
Satu minggu telah berlalu. Selama seminggu juga Richard selalu merasa mual di setiap paginya. Ia menganggap semua itu hanyalah masuk angin. Jadi Richard tidak memeriksanya ke dokter. Namun, di dua hari terakhir rasa mual itu semakin menjadi-jadi ketika ia berada di kantornya.
"Hoek ... hoek ... hoek ..." Richard memuntahkan isi perutnya di wastafel ruangannya. Leon yang mendengar suara muntahan pun langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Betapa terkejutnya ia, saat melihat bosnya terkulai lemah di lantai sambil terduduk.
"Bos, bos kenapa?" tanya Leon khawatir. Richard tak menjawab ucapan Leon saking lemasnya. Ia pun berinisiatif menelpon salah satu sahabat Richard untuk mengantar dan menemani Richard ke rumah sakit. Andai saja tidak ada meeting sebentar lagi. Mungkin saja ia bisa mengantar dan menemani bosnya itu.
"Halo, halo Tuan Alex, saya minta bantuan anda untuk mengantar bos Richard ke rumah sakit sekaligus menemaninya. Dia muntah-muntah terus sampai tubuhnya lemas. Saya tidak bisa menemaninya karena ada rapat penting sebentar lagi," jelas Alex langsung pada intinya.
"Baiklah aku akan kesana sekarang."
Panggilan tersebut langsung dimatikan oleh Alex. Leon merasa lega, karena Alex bisa menemani bosnya.
Tak lama kemudian Alex datang, ia kemudian melihat Richard yang wajahnya sudah pucat dan tubuhnya lemas. Dengan segera, Alex memapah Richard untuk keluar dari ruangannya dan membawanya ke dalam mobil.
Di perjalanan, Alex merasa heran. Richard adalah tipe orang yang jarang sakit karena ia selalu menjaga pola makan dan melakukan olahraga secara rutin.
"Kau ini masuk angin atau apa sih Rich? Wajahmu sudah pucat seperti mayat." tanya Alex sambil menyindir Richard.
"Diam kau!" kesal Richard yang mendengar ucapan Alex. Rasanya kepalanya nyut-nyutan sekarang.
"Lagi sakit aja masih galak, heran!" ujar Alex.
Mobil pun berhenti. Rupanya mereka sudah sampai di rumah sakit terdekat. Alex kembali memapah Richard ke dalam rumah sakit.
Di sebuah ruangan, Richard di periksa oleh seorang dokter. Selesai diperiksa, Alex menanyakan keadaan sahabatnya itu.
"Sahabat saya kenapa dok? Apa dia sakit parah?" tanya Alex lalu mendapatkan pukulan pelan di tangannya dari Richard.
Enak saja mengatakannya sakit parah. Richard selalu rutin medical check up setiap bulannya. Jadi ia benar-benar mengetahui kondisi kesehatannya. Tidak mungkin ia menderita sakit parah.
__ADS_1
"Sahabat anda baik-baik saja. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan," jawab sang dokter sambil tersenyum.
"Bagaimana mungkin saya baik-baik saja dok? Setiap pagi saya selalu mual. Lalu siangnya juga begitu. Bahkan tubuh saya sampai lemas. Dengan mudahnya anda mengatakan saya baik-baik saja! Apa anda ingin saya keluarkan dari rumah sakit ini!?" Richard yang awalnya berbicara dengan nada rendah mulai tersulit emosinya pada sang dokter.
"Sudah berapa lama anda merasakan mual di setiap paginya?" Sang dokter tak menjawab pertanyaannya ia malah balik bertanya pada Richard.
"Hampir seminggu. Cepat katakan saya sakit apa!? Sebelum saya bertindak dok!" ancam Richard.
"Anda memang baik-baik saja Tuan. Tidak ada gejala penyakit apapun di dalam tubuh anda. Mungkin saja masalahnya ada pada istri anda jika anda sudah menikah tentunya," jawab sang dokter dengan entengnya. Ia bahkan tidak takut dengan ancaman Richard. Karena ia yakin feeling nya tidak akan salah.
"Apa hubungannya rasa mual ini dengan istriku!? Kau ini sebenarnya dokter atau bukan sih! Tinggal bilang saja saya sakit apa kok susah!" gerutu Richard.
Alex yang melihat Richard terus berbicara kasar pada sang dokter pun ingin sekali melakban mulut sahabatnya itu. Tidak bisakah ia berbicara tanpa harus menggunakan emosinya?
"Maaf dokter. Sabahat saya ini orangnya agak emosian. Tolong dipahami. Ia tidak berniat untuk mengeluarkan anda dari rumah sakit ini," ujar Alex agar perdebatan itu segera berakhir.
"Em, begini saja dokter. Tolong dokter jelaskan sejelas-jelasnya pada saya apa yang terjadi pada sahabat saya. Biarkan dia berbaring saja disini," pinta Alex. Sang dokter pun mengangguk.
Setelah agak jauh dari Richard, ex meminta dokter untuk segera menjelaskan kondisi sahabatnya.
"Seperti yang sudah saya katakan tadi. Sahabat anda baik-baik saja. Tidak ada penyakit serius yang di deritanya. Untuk membenarkan apa yang saya pikirkan, sebaiknya periksakan juga istrinya ke dokter kandungan. Karena saya menduga jika istrinya tengah hamil sekarang. Tapi, ini hanya dugaan. Bisa saja saya salah," jelas sang dokter.
Alex sungguh tak percaya dibuatnya. Benarkah Naya hamil? Jika iya, seharusnya seorang suami atau istri yang mengetahuinya lebih dulu. Kenapa sekarang jadi dirinya yang pertama kali tahu? Ia benar-benar harus membujuk Richard untuk segera membawa Naya ke dokter kandungan untuk memastikan dugaan sang dokter ini.
"Baik dokter, terima kasih informasinya. Saya minta maaf atas kelakuan kurang ajar dari sahabat saya. Ia memang terkadang kejam seperti tadi," ujar Alex.
"Iya, saya memakluminya," balas sang dokter.
"Kalau begitu, kami pamit dokter." Sang dokter pun mengangguk. Alex segera berjalan mendekat ke Richard yang terbaring di ranjang.
"Ayo pulang!" Alex langsung menarik tangan Richard agar ia bangun dari posisi berbaringnya.
__ADS_1
"Apa yang dokter katakan?" tanya Richard penasaran.
"Aku akan mengatakannya nanti setelah mengantarmu pulang ke rumah. Cepat turun dari ranjang. Badanmu berat tahu!"
Richard mendengus sebal. Lagi-lagi ia tidak mendapatkan jawabannya. Sebenarnya sakit apa yang di deritanya? Kenapa dokter saja tidak bisa mendiagnosisnya? Apa peralatan di ruang sakit ini kurang memadai? Itulah sedikit pemikiran Richard.
"Jangan memikirkan yang aneh-aneh! Kau cukup diam dan ikuti perintah dan arahan ku saja," ujar Alex seolah bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Richard.
Akhirnya Richard pun tak lagi bertanya dan memikirkan hal yang aneh-aneh. Di perjalanan pun Richard diam tak bersuara. Alex bernapas lega. Untuk menaklukan Richard ia memang harus sedikit keras padanya.
Setelah beberapa menit, mereka pun sampai di kediaman Richard. Alex keluar dari mobil sambil memapah Richard lagi. Saat melihat ada orang yang mendekat padanya. Ia menanyakan keberadaan Naya.
"Bi, Naya kemana? Aku ingin bicara dengannya. Bisa minta tolong dipanggilkan?"
"Baik Tuan," ucap Bi Ani mengiyakan perintah sahabat majikannya itu.
Richard langsung mendelik. Matanya menatap tajam ke arah Alex. Ada urusan apa ia ingin berbicara pada istrinya? Jangan-jangan ia ingin merebut istrinya? Oh tidak bisa. Richard tidak rela jika itu terjadi.
"Kau! Apa yang ingin kau bicarakan dengan istriku!? Kau melunjak ya sekarang! Seenaknya menyuruh orang untuk memanggil istriku! Kau bahkan belum meminta izinku untuk bicara dengannya. Aku tidak mengizinkanmu untuk bicara dengannya. Apalagi menatap wajahnya. Aku tidak rela!"
Richard mengeluarkan semua amarahnya pada Alex. Alex menggelengkan kepalanya. Sepertinya dugaan dokter itu benar. Mungkin saja Naya benar hamil dan yang mengalami semua yang terjadi pada ibu hamil adalah dirinya. Buktinya emosinya sejak tadi tidak stabil seperti perempuan.
****
Kalau aku buat novel baru genre teen. Ada yang baca nggak?😅
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.