Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 72 - Ele yang kesepian


__ADS_3

Suara rintikan hujan terdengar begitu jelas di telinga Nicolas. Ia juga merasakan hawa dingin di tubuhnya yang akhirnya membuatnya terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih sedikit terasa pusing akibat mabuknya semalam.


"Uh, pusing. Aku ada dimana sekarang?"


Nicolas pun beranjak dari ranjang dan membersihkan tubuhnya supaya segar kembali. Tak perlu berlama-lama, Nicolas keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang sudah disediakan disana.


Ia pun melihat lemari, dan membuka isinya. Rupanya ada banyak pakaian disana terutama untuk laki-laki, kemudian ia memilih untuk dikenakannya. Selesai itu, ia langsung keluar dari kamar. Setelah ia perhatikan ruangan yang ia lewati, rupanya tempat yang ia pijak saat ini adalah mansion sepupunya.


Terdengar suara genderang perang di dapur, Nicolas pun berjalan ke arah sana. Ia melihat Rico membuat omelette untuknya. Di meja sudah ada air madu untuk meredakan mabuknya. Nico meminumnya dan melihat kekacauan yang dibuat Rico di dapurnya sendiri.


Omelette yang Rico buat sedikit gosong. Namun, itu tidak masalah selagi masih bisa dimakan.


"Memang kau pernah memasak?" tanya Nicolas tiba-tiba kala Rico sedang melakukan plating.


"Tidak," jawab Rico.


"Lalu kenapa sekarang kau mau melakukannya?" tanya Nicolas penasaran.


"Karena bibi yang biasanya memasak pulang kampung. Jadi, sesekali jika aku mau. Aku akan memasak, ya meskipun hasilnya tidak memuaskan," ucap Rico sambil melihat mahakaryanya yang tidak bisa dibanggakan itu.


"Em, begitu."


Mereka berdua pun melakukan sarapan bersama. Selesai sarapan, Nicolas bertanya pada Rico.


"Kenapa aku bisa ada di mansion milikmu? Darimana kau tahu keberadaan ku?"


"Aku menelepon mu dan wanita yang mengangkatnya yang memberitahukan keberadaan mu," jawab Rico.


"Nic, selesaikan masalahmu dengan Denada. Aku tahu kalau dia hamil anakmu. Segera langsungkan pernikahan kalian daripada karier mu hancur," sambung Rico lagi.


"Tidak, aku akan menggugurkan janin itu. Aku tidak menginginkannya. Sebuah pernikahan akan terlaksana jika aku menikah dengan gadis yang menolongku," kekeh Nicolas.

__ADS_1


Rico menghela napas kasar. Ia harus membujuk Nicolas untuk tidak menggugurkan janin itu. Ia tidak ingin rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa akhirnya gagal.


"Kau masih mengharapkannya? Bahkan selama bertahun-tahun pun kau masih belum bisa menemukannya. Come on, Nic! wanita itu tidak hanya dia saja," ucap Rico menyadarkan sepupunya.


"Ya, aku memang masih mengharapkannya. Aku juga sudah menemukannya. Ia berhenti di rumah Richard kala aku mengikutinya. Aku juga pernah berjumpa dengannya ketika ia makan malam dengan Richard. Yang tidak aku tahu, apa hubungan dia dengan Richard."


Mendengar jawaban Nicolas, membuat Rico bertanya-tanya. Sungguh tidak mungkin jika gadis itu adalah wanita Richard. Ia masih mengingat dengan jelas wajah dan penampilan wanita yang menolong sepupunya kala itu.


Flashback


Pada saat itu, Rico sedang melakukan observasi secara langsung pada pemasok sayur yang masuk ke restorannya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia pun melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ia menjawab panggilan tersebut.


"Maaf sebelumnya, apa anda keluarga dari si pemilik ponsel ini?" tanya seorang wanita yang meneleponnya menggunakan ponsel milik sepupunya.


"Ya," jawab Rico.


"Bisakah anda ke rumah sakit xxxx sekarang? tepatnya di ruang IGD. Aku akan menjelaskannya nanti setelah kau sudah berada di rumah sakit," ucap wanita itu.


"Baiklah."


"Bisa kau ceritakan, apa yang terjadi padanya?" tanya Rico.


"Jadi, begini. Saya tadi sedang berjalan pulang ke rumah. Namun, saya melihat sebuah mobil yang ringsek di depan mata saya. Posisinya tidak ada seorang pun disana. Saya tidak tahu pasti apa penyebabnya. Dengan rasa kemanusiaan yang saya miliki akhirnya saya menelpon ambulan dan membantunya keluar dari mobil itu," ucap wanita itu.


"Sebelumnya terima kasih karena atas kebaikan hatimu. Sepupuku bisa segera dilarikan ke rumah sakit. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Rico.


"Kata dokter lukanya tidak terlalu parah. Hanya saja karena kakinya terhimpit saat saya mengeluarkannya dari mobil, membuat kakinya sedikit susah untuk digerakkan. Tapi, kata dokter rasa sakitnya itu tidak akan lama. Karena saya segera menelpon ambulan dan membawanya ke rumah sakit."


Rico pun mengerti ucapan wanita itu. Sesekali ia melihat penampilan wanita yang menolong sepupunya. Kaos oversize dipadukan dengan celana jeans yang tidak ketat. Bisa dikatakan wanita itu hanya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Pakaiannya saja tidak mewah dan terkesan biasa saja. Wajahnya natural tanpa ada polesan make up sedikit pun. Tubuhnya mungil dan tingginya pun hanya sebahunya. Benar-benar wanita biasa.


Flashback end.

__ADS_1


Tidak mungkin selera Richard berpindah pada wanita yang bahkan dikatakan seksi pun tidak bisa. Perbedaannya sungguh sangat terlihat jelas dengan Denada.


"Mungkin saja dia kerabat jauh Richard yang menginap di rumah Richard," ucap Rico yang tidak mau memikirkan hal buruk.


"Tapi rasanya tidak mungkin. Richard melihat wanita itu dengan tatapan pada wanita yang ia sukai bukan pada saudara," bantah Nicolas.


"Daripada kau terus memikirkan hal tidak penting. Lebih baik kau selidiki saja sendiri dan memastikannya," usul Rico.


"Sudah, tapi aku tidak pernah melihatnya keluar dari rumah Richard lagi. Dia seperti menghilang dari peradaban," jawab Nicolas.


"Ya, sudahlah. Lebih baik kau memikirkan Denada dan kehamilannya saja. Kasian janin yang ada di dalam perutnya," ujar Rico yang terus membujuk Nicolas secara halus.


"Oh iya, setelah kau bangun, kau disuruh segera pulang oleh Denada. Ia ingin mengatakan suatu hal padamu," ujar Rico lagi.


Nicolas hanya menghela napas kasar. Ia benar-benar masih ingin menghindari Denada. Ia belum siap mendengar paksaan dan omelan Denada yang akan memintanya untuk terus menikahinya.


****


Di sebuah kamar, seorang gadis tengah gabut dengan kesendiriannya. Ia masih belum bisa tidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Sebuah ide jahil pun terlintas di pikirannya. Ia akan mengganggu waktu tidur sepupu lelakinya. Mumpung hari itu juga adalah hari weekend. Sudah jelas sepupunya tidak akan pergi ke kantor.


Perbedaan waktu antara kota Jakarta dan Paris adalah 5 jam. Itu berarti di sana sudah pukul 8 pagi. Sudah saatnya Richard bangun dari tidurnya.


Ele melakukan panggilan video pada sepupunya. Ele menunggu hingga kakak sepupunya menerima panggilan video tersebut.


"Aih, dasar kebo! Masa jam segini belum bangun! Keenakan malam pertama terus kali ya? Jadi lupa mana yang namanya pagi sama malam!" gerutu Ele karena panggilannya masih terus berdering.


Ia benar-benar kesepian. Ingin sekali rasanya ia kembali kesana secepatnya akan tetapi mami dan papinya belum mengizinkannya.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.

__ADS_1


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng. Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


__ADS_2