
Malam harinya, Nicolas benar-benar datang ke restoran yang biasanya ia dan Denada kunjungi. Ia melihat sekeliling untuk mencari wanita yang kini menjadi tunangannya. Wanita tersebut tengah duduk dengan beberapa makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Senyum manis pun terpancar dari bibir Denada. Betapa senangnya ia, kala Nicolas bisa menemaninya makan malam setelah beberapa Minggu Nicolas selalu melupakan makan malam bersamanya.
"Akhirnya kau datang juga, aku pikir kau akan melupakannya lagi seperti malam-malam sebelumnya," ujar Denada.
"Tidak, karena hari ini aku tidak terlalu sibuk seperti malam-malam sebelumnya," balas Nicolas membuat alibi untuk membuat Denada percaya. Padahal alasan sebenarnya adalah ia menghabiskan malam bersama wanita lain di sebuah club malam.
"Aku sudah memesankan makanan kesukaanmu," ucap Denada dengan senyum yang masih terus merekah.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir kau itu benar-benar sempurna, Dena. Tapi, kenapa aku tidak bisa mencintaimu? Aku hanya mencintai tubuhmu.
Tanpa diduga, ternyata Richard dan Naya pun berada di restoran yang sama. Tempat duduk mereka hanya terpisahkan dengan satu meja saja. Nicolas mengernyitkan keningnya ketika melihat Richard tidak sendirian disana.
Dengan siapa dia restoran ini? Aku baru pertama kali melihatnya makan malam dengan seorang wanita lagi setelah ditinggalkan oleh Denada. Wanita mana yang bisa membuatnya tersenyum cerah seperti ini? Apakah dia wanita barunya Richard?
Nicolas begitu penasaran dengan wanita yang duduk berhadapan dengan Richard. Sayang sekali, wajah wanita itu tidak bisa terlihat olehnya.
***
Di tempat yang sama,
Richard dan Naya memesan makanan seafood. Tentunya hal ini atas kemauan Richard. Entah mengapa, sepulang kerja tadi, Richard selalu membayangkan untuk makan seafood langsung di restorannya. Padahal selama ini, ia selalu makan malam di rumah.
"Suapi aku sayang," pinta Richard dengan manjanya. Ia bahkan tidak malu untuk mengatakan hal tersebut di tempat umum.
Naya langsung menyuapi Richard saja daripada Richard terus merengek dan malah membuat mereka jadi pusat perhatian pengunjung yang lainnya.
Di dalam hati kecil Richard, ia benar-benar bersyukur atas kehadiran biji kacang di dalam rahim istrinya. Ia bisa bermanja-manja di mana pun dan kapan pun dengan alasan ia menginginkan sesuatu alias mengidam. Tentunya itu memang benar, bukan hanya sekedar ingin saja. Namun, di pagi harinya ia akan terus kembali mual. Semua akan terasa baik-baik saja bila ia dekat dengan istrinya. Richard pun tak mengerti mengapa itu bisa terjadi.
Apakah biji kacang dendam padanya? Sehingga selalu menyiksa dirinya setiap pagi? Dan di malam harinya biji kacang itu selalu membuat dirinya ingin terus bermanja-manja pada istrinya. Akan seperti apa nanti jika ia sudah lahir ke dunia? Richard sungguh berharap anaknya akan seperti istrinya yang sabar, lembut dan penyayang.
__ADS_1
"Setelah ini, kita pergi ke toko kue. Aku ingin sekali kue brownies yang ada toping kejunya," ucap Richard.
"Baiklah. Kau sadar tidak? Semenjak kau tahu aku hamil, selera makan mu jadi bertambah. Kau selalu ingin makan ini dan itu." Naya mengungkapkan perbedaan Richard ketika ia hamil. Nafsu makan Richard bertambah.
"Kan aku menggantikan dirimu untuk mengidam dan mengalami gejala-gejala kehamilan sayang. Wajarlah jika begitu," ucap Richard.
"Tapi, apa kau tahu? Aku ingin sekali merasakan gejala-gejala kehamilan ini. Aku ingin menikmati semua prosesnya."
Kau tidak tahu saja Nay, rasanya tidak enak. Kau akan terus muntah-muntah di pagi hari. Badanmu akan lemas. Mood mu akan berubah setiap waktunya. Aku pun tak ingin mengalami ini. Tapi daripada dirimu yang mengalaminya. Biarkan aku saja yang menggantikan mu.
"Ya sudah, setelah dia lahir. Kita buat anak lagi. Biar kau hamil dan merasakan ngidam dan gejala kehamilan. Mudah, kan?" jawab Richard dengan gampangnya.
Naya langsung mencubit lengan Richard yang berada di meja. Seenaknya saja ia berpikir seperti itu. Ia tidak ingin jarak anak pertama dan keduanya terlalu dekat. Sebab ia juga masih mengurus Elnan. Naya juga tidak ingin nantinya mereka kekurangan kasih sayang darinya. Karena kasih sayangnya selalu terbagi dengan adiknya yang masih kecil. Lalu dia juga bukan pabrik bayi yang bisa hamil kemudian bayinya keluar kemudian hamil lagi dan begitu terus selanjutnya.
Setelah semua makanan telah habis, Richard segera mengajak Naya keluar dan berpindah ke tempat lain. Sayangnya, justru ia bertemu dengan Nicolas dan Denada di tempat tersebut.
"Ternyata benar ini dirimu. Aku kira tadi aku salah mengira orang. Siapa wanita yang kau ajak bersamamu kemari?" tanya Nicolas yang benar-benar penasaran karena wajah si wanita terhalang oleh tubuh kekar Richard.
Setelah mengatakan itu, Richard benar-benar menarik Naya untuk menjauh dari mereka berdua. Tanpa sengaja wajah Naya terlihat oleh Nicolas.
"Deg!"
Betapa kagetnya Nicolas ketika melihat wanita yang ia cari. Berhari-hari ia sudah menunggu di sekitar rumah Richard untuk melihat wanita itu keluar dari rumah Richard. Namun, tak kunjung ia dapat melihatnya lagi. Lalu sekarang ia melihatnya bergandengan tangan dengan Richard. Bisa dipastikan jika wanita tersebut bukanlah keluarga Richard. Karena setahunya, kakak perempuan Richard telah tiada dan Richard tidak memiliki adik kandung selain adik sepupunya.
Ada hubungan apa di antara Richard dan gadisku itu? Tidak mungkinkan mereka menjalin hubungan? Akan sia-sia aku menunggunya selama ini jika ia benar-benar wanitanya Richard.
"Hei, sayang, are you okay?" Denada menyadarkan Nicolas dari lamunannya. Ia merasa heran sendiri, kenapa setelah bertemu Richard Nicolas jadi melamun dan tidak fokus. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Ah, iya, i am okay, ayo kita pulang!" ajak Nicolas mencoba menetralkan kembali pikirannya.
***
__ADS_1
Nicolas dan Denada kini sudah berada di apartemen mereka. Keduanya sudah berganti pakaian menjadi pakaian tidur. Jangan kalian pikir pakaian tidur mereka tertutup. Oh, tidak. Denada mengenakan lingerie berwarna hitam dan Nicolas hanya mengenakan celana pendek untuk menutupi tubuhnya. Sementara bagian atasnya ia biarkan polos tanpa sehelai kain pun. Keduanya berbaring di ranjang, dengan Denada yang memeluk Nicolas dari samping dan Nicolas dalam posisi terlentang.
Tangan Denada bergerak mengelus dada bidang milik Nicolas.
"Sayang, apa kau tidak menginginkanku malam ini?" tanya Denada dengan nada manjanya.
Nicolas tidak menjawab. Ia masih terus memikirkan wanita itu. Hatinya tidak tenang jika benar apa yang ia pikirkan tadi.
Karena tidak ada respon dari Nicolas, Denada langsung bangkit dari posisinya dan menaiki tubuh Nicolas. Benar-benar wanita yang tidak mengenal rasa takut.
"Kau hanya boleh memikirkan ku. Tatap mataku sayang. Apa kau tidak menginginkanku?" tanya Denada lagi. Kini mata keduanya saling menatap satu sama lain.
"Kau liar sekali sayang. Sudah berani menggodaku, hm?" tanya Nicolas tanpa melakukan apapun.
"Ya, aku berani menggoda mu. Apa kau tergoda?" tanya Denada sambil menyentuh setiap inci tubuh Richard dengan tangannya.
"Tentu."
Setelah mengatakan itu, Nicolas langsung mengubah posisinya. Kini Denada yang berada di bawahnya.
"Tanpa kau menggoda pun, aku akan selalu tergoda olehmu, sayang," ucap mulut manis Nicolas yang langsung menempelkan bibirnya ke bibir Denada.
Malam panjang pun mereka lewati berdua, meskipun tanpa penyatuan di antara mereka. Karena Nicolas pun tak mengerti kenapa ia malam ini benar-benar tidak menginginkan Denada. Padahal sebelumnya tidak ada yang bisa menggoyahkan tubuhnya selain Denada. Apakah karena gadis kecil itu?
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.