Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 41 - Lamaran


__ADS_3

Richard beserta rombongannya sudah siap untuk menuju rumah Naya. Mereka berangkat menggunakan dua mobil. Richard, Ele dan mamanya berada di mobil yang sama sementara Ethan dan Alex di mobil yang satunya.


Di perjalanan, Ele terus mengajak Richard bicara. Ia begitu penasaran seperti apa orang tua Naya.


"Orang tuanya kak Naya seperti apa? Bukan orang yang gila harta, kan?"


Richard tahu maksud dari pertanyaan Ele, karena kebanyakan orang yang mendekati Richard ataupun orang tua yang ingin menjodohkan anaknya dengan Richard hanya karena menginginkan harta dan kekuasaan.


"Orang tuanya baik. Hanya ada ibunya di rumah. Ayah kandungnya sudah meninggal." jawab Richard dibalas anggukkan juga oleh Helen.


"Syukurlah kalau begitu. Jadi, aku tidak perlu jaim-jaim di depannya."


Jawaban Ele membuat mata Richard melebar. Ia takut Ele akan melakukan hal yang bisa saja mempermalukan dirinya disana. Apalagi Richard sudah membuat kesan baik dipertemuan pertama mereka. Richard mencoba waspada pada tingkah sepupunya yang kadang berada di bawah kata waras.


***


Naya dan ibunya begitu tegang menunggu kedatangan Richard dan keluarganya. Ibunya duduk sambil gemetaran, sementara


Naya berjalan mondar-mandir seperti setrikaan.


"Nay, apa keluarganya Richard benar-benar baik? Ibu takut itu semua hanya sandiwara di depanmu," ucap ibu yang masih ada rasa tidak percaya.


"Iya Bu, tenang saja tidak perlu gugup dan tegang begitu," ucap Naya menyuruh ibunya untuk tenang. Padahal Naya pun sama tegangnya dengan ibunya.


Hingga suara mobil pun terdengar di telinga keduanya. Mereka keluar dari dalam rumah dan menunggu di luar. Dua mobil berhenti di dekat rumahnya memperlihatkan 5 orang keluar dari mobil dengan membawa banyak sekali hantaran.


Ibu Naya berusaha untuk tenang saat keluarga Richard berjalan ke arah rumahnya.


"Selamat malam ibu, Naya," sapa Helen yang sudah berada di depan Naya dan ibunya.

__ADS_1


"Selamat malam Nyonya," sapa Ibu Naya.


"Tidak usah memanggil nyonya. Sebentar lagi kita akan menjadi besan. Panggil saja jeng atau nama pun tidak masalah," pinta Helen.


"Baiklah, silahkan masuk. Maaf rumah kami tidak luas dan hanya ada makanan seadanya saja," ucap ibu Naya menjelaskan keadaan saat itu.


"Ah, tidak perlu repot-repot," jawab Helen menanggapi.


Semuanya telah duduk di ruang tamu, Helen langsung mengungkapkan niatnya datang ke rumah Naya.


"Maksud kedatangan kami sekeluarga adalah untuk melamar anak ibu yang bernama Naya untuk anakku Richard. Mungkin ibu sudah mendengar sedikit dari penjelasan Naya jika kami sudah merencanakan hari pernikahan mereka. Itu semata-mata karena memang umur Richard yang tak lagi muda. Aku ingin segera memiliki cucu lagi. Jika ibu berpikiran selama ini Richard adalah duda beranak satu itu tidaklah benar. Richard adalah pria lajang dan belum pernah menikah. Bayi yang diasuh Naya adalah anak kakaknya yang sudah dianggap anak kandung sendiri oleh Richard. Semoga dengan penjelasan ini bisa membuat ibu menerima dan merestui pernikahan mereka nantinya. Maaf juga jika kami tidak sempat meminta pendapat ibu terlebih dahulu. Semoga ibu bisa memahami semuanya," jelas Helen panjang lebar.


"Sebenarnya saya begitu terkejut begitu Naya bilang akan dilamar oleh majikannya juga akan melangsungkan pernikahan di dalam waktu yang cukup singkat. Awalnya memang saya tidak setuju. Namun, karena Naya bilang ia mencintai anak ibu dan ia meyakinkan saya bahwa ia akan bahagia bersama laki-laki pilihannya. Saya sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya dan mendoakan yang terbaik untuknya."


"Syukurlah jika ibu tidak menolak lamaran ini. Aku begitu senang mendengarnya. Naya itu wanita yang baik dan keibuan. Aku juga suka sekali dengan sifatnya yang sederhana itu. Semuanya pasti menurun dari ibunya. Kau hebat dalam mendidik anakmu," puji Helen untuk Naya dan ibunya.


"Baiklah jika begitu, Richard kau pasangkan cincin pada Naya begitu juga sebaliknya," pinta Helen.


Acara pemasangan cincin pun terjadi diiringi dengan rasa haru dari Helen yang tidak menyangka anaknya akan segera menikah. Itu artinya ia sudah sembuh dari lukanya.


Tak hanya Helen yang terharu, rupanya Ele, Ethan dan Alex pun demikian. Ini adalah acara bahagia Richard yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Terlihat jelas di wajah Richard bahwa ia begitu bahagia bisa mendapatkan pujaan hatinya.


"Kau tahu Nay, kau begitu cantik malam ini. Aku sudah tidak sabar untuk menunggu hari itu tiba. Aku akan membuatmu merintih dan mend*sah keenakan di bawahku," bisik Richard di telinga Naya saat mereka saling bertukar cincin.


Naya bergidik ngeri dibuatnya. Bukan Richard namanya jika tidak mesum. Ia pun harus menyiapkan dirinya untuk seminggu ke depan. Bisa dipastikan Richard tidak akan berhenti menggodanya.


Selesai pertukaran cincin, ibu Naya dan Helen mulai mengobrol berdua. Sementara yang muda mengasingkan diri dari yang tua dan mengobrol sambil lesehan. Tak ada satu pun dari mereka yang risih ataupun jijik duduk hanya beralaskan karpet meskipun mereka berasal dari keluarga yang kaya raya. Semuanya menyatu di malam itu, seolah-olah status ekonomi mereka sama, karena yang terpenting dalam sebuah obrolan atau perbincangan bukan dari status ekonominya melainkan nyaman atau nyambungnya obrolan yang akan diperbincangkan.


"Nay, kalau nanti kalian sudah menikah, Richard berbuat kurang ajar padamu atau meminta hak nya terus. Tendang saja burungnya. Supaya dia tidak selalu berpikiran kotor saat di dekatmu," ucap Ethan menghasut Naya.

__ADS_1


Sementara yang disebut namanya, ia menatap tajam Ethan seolah akan membakarnya hidup-hidup.


Lain halnya dengan Ele, ia begitu setuju dengan hasutan Ethan.


"Iya, ucapan kak Ethan benar. Kalau bisa sampai tidak bisa berdiri lagi, hahaha," ucap Ele diselingi tawa renyahnya.


"Dasar adik laknat," gumam Richard.


"Kalian jangan mempengaruhi pikiran polos Naya untuk berbuat jahat padaku! Atau kalian sendiri yang akan mendapatkan hukuman dariku!" ancam Richard dengan tegasnya.


Naya mendengus saat mendengar ancaman Richard. Padahal dialah yang mempengaruhi pikiran polos Naya dengan tingkah lakunya yang seenaknya mencium, menyentuh dan mer*mas tubuh Naya seolah-olah itu sudah menjadi hak nya.


"Sudahlah, Rich. Kau itu bodoh sekali. Ucapan ngawur Ethan dan Ele saja kau tanggapi. Percuma! Otak dua orang itu kalau disatukan suka tidak waras alias aneh bin ajaib," ucap Alex melerai ketiga orang itu. Sudah tak aneh lagi baginya jika melihat kekompakan Ethan dan Ele saat menjahili Richard. Sepupu Richard itu memang tidak ada duanya kala membuat Richard kesal.


Richard pun tak ambil pusing lagi ucapan Ele dan Ethan karena perkataan Alex. Ia kemudian menarik Naya untuk duduk mendekat ke sampingnya. Meraih tangan itu dan mengecupnya.


"Genggam lah tangan ini jangan sampai terlepas. Meskipun suatu saat aku bisa saja membuatmu kecewa. Tolong ingatkan aku pada hari ini. Kalau aku akan selalu mencintaimu," bisik Richard di telinga Naya.


Wajah Naya tersipu, semburat rona merah keluar dari pipinya.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.

__ADS_1


__ADS_2