Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 36 - Kau berniat meninggalkan aku juga?


__ADS_3

Setelah di hari pemakaman itu, Richard terus mengurung diri di kamar rumah sakit. Ia tidak mau ditemui siapa pun termasuk dokter dan para perawat. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian kakak dan kakak iparnya. Ia sampai lupa jika masih ada Elnan yang kakak dan kakak iparnya tinggalkan.


"SEMUANYA SALAHKU! HARUSNYA AKU YANG MATI!"


Richard histeris sambil memukul-mukul kepalanya. Ia seperti kehilangan akal sehat. Sementara di luar kamar rawat inap, ada Helen, Alex dan Ethan yang berdiri dengan perasaan khawatir. Mereka ingin masuk ke dalam, tetapi mereka takut Richard malah akan melakukan hal yang lebih parah lagi dari sebelumnya.


"Alex, tolong bujuk Richard untuk membuka pintunya, hiks ... hiks ... tante tidak mau Richard terus-menerus menyalahkan dirinya. Ini sudah kesekian kalinya dia menyakiti dirinya sendiri, hiks ... hiks ...."


Alex yang tahu bagaimana perasaan Helen pun merasa khawatir, pasalnya, ia juga merasakan hal yang sama khawatirnya. Namun, lagi-lagi Richard tak akan mudah membuka pintunya jika tidak ada hal yang mendorongnya untuk bangkit dan semangat lagi.


Akhirnya, Alex memutuskan untuk mencari tahu semua kebenaran itu. Benarkah semua ini karena kelalaian Richard saat mengendarai mobil ataukah karena campur tangan orang lain di dalamnya? Situasi saat ini, Alex belum mengetahui kalau mobil yang dikendarai Richard remnya blong karena Richard masih tak mau memberikan klarifikasi apapun selain menyalahkan dirinya. Mungkin saja karena saking terpukulnya batin Richard atas kehilangan yang terjadi.


"Ethan, tolong temani dan jaga Tante Helen. Aku mau mencari tahu sebab dari kecelakaan ini, karena aku yakin ada sesuatu yang terjadi di belakangnya. Richard bukanlah orang yang tidak memperhatikan seluruh isi mobil termasuk mesin-mesinnya. Ia selalu menjaga semua performa mesin mobilnya. Oh, iya satu lagi, kunjungi Elnan juga. Kurasa bayi kecil itu pasti membutuhkanmu. Meskipun ia masih bayi, belum mengetahui apapun yang terjadi padanya saat ini, bisa saja ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh kita."


"Baiklah, carilah segala informasi sampai menemukan titik terangnya. Aku akan menjaga dan menemani Tante dan Elnan."


Alex langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu. Ia pergi ke tempat kejadian, namun disana sudah ada garis polisi yang tentunya sudah tidak bisa lagi Alex sentuh. Ia pun langsung menanyakan hal tersebut ke kantor polisi.


Setelah mengetahui penyebab kecelakaan tersebut karena rem nya terputus, Alex langsung berpikiran bahwa ada seseorang yang sudah merencanakan ini. Ia pun pergi ke hotel tempat dimana Richard menginap dan meminta rekaman cctv yang ada di basemen. Namun, rekaman cctv itu hilang. Bisa dipastikan bahwa pelaku memang sengaja menghilangkan rekaman tersebut agar ia tidak terjerat hukum pidana. Alex terus mencari tempat-tempat yang sekiranya dekat dengan hotel untuk meminta rekaman cctv itu. Hasilnya nihil, semua rekaman hilang bak ditelan bumi.


Alex mulai frustasi dengan segala pencarian itu. Sampai akhirnya ia menemukan tiang di sisi jalan yang rupanya terdapat cctv. Ia pun pergi ke tempat dimana ia bisa melihat rekaman itu. Alhasil ia menemukan satu rekaman yang bisa dijadikan sebagai semangat Richard.


Sorenya Alex kembali ke rumah sakit dengan membawa laptop dan flashdisk di tangannya. Ia berniat menunjukkan video rekaman tersebut.


"Bagaimana Richard, apa dia sudah membuka pintunya?" tanya Alex. Ethan menggeleng.


"Lalu Tante kemana?" tanya Alex lagi saat tidak melihat Helen bersama Ethan.


"Tante ke ruangan bayi, dia menjaga Elnan disana. Kasian bayi kecil itu, sudah menjadi yatim piatu diusianya yang masih belia." Alex hanya menganggukkan kepalanya.


"Tok ... tok ... tok ..." bunyi ketukan pintu yang diketuk Alex supaya Richard mendengarnya.


"Richard aku menemukan sedikit bukti tentang kecelakaan yang kau alami. Semuanya bukan SALAHMU. Semuanya terjadi karena ada seseorang yang ingin mencelakai mu. CEPAT BUKA PINTUNYA SEBELUM AKU MEMBUAT KERIBUTAN DI RUMAH SAKIT INI!" teriak Alex hingga membuat orang yang berlalu lalang di rumah sakit menatapnya aneh.


Pintu tak kunjung dibuka oleh Richard, Alex pun semakin geram dibuatnya.


"Sialan ya anak satu itu! Dia mau mati atau bagaimana? KALAU MAU MATI JANGAN MENYUSAHKAN ORANG! SETIDAKNYA BALAS DENDAM DULU PADA ORANG YANG MENCELAKAI MU, BODOH!"


"Ceklek," bunyi pintu yang terbuka dari dalam kamar rawat.


"Huh," Alex menghela napas kasar. Kemudian masuk ke dalam kamar rawat Richard diikuti Ethan di belakangnya.

__ADS_1


Alex dan Ethan terbelalak kaget saat melihat suasana kamar yang berlumuran darah. Mereka pun melirik ke tangan Richard. Rupanya lelaki bodoh itu menyayat tangannya sendiri dan melepas infusan di tangannya.


"Kau benar-benar ingin mati, hah!" marah Alex. Richard yang mendengarnya hanya meliriknya tajam.


Alex langsung menelan ludahnya. Richard sedang dalam mode tak ingin dikatai atau diceramahi.


"Cepat katakan!" pinta Richard dengan ketusnya.


Sementara Ethan heran dengan Richard, sebegitu banyaknya darah yang mengalir dari tangan Richard. Richard tidak meringis kesakitan ataupun risih karenanya. Ia hanya bisa menghela napas untuk menetralkan debaran jantungnya yang terkaget-kaget.


Alex langsung membuka laptop dan memasang flashdisk nya. Di dalam rekaman cctv tersebut terlihat seseorang yang sedang memotong rem mobil Richard. Sayangnya, dalam rekaman tersebut wajah orang tersebut tidak terlihat karena membelakangi kamera, untuk mendapatkan video ini pun, Alex harus mencarinya seharian.


Richard menggerakkan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya. Ia marah dan kesal. Sebuah kobaran api panas membakar jiwanya.


"Cari tahu lebih dalam lagi mengenai orang itu! Aku akan membuat perhitungan padanya. Dia belum tahu saja siapa aku sebenarnya. Berani-beraninya dia main-main denganku! Bersiap-siap lah aku akan membalas semuanya bahkan lebih parah," marah Richard.


"Sayangnya, semua rekaman cctv nya menghilang. Sepertinya si pelaku sudah menghilangkan semua buktinya. Aku saja mendapat rekaman ini dari pos satpam," ucap Alex.


"Cari buktinya sampai dapat! Kau akan aku beri hadiah jika menemukan buktinya."


Mendengar kata hadiah, mata Alex berbinar-binar. Ia pun mau meneruskan pencariannya.


Richard sudah tak lagi menyalahkan dirinya sendiri. Ia jadi semakin sering menjaga Elnan. Richard juga mulai menyebut dirinya 'papa' saat berinteraksi dengan Elnan. Ia menyayangi Elnan seperti anak kandungnya sendiri sesuai permintaan terakhir dari kakaknya. Saking sayangnya pada Elnan, bahkan ada orang yang tak mengenalnya, menyebutnya sebagai duda satu anak yang ditinggal oleh istrinya.


***


"Seperti itulah aku yang dulu Nay. Aku yang menyalahkan diriku sendiri atas kematian kakak dan kakak ipar ku sampai menyakiti diriku sendiri. Aku yang dianggap playboy oleh orang-orang dan aku sekarang yang rapuh sambil menyandarkan kepalaku padamu. Bagaikan satu orang yang berbeda," ucap Richard yang masih bercerita.


Naya bisa merasakan semuanya. Merasakan rasa sakitnya Richard, rasa bersalah Richard, hingga rasa frustasi karena tak menemukan titik terang untuk masalah tersebut.


"Lalu, apa sekarang pelakunya sudah ditemukan?" tanya Naya. Richard mengangguk.


"Tetapi aku menunggu waktu yang tepat untuk membuatnya lebih menderita dariku dan mengungkapkan alasan yang membuat dirinya melakukan itu." Naya mengangguk-angguk mengerti.


"Aku hanya ingin memberikan saran untukmu. Lebih baik untuk sekarang kau memperhatikan Elnan, bayi kecil itu juga butuh kasih sayangmu. Butuh kehadiranmu saat tumbuh kembangnya. Suatu hari nanti, pasti dia akan bertanya-tanya tentang ibunya."


Richard langsung mengangkat kepalanya dari bahu Naya. Ia menghadapkan wajahnya menatap wajah Naya.


"Apa kau tidak mau menjadi ibunya Elnan?" tanya Richard dengan menatap mata Naya tajam.


"Setelah Elnan berusia dua tahun, kemungkinan besar aku akan pergi meninggalkannya," ucap Naya yang tidak peduli dengan tatapan mata Richard.

__ADS_1


"Jadi, kau berniat meninggalkanku juga?" tanya Richard lagi. Naya mengangguk.


"Dengarkan aku baik-baik Naya, kau tidak akan pergi meninggalkan aku maupun Elnan. Kau akan menemani kami hingga tua. Ingat itu!" ucap Richard yang memegang bahu Naya agak kasar.


Dengan terus menjadi ibu susu Elnan? Rasanya tidak mungkin, karena kemungkinan dia sudah tak menyusu lagi, atau sebagai baby sitter Elnan? Lalu bagaimana kehidupan yang aku inginkan, menikah dan memiliki anak?


"Alasan apa yang membuatku harus tetap menemanimu hingga tua?" tanya Naya.


"Kau adalah wanitaku Naya. WANITAKU!" ucap Richard dengan menekankan kata wanitaku.


"Hanya wanita mu, kan? Yang setelah kau bosan kau bisa menggantinya."


Richard kesal karena Naya berpikiran seperti itu. Ia mencengkeram kedua tangan Naya.


"Jika aku mengatakan kau adalah wanitaku, itu artinya aku menginginkanmu ada di hidupku Naya. Aku ingin kau menjadi satu-satunya wanita yang menemaniku hingga tua. Aku ingin kau jadi istriku. Sampai sini apa kau paham?"


Naya kaget tak percaya dengan kalimat yang diucapkan Richard. Haruskah ia menjawabnya sekarang?


Richard kesal, karena Naya tak kunjung memberikan jawaban padanya. Ia pun langsung meraih pinggang Naya dan mer*mas buah dada Naya.


"Ah ..." suara d*sahan Naya keluar.


"Cepat jawab! Itu kau bisa mengeluarkan suara d*sahan karena sentuhan ku. Kenapa pertanyaan mudah yang aku berikan tidak kau jawab dengan cepat?"


Naya mendengus kesal. Sangat-sangat kesal. Ia pun mencoba melepaskan cengkraman tangan Richard.


"Percuma mau kau melepaskan tanganku pun, kau tidak akan bisa keluar dari kamarku. Karena aku sudah mengunci kamar ini rapat-rapat."


"Kau, kau kenapa bisa mudah sekali berubah mood nya? Setahuku tadi kau bersedih saat cerita tentangmu padaku. Kenapa sekarang kau jadi balik seperti pria mesum lagi?"


"Hahahhaa..." Richard tertawa mendengar ucapan Naya. Sebenarnya ia juga tidak tahu jawabannya. Biasanya ia akan hanyut dalam kesedihan. Namun, ketika ada Naya di sampingnya, semuanya terasa akan biasa saja.


Richard kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telinga kanan Naya. Ia membisikan sesuatu di telinga Naya.


"Aku menginginkanmu saat ini, Naya."


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.

__ADS_1


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.


__ADS_2