kucing yang Ansel kejar pun menjauh. Ansel berhenti dan terduduk. Ia kesal. Hal tersebut mengundang gelak tawa dari Nicolas. Ansel sangat menggemaskan ketika kesal.
"Tidak apa-apa kucingnya tidak tertangkap sayang. Besok papa akan bawakan kucing yang manja untuk bermain bersamamu."
Seketika Ansel langsung bersorak dan tertawa. Kebahagiaan keduanya terpancar dari sorotan mata dan guratan bibir yang terangkat.
Rupanya, meskipun sibuk mengurus pekerjaan, Denada diam-diam memperhatikan interaksi di antara ayah dan anak itu. Ia merasa bahagia. Dulu yang rencananya ingin meninggalkan semua tentang Nicolas dan memulai hidup barunya, semuanya tidak terjadi. Nyatanya ia justru kembali ke kota dan hidup disana lagi. Akan tetapi suasananya yang berbeda.
"Rupanya benar ucapan Sari waktu itu. Jika Tuhan sudah berkehendak, aku dan Nicolas pasti akan dipertemukan kembali. Namun, aku masih tidak tahu bagaimana ke depannya nanti. Aku hanya nyaman di keadaanku yang sekarang."
****
Berbeda dengan satu pasangan lainnya yaitu Ethan dan Sari. Selama Sari belum mengandung, Ethan masih menginginkan Sari untuk menjadi asisten pribadinya. Itung-itung sekalian bermesraan di kantor dengan sang istri.
"Sayang bisi kesini sebentar," pinta Ethan pada Sari.
"Ya? Ada yang kau perlukan?" Ethan mengangguk. Sari pun berjalan mendekat ke meja Ethan. Tanpa persiapan apapun, Ethan langsung menarik istrinya untuk duduk di pangkuannya.
"Enak sekali, kerja di kantor ditemani istri setiap hari. Rasanya aku jadi tidak ingin melakukan apapun kecuali berduaan saja denganmu," ujar Ethan.
"Ish! Jangan seperti ini! Kita lagi di kantor. Tidak baik jika nantinya dilihat oleh karyawan yang masuk. Kau akan dicap sebagai atasan yang tidak profesional kak. Kau harus bisa membedakan antara dunia kerja dan dunia pernikahan sayang," ucap Sari yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Lagian mereka semua sudah tahu kalau kau adalah istriku. Lalu apa salahnya? Jika aku berbuat mesum sekalipun di kantor, tak akan ada orang yang berani menegurku."
"Sudahlah aku tidak mau berbicara lagi."
Ethan tersenyum melihat Sari yang berpura-pura kesal. Ia kemudian mencium Sari tepat di bibir wanita itu.
Ciuman berlangsung lama. Hingga Sari kehabisan napas, Ethan langsung menghentikan ciuman mereka.
"Apa lebih baik kita ke ruang pribadiku saja sayang? Sepertinya ada yang harus kita tuntaskan."
__ADS_1
Perkataan tersebut adalah ajakan untuk bercinta dari Ethan. Juniornya sudah menegang ketika mereka saling bertukar saliva.
Sari memukul pelan bahu Ethan.
"Tidak mau, aku tahu apa yang kau ingin lakukan kak," tolak Sari.
"Memang aku mau melakukan apa?" tanya Ethan menggoda.
"I-itu ..." Sari susah untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Tuh kan, kau saja tidak tahu. Makanya biar tahu ayo ke ruang pribadiku saja," ajak Ethan.
Sari yang awalnya menolak, kini luluh juga. Bagaimana tidak luluh, Ethan menggendongnya hingga sampai ke ruang pribadi Ethan. Kemudian menjatuhkan sari ke atas kasur tersebut.
Ethan segera menutup pintunya, dan melepas semua kain yang menutupi bagian atasnya. Ia benar-benar sudah tidak tahan untuk menuntaskan hasratnya.
"Is! Kan pasti itu yang akan kau lakukan kak. Semalam kita sudah melakukannya lho! Masa siang ini juga lagi?" ucap Sari yang heran dengan Ethan yang ingin terus-terusan menyentuhnya.
"Iya itu harus sayang. Namanya juga berusaha agar cepat ada Ethan dan Sari junior di dalam perutmu. Kalau tidak ada usahanya, bagaimana mereka bisa tumbuh?"
"Ya sudah ayo kita lakukan lagi. Tapi pelan-pelan ya, bekas semalam masih terasa ngilunya kak."
"Tentu saja sayang. Aku akan pelan," jawab Ethan sambil tersenyum.
"Sial! Siapa sih ganggu aja!?" kesal Ethan yang lalu berpindah mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengganggu kesenangannya.
Rupanya Richard lah pengganggu itu.
"Angkat saja! Siapa tahu penting," ujar Sari.
Ethan pun mengangkat panggilan dari Richard.
"Ada apa?" tanya Ethan dengan ketusnya.
"Wow, santai jangan ketus gitu. Aku cuma mau bilang, besok malam kau dan Sari datang ya ke rumahku. Naya ingin mengadakan acara makan-makan bersama. Pokoknya kalian harus datang. Aku tidak ingin istriku kecewa. Titik. Bye."
Richard dengan mudahnya menutup sambungan teleponnya membuat Ethan jadi kesal. Jika hanya hal itu yang ingin dibicarakan, kenapa tidak lewat pesan saja? Benar-benar menyebalkan.
****
Sementara Richard yang menutup telepon tersebut tertawa ngakak. Ia merasa senang karena rupanya ia telah mengganggu waktu bercinta sahabatnya itu. Richard bisa mendengar suara napas yang sedikit tidak beraturan seperti menahan sesuatu yang seharunya segera dituntaskan.
"Hahaha, rupanya aku tanpa sengaja mengganggu kesenanganmu Ethan. Tak apalah. Sekarang waktunya mengabari Ele dan Alex."
__ADS_1
"Halo Lex," sapa Richard.
"Hm? Ada apa?" tanya Alex.
"Besok malam datang ke rumahku ya. Kita makan-makan, Naya ingin kita semua berkumpul di rumah," ucap Richard.
"Sebentar, aku lihat jadwalku dulu, takutnya besok waktunya bertabrakan dengan janji makan malam ku dengan klien," jawab Alex.
"Pokoknya walaupun ada janji, kau batalkan saja," hasut Richard.
"Kau ingin melihat Ele sengsara? Aku tidak bisa semudah itu membatalkan janji yang sudah aku rencanakan," balas Alex lagi sambil melihat jadwal kegiatannya.
"Ah, rupanya besok aku tidak ada acara apa pun. Makan malam dengan kliennya ternyata malam lusa," tambah Alex.
"Baguslah kalau begitu. Sampaikan hal ini pada Ele juga ya. Aku malas memberitahunya. Kau saja yang suaminya. Bye."
Sambungan telepon pun berhenti. Tugas Richard untuk menghubungi orang yang diundang ke acara makan malamnya selesai. Ia tinggal mengerjakan pekerjaan kantornya dan setelah itu pulang ke rumah.
****
Jangan lupa baca ceritaku yang lain judulnya All I Want Is You
.
Dara Lazora yang saat itu masih berusia 18 tahun, harus menerima kenyataan pahit mengetahui dirinya hamil. Ia pun meminta pertanggungjawaban dari Cakka Haztoro, kekasihnya.
Hanya saja, ibu dari Cakka tidak merestui hubungan mereka dan tidak mengakui bayi yang ada di kandungan Dara sebagai cucunya. Ia juga menghina Dara sebagai wanita murahan. Hingga Dara memutuskan untuk pergi dari kehidupan Cakka dan membesarkan anaknya tanpa sang kekasih.
Tujuh tahun kemudian, keduanya bertemu kembali, dan anehnya Cakka tidak mengenali Dara sama sekali. Akan tetapi Cakka sudah tertarik pada Dara di perjumpaan pertama mereka. Semenjak itu, Cakka terus berusaha untuk menarik perhatian Dara.
Akankah Cakka berhasil membuat Dara mencintainya? Lalu kenapa Cakka tidak mengingat Dara sama sekali? Ada kejadian apa setelah Dara pergi meninggalkan Cakka?
Cerita selengkapnya langsung meluncur kesana ya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_