Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 117 - Alex Kecelakaan


__ADS_3

Enam bulan berlalu, selama itu juga kedua bayi kembar Naya dan Richard terus tumbuh dan berkembang. Bahkan si kecil Naela begitu aktif bersuara berbeda dengan Rendra yang terlalu diam.


Tak hanya itu, rupanya dalam kurun waktu tersebut, Alex masih belum bisa mendapatkan hati Ele. Entah harus cara apa lagi yang ia lakukan.


Alex termenung di sudut kamar pribadinya. Ia menatap sebuah ponsel yang setiap harinya selalu sepi.


"Huh! Ternyata berjuang tidak semudah yang aku bayangkan. Ele, kenapa susah sekali membuatmu jatuh cinta padaku? Apakah aku harus melakukan hal kotor untuk mendapatkan mu?"


Tiba-tiba saja pikiran jahat masuk ke dalam otaknya. Lalu segera ditepis oleh Alex.


"Tidak! Tidak! Tidak! Kalau aku melakukan itu yang ada Ele akan membenciku. Haih!"


Tiba-tiba terdengar notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Alex. Ia pun segera mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang memberinya pesan.


-Ele


Kak Alex, apa kau sibuk malam ini? Bisa jemput aku di kampus? Aku lupa tidak membawa mobil dan uang. Aku sudah meminta Kak Richard untuk menjemput ku, rupanya dia tidak bisa karena kedua anak kembarnya sakit. Supir mama juga tidak bisa menjemput ku karena sedang menemani mama ke luar kota.


^^^-Alex^^^


^^^Tidak aku sedang santai saja malam ini. Tunggu aku disana. Aku akan segera meluncur.^^^


-Ele


Baiklah, aku tunggu di depan kampus ya kak.


Alex yang tadinya bersedih langsung berubah menjadi ceria. Ia bangun dari duduknya lalu mengganti pakaian yang keren karena akan menjemput sang pujaan hatinya. Tak apalah ia dijadikan pilihan terakhir ketika wanitanya kesusahan, itu jauh lebih baik daripada Alex tak dihiraukan keberadaannya. Itu artinya Ele masih membutuhkannya.


Selesai bersiap, Alex mengambil kunci mobil yang ada di atas meja. Ia berjalan keluar dari kamarnya menuju ke garasi rumahnya.


Tak lama kemudian Alex mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumah. Di perjalanan ia terus tersenyum senang sambil memutar lagu cinta. Sesekali ia bergumam mengikuti lirik lagu tersebut.


Tiba-tiba hujan turun begitu derasnya, hal tersebut membuat beberapa pengendara mobil terganggu penglihatannya. Alex yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal pun harus mendapat imbas dari cuaca buruk saat itu. Sebuah truk besar tiba-tiba menerobos lampu merah dan menghantam mobilnya hingga terguling di jalanan.


Kecelakaan kedua mobil itu membuat jalanan menjadi terhambat dan menimbulkan banyaknya kerumunan untuk membantu mengevakuasi korban.


Alex merasakan sakit di bagian tangannya dan kepalanya dipenuhi oleh darah yang begitu pekat.


"Awww." Alex merintih kesakitan.

__ADS_1


Di dalam pikirannya, ia begitu khawatir dengan Ele yang menunggunya di depan kampus. Apalagi malam sudah begitu larut dan beberapa jam lagi akan berganti hari.


"Ele, maafkan aku."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Alex menutup matanya tak sadarkan diri.


****


Sementara Ele ia menunggu Alex dengan gusarnya. Wanita itu terus-menerus melihat ke arah jam tangan yang ia pakai. Sudah lebih 45 menit Ele menunggu Alex. Namun laki-laki tersebut tak kunjung datang untuk menjemputnya.


"Yang benar saja! Bilangnya mau jemput, tapi kenapa lama sekali? Padahal jarak rumah Kak Alex kesini hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menitan. Apa dia berbohong?"


Ele mencoba memberikan pesan pada Alex, akan tetapi tak ada balasan dari laki-laki itu. Ia juga sudah mencoba menelpon akan tetapi ponselnya tidak aktif dan berada di luar jangkauan.


Seketika, Ele menjadi kesal dan akhirnya ia harus menunggu lebih lama lagi disana dengan cuaca hujan yang masih begitu derasnya. Ele meminta Ethan untuk menjemputnya.


Setengah jam kemudian, Ethan sampai di depan kampus Ele. Ia menyuruh Ele untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil, Ele memperlihatkan wajah kesal, kecewa dan cemberutnya.


"Sudahlah, mungkin ada sedikit kendala di jalan, jadinya Alex tidak bisa menjemputmu," ucap Ethan agar Ele tidak terlalu kesal pada sahabatnya itu.


"Ya, tapi kan setidaknya Kak Alex bisa mengabari ku dulu! Jangan tiba-tiba menghilang ketika ditunggu! Bikin kesal saja!" ujar Ele yang menumpahkan kekesalannya di hadapan Ethan.


"Kalau kau kesal dengannya jangan melampiaskannya padaku Ele," ujar Ethan.


Di dalam mobil, Ele memandang ke arah jalanan yang digenangi oleh air. Hujan tampak begitu lebat dan tak mau berhenti.


Drttt ... drtt ....


Ponsel Ethan terus bergetar, membuat Ele kesal karena Ethan tak menjawab ponsel tersebut.


"Kak berisik tahu. Angkat sana!"


"Tolong kau terima telponnya. Aku sedang fokus. Jalanan sedang licin, dan juga penglihatan ku jadi sedikit kabur karena hujannya begitu deras," ucap Ethan.


Akhirnya dengan berat hati Ele menerima telepon tersebut. Rupanya kakak sepupunya lah yang menelpon Richard.


"Ethan cepat kau ke rumah sakit!" ucap Richard di seberang telepon sana.


"Hah? Ada apa? Siapa yang sakit?" tanya Ethan.

__ADS_1


"Alex kecelakaan! Cepat kau kesini! Aku tidak mungkin meninggalkan istriku sendiri terlalu lama sedangkan kedua anakku sedang sakit. Dia ada di rumah sakit yang sama dengan tempat anak-anakku dirawat."


"Apa?! Kak Alex kecelakaan?!" ujar Ele yang terkejut.


"Ele? Kau kah itu?" tanya Richard ketika mendengar suara adik sepupunya.


"Iya kak, baiklah. Aku dan Kak Ethan akan segera kesana."


Ele langsung menutup telepon dari Richard. Wajahnya tampak cemas dan khawatir akan keadaan Alex. Bagaimana pun juga ia sudah salah mengira Alex telah membohongi dirinya bilang ingin menjemput namun tak kunjung datang. Namun pada kenyataannya, laki-laki itu justru mengalami kecelakaan. Seketika Ele meneteskan air matanya. Ia merasa semua karena dirinya yang meminta Alex untuk menjemputnya.


"Alex pasti baik-baik saja. Kau tidak perlu menangisinya. Yang ada dia nanti besar kepala," ucap Ethan.


Ele tak memperdulikan ucapan Ethan, ia terus menangis dan meminta Ethan untuk mempercepat laju mobilnya.


"Kau ingin kita mengalami kecelakaan juga seperti Alex? Come on El! Jangan terlalu cemas. Dia itu tidak selemah apa yang kau kira. Sekarang disana juga, pasti Alex sudah ditangani oleh dokter. Jadi kau bisa diam tidak? Atau kau mau mati sekarang juga?!"


Seketika Ele langsung duduk dengan tenang. Meskipun hatinya terus saja cemas dan gelisah. Ia benar-benar merasa bersalah. Andaikan ia tidak meminta Alex untuk menjemputnya. Andaikan ia pulang sendiri saja naik taksi. Andaikan, andaikan dan andaikan. Ele terus berandai-andai.


Ethan menatap Ele yang kini mulai diam dan menahan tangisnya. Ia bernapas lega.


Alex kau harus baik-baik saja. Lihatlah wanita yang kau kejar-kejar ini menangis karena mendengar kabarmu yang kecelakaan. Bukankah itu artinya dia peduli dan sayang padamu?


****


Tadi siang aku liat YouTube, iseng-iseng ketik judul ceritaku disana. Rupanya ada yang jadiin ceritaku konten. Sebenarnya aku tidak melarang asalkan ia memberikan informasi bahwa karya tersebut adalah karyaku dan menuliskan link nya di deskripsi atau dimana pun.


Hanya saja yang membuat aku kesal itu, dia seenaknya saja mengganti judul ceritaku dan meng-upload isi ceritaku semuanya. Bahkan views nya saja sudah mencapai ribuan 🙃


Tidak tahukah kamu bahwa mencari ide nulis itu memerlukan waktu dan menguras pikiran. Setidaknya hargai karya orang lain dan jangan seenaknya membuat konten tanpa izin.


Kalau kalian di posisiku, apa yang ingin kalian lakukan?


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.

__ADS_1


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_


__ADS_2