
Naya terbangun dari tidurnya. Sudah tidak ada Richard di sampingnya. Itu berarti ia kesiangan lagi.
"Kesiangan lagi! Huh! Kau ini istri macam apa Naya! Suami berangkat kerja seharusnya melayaninya, memakaikannya dasi, menemaninya sarapan dan mengambilkan sarapan!"
Naya memarahi dirinya sendiri. Meskipun Richard tak akan mempermasalahkan itu, akan tetapi sebagai seorang istri ia merasa gagal.
Sebelum keluar dari kamarnya, Naya membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Selesai itu, ia pergi menuju kamar Elnan. Bayi kecil itu tengah dimandikan oleh Nani, baby sitter Elnan, sebelum Naya menjadi ibu susu. (Takutnya kalian pada lupa siapa Nani, hehe)
"Wah, anak mama sedang mandi," ujar Naya pada Nani.
"Iya mama, aku kan pintar. Mandi itu buat tubuh aku jadi wangi," ucap Nani menirukan suara anak kecil seolah-olah ia adalah Elnan.
"Hihi, lucu ya, kalau nanti Elnan sudah pandai bicara. Pasti akan ada banyak hal yang ia pertanyakan," ucap Naya yang sudah tak sabar menunggu baby Elnan bisa berbicara.
"Iya, benar sekali Nona," balas Nani.
"Panggil Naya saja seperti biasanya. Padahal aku sudah berulang kali melarang kak Nani memanggil ku Nona. Aku masih Naya yang dulu," larang Naya.
"Tapi, jika tuan Richard marah bagaimana?" tanya Nani yang takut jika majikannya marah.
"Tenang saja, dia tidak akan marah karena aku yang memintanya," ucap Naya dengan yakinnya.
Nani pun akhirnya menurut saja apa yang diinginkan Naya. Kegiatan memandikan Elnan pun selesai. Nani menaruh Elnan di ranjang. Naya pun tidak berdiam diri saja, ia mengambil setelah baju untuk dipakai oleh Elnan.
Setelah bayi kecil itu selesai dipakaikan baju, Naya menggendong Elnan dan membawanya ke lantai bawah.
Di lantai satu, tepatnya di ruang keluarga, Ele dan mama Helen menonton film horror berdua. Tentunya itu semua atas paksaan Ele, karena mamanya selalu saja menonton sinetron di channel tv ikan terbang. Ele yang sebagai anak muda dan belum menikah, sangat tidak suka menonton acara tersebut. Ia lebih menyukai tontonan bergenre action, thriller, horror atau setidaknya romance anak muda.
"Ih, serem banget hantunya. Sudah ya nontonnya. Mama takut Ele," rengek sang mama.
"Seru ma, kalau mama tidak mau nonton ya tidak apa-apa. Sendiri pun aku berani," ucap Ele yang masih asik menonton.
"Aih, maksud mama, Mama ingin nonton sinetron kesukaan mama."
Mama Helen menjelaskan apa maksud dari perkataannya tadi.
"Tidak mau. Aku bosan tiap hari ceritanya tentang si istri yang dikhianati suaminya terus karena selingkuh. Apa mama tidak ada tontonan lain?" tanya Ele tanpa menoleh pada mama Helen.
"Tidak, acara yang lain kurang menarik," jawab sang mama.
"Mama menonton sinetron itunya kalo aku lagi kuliah saja. Hari ini aku sedang tak ada mata kuliah. Aku ingin di rumah seharian," ujar Ele lagi yang tidak mau mengalah.
__ADS_1
Tiba-tiba Naya datang dengan menggendong Elnan dan meletakkan bayi itu di atas kasur. Mama Helen jadi punya tontonan lain, yaitu melihat cucunya aktif bergerak di atas kasur rasfur yang memang disediakan di ruang keluarga.
"Mama sudah ada tontonan baru, kau nikmati saja hantu kesukaanmu itu. Jangan sampai kau juga bertransformasi menjadi hantu Ele," ujar sang mama meledek Ele.
"Ih, mama kira aku ini apaan. Sampai bisa bertransformasi menjadi hantu. Kalau bertranformasi jadi wonder woman baru aku mau," celetuk Ele.
Naya yang berada di antara Ele dan mama Helen pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rupanya tidak hanya suaminya yang bisa membuat Ele kesal, ternyata sang mama pun demikian. Ia pun memposisikan dirinya duduk di samping Ele, menonton film horror bersama adik sepupu iparnya itu.
***
"Akhirnya rencana pertamaku berhasil. Sebagian klien mu memutuskan untuk memutuskan kontrak dengan perusahaan mu. Kau pasti akan kebingungan Richard. Karena mereka semua sudah aku paksa untuk bersekutu denganku. Dengan perginya kau ke Paris, aku akan mudah untuk mendekati istrimu," ujar Nicolas sambil tersenyum menyeringai di depan komputernya.
Rupanya yang dimaksud ia tengah sibuk saat mengunjungi Rico adalah sibuk untuk mengacaukan perusahaan Richard yang berada di Paris.
"Ini baru permulaan, nantikan kejutan dariku yang selanjutnya," ujar Nicolas dengan senyuman yang penuh arti.
Nicolas benar-benar dibutakan oleh cinta yang ia rasakan. Entah itu memang benar-benar cinta atau hanya sekedar obsesi semata. Intinya ia menginginkan Naya untuk menjadi miliknya.
***
Richard mendorong sebuah koper dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. Mama, Ele dan Naya berdiri di depan rumah untuk mengantar kepergian Richard meskipun tidak sampai ke bandara.
Sebelum pergi, Richard tidak pernah lupa untuk mengisi baterai tubuhnya dengan sebuah ciuman panas yang ia lakukan dengan Naya. Tidak ada rasa malu bagi Richard meskipun ciuman itu dilakukan di depan keluarga dan sahabatnya.
Dasar bucin! Ciuman kok tidak tahu tempat!
Alex mengumpat kelakuan Richard di dalam hatinya.
Sepupu kampr*t! Mataku lagi-lagi ternoda oleh mereka berdua! Aih, lama-lama aku bisa gila!
Berbeda dengan mama Helen. Ia tak ambil pusing melihat kelakuan anaknya. Toh mereka sudah halal. Beda ceritanya jika mereka belum menikah. Ia akan jadi orang pertama yang memaksa Richard untuk menikah seperti waktu itu.
"Ayo Lex, Leon pasti sudah menungguku di bandara," ajak Richard pada Alex. Karena memang Alex lah yang ia jadikan supir untuk mengantarnya ke bandara. Alex dan Richard pun memasuki mobil. Ketika pintu sudah tertutup sempurna, tiba-tiba Ele berteriak.
"Tunggu dulu! Aku ikut, sekalian mau beli ice cream di supermarket."
Untung saja, Alex belum menyalakan mobil tersebut, jadinya ia masih bisa mendengar teriakan Ele yang begitu nyaring di telinganya. Ele pun masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kursi kemudi. Richard duduk di samping Alex.
Mobil pun keluar dari kediaman Richard. Di perjalanan, Ele membuka suaranya.
"Sebenarnya aku ikut bukan karena ingin beli ice cream. Tapi ingin cerita hal penting dengan kakak," ujar Ele.
__ADS_1
"Aku tahu, aku bisa menebaknya dari gelagat mu. Apa yang ingin kau ceritakan?" Richard menanyakan perihal masalah yang ingin Ele ceritakan.
"Kemarin siang, aku dan kak Naya pergi ke toko bunga. Disana ada seorang laki-laki yang terus menatap kak Naya. Aku yang memang sudah hapal dengan berbagai tatapan mata lelaki, langsung tahu bahwa laki-laki tersebut menginginkan kak Naya. Lalu, laki-laki tersebut menyapa kak Naya dan ingin berkenalan dengan kak Naya. Aku langsung mengatakan saja jika dia adalah kakak ipar ku," jelas Ele.
"Bagus! Kau pintar juga bocah!" sahut Alex memberikan pujian pada Ele.
"Aku bukan bocah!" elak Ele yang tidak mau dipanggil bocah.
"Lalu apa kau ingat nama laki-laki itu?" tanya Richard mencoba tenang. Karena jika ia emosi, tentu saja ia akan membatalkan penerbangannya dan memilih untuk menghajar laki-laki yang berani berkenalan dengan wanitanya.
"Duh! Siapa ya? Aku lupa-lupa ingat kak. Nic .. Nic .. Ah, iya itu Nicolas namanya," ucap Ele yang berhasil mengingat nama laki-laki itu.
Tangan Richard mulai mengepal. Dua tanduk di kepalanya mulai muncul meskipun transparan. Tubuhnya terasa berapi-api.
"Tapi, sepertinya kak Naya pernah menolong lelaki itu, karena si laki-laki mengungkit tentang kecelakaan dan kak Naya melupakan kejadian itu," jelas Ele lagi.
Rasanya Richard benar-benar ingin membatalkan saja penebangan malam ini.
"Putar balik! Aku tidak jadi terbang ke Paris!" perintah Richard yang mulai emosi.
Sementara Alex, ia tidak mengikuti perintah Richard. Ia tahu Richard emosi sekarang, akan tetapi perusahaannya yang ada di Paris pun membutuhkannya.
"Tetap pada tujuan awal mu. Kau harus pergi ke Paris malam ini. Urusan Nicolas biar aku saja yang mengurusnya. Istrimu akan aman. Ada aku yang menjaganya dari jauh, dan Ele yang menjaganya dari dekat. Sepupu bar-bar mu itu kan jago karate. Nicolas bisa langsung ditendang olehnya jika menyentuh istrimu," ucap Alex membujuk Richard untuk tidak berubah pikiran.
Ele sudah keluar sumbu panas juga, karena dikatai bar-bar oleh sahabat sepupunya. Tapi, ia berusaha menahan kekesalan itu, agar tidak menambah masalah lagi.
"Baiklah, aku percayakan keselamatan istriku pada kalian," ujar Richard yang mempercayai sepupu dan sahabatnya.
"Akhirnya aku tahu siapa yang dimaksud Rico waktu itu," ujar Richard lagi.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_
__ADS_1