Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 104 - Syarat yang diajukan Alex


__ADS_3

Richard langsung pergi dari dapur, supaya tidak terkena serangan mematikan dari adik sepupunya. Sementara Ele ngomel-ngomel tidak berhenti.


"Huh! Dasar perjaka tua! Maunya apa sih! Dimana-mana kenapa selalu ada dia!? Kurang kerjaan banget! Bikin mood langsung hancur sekaligus!" gerutu Ele lalu meneguk minuman soda dengan sekali tegukan.


Untuk menghilangkan rasa kesalnya, Ele pergi ke kamarnya dan langsung menuju ke kamar mandi kemudian berendam air hangat untuk merefresh pikirannya.


Selesai mandi, Ele kemudian mengambil ponselnya yang ia letakan sembarang di ranjangnya.


Ketika hendak membuka pesan yang entah dari siapa, Ele tiba-tiba dikejutkan dengan video call dari Alex. Wanita itu langsung saja mengangkat panggilan video tersebut.


"His! Kak bisa tidak sih beri aku napas sedikit! Di luar rumah aku sudah hampir gila karena melihatmu ada di manapun aku berada! Biarkan di rumah aku hidup dengan tenang!"


Ele langsung marah-marah pada Alex. Sementara Alex ia malah tersenyum karena Ele terlihat menggemaskan ketika sedang marah.


"Dasar gila! Harusnya kau marah balik ketika aku marah bukan malah tersenyum!"


Seketika Ele langsung mematikan panggilan video tersebut. Ia kemudian memukul bantal yang ada di ranjangnya.


****


Di sisi Alex, ia masih tersenyum meskipun panggilan videonya terhenti. Baru kali ini ia menemukan hal baru yang tidak pernah membuatnya bosan.


"Ele, akan aku kejar kemana pun kau pergi. Kau sudah membuatku kembali merasakan apa yang namanya cinta. Tak akan aku biarkan kau lari dariku."


Tekad Alex begitu kuat untuk mengejar wanita pujaan hatinya. Ia bahkan sudah menyiapkan beberapa mata-mata untuk memantau Ele dari kejauhan.


Terkadang Alex sampai terheran-heran pada dirinya sendiri. Yang terkesan berlebihan ketika mengejar Ele, tak seperti ketika ia mengejar wanita lain.


Alex menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ia menatap beberapa foto masa kecil mereka. Dimana saat itu, Ele selalu mengikuti kemana pun Richard pergi, dan dari situ juga Alex mengenal wanita itu.


"Kau masih tetap sama seperti dulu. Bar-bar, ceplas-ceplos dan selalu cantik," puji Alex sambil menyentuh wajah Ele di layar ponselnya.


Tiba-tiba, sebuah panggilan pun masuk ke ponsel Alex. Hal itu membuat Alex kesal dan kecewa karena mengganggu kesenangannya. Apalagi yang menelponnya bukanlah orang yang diharapkan oleh Alex. Semakin menambah pula kekesalan tersebut.


"Ada apa?" tanya Alex dengan malasnya.

__ADS_1


"Hii, kau ini seperti Ele saja yang sedang bad mood. Aku menelpon mu karena aku mau meminta bantuan mu," ujar Richard.


"Apa?" balas Alex lagi dengan ucapan seadanya.


"Tolong gantikan aku di pertemuan bisnis yang ada di luar kota. Tenang saja kau tidak akan sendiri. Leon akan menemanimu. Aku tidak bisa kesana karena khawatir dengan kehamilan istriku. Dia selalu saja melanggar perintahku. Daripada terjadi hal buruk padanya. Lebih baik aku limpahkan tugasku padamu. Tenang saja, kau akan mendapatkan imbalan yang besar dariku. Jadi, tolong sekali ini saja gantikan aku ya?" pinta Richard dengan nada memohon.


Akhirnya dengan berat hati, Alex pun mengiyakan dengan syarat, Richard harus membuat Ele untuk seharian berkencan dengannya setelah pertemuan bisnis itu dilaksanakan.


"Aku akan turuti permintaanmu, asalkan kau bisa membujuk Ele untuk berkencan denganku satu hari full. Bagaimana?"


"Gampang," jawab Richard dengan entengnya.


"Oke, kalau sudah tidak ada lagi yang mau kau bicarakan. Aku tutup teleponnya."


Panggilan pun terputus karena Alex langsung menutupnya. Ia lagi-lagi tersenyum karena akan berkencan dengan Ele meskipun harus dengan cara meminta bantuan Richard.


***


Sementara di kediaman Richard, tepatnya di kamarnya. Laki-laki itu mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Kenapa ia dengan mudahnya mengiyakan permintaan Alex? Padahal Richard tahu sendiri, Ele bukanlah wanita yang bisa dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia sukai.


Richard sampai berjalan mondar-mandir di kamarnya.


Naya yang baru memasuki kamar pun terheran-heran dengan tingkah laku Richard.


"Kau kenapa? Ada masalah? Kau terlihat sangat gelisah."


"Iya, aku sedang dilanda masalah besar. Bantu aku sayang," ucap Richard yang langsung meraih kedua tangan Naya dan meminta bantuan istrinya.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Naya.


Sebelum bicara lebih lanjut, Richard mengajak Naya untuk duduk di ranjang, ia ingin bercerita sambil duduk karena takut Naya akan merasa pegal jika berdiri terlalu lama.


"Aku meminta Alex untuk menggantikan aku pada pertemuan bisnis. Alex mau menerima permintaanku asalkan bisa berkencan dengan Ele seharian. Lalu aku langsung mengiyakan tanpa meminta persetujuan dari Ele secara langsung. Bagaimana ini?"


Naya langsung menghela napasnya. Terkadang ada kalanya orang yang jenius pun akan kalang kabut dengan sesuatu yang tak bisa ia prediksi.

__ADS_1


"Seharusnya kau jangan langsung mengiyakan. Itu namanya kau memanfaatkan adik sepupumu sendiri," ucap Naya.


"Sudah terlanjur, lalu aku harus apa?" tanya Richard yang benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


"Ya, bicara langsung pada Ele," saran Naya.


Richard langsung mengerucutkan bibirnya. Jika ia berbicara terus terang pada adik sepupunya itu, bisa-bisa ia akan dikerjai habis-habisan oleh Ele.


"Tidak bisa. Kalau bicara langsung akan sangat merugikan aku sayang. Tolong pikirkan cara lain. Saat ini aku sedang tak bisa memikirkan caranya, seakan semua cara itu menghilang dari otakku."


Naya pun berpikir dan terus berpikir. Namun, tak ada satu pun cara yang ia temukan.


Tiba-tiba Richard menemukan sebuah ide cemerlang di otaknya.


"Aku sudah menemukan idenya. Kau haus bantu aku untuk melancarkan semuanya sayang. Akan aku ceritakan semuanya, jika Alex sudah pulang dari pertemuan bisnisnya nanti," ujar Richard lalu tersenyum.


Percuma saja meminta saran dari Naya, kalau pada akhirnya Richard sendirilah yang menemukan cara tersebut. Namun, setidaknya komunikasi di antara keduanya tak pernah hilang meskipun hanya pembicaraan mengenai hal-hal kecil.


"Baiklah."


Setelah perbincangan mengenai Ele selesai, Richard memegang perut Naya dan mengusapnya. Lalu mendekatkan kepalanya ke perut Naya untuk mencium perut Naya yang sudah membesar.


"Halo sayang, ini papa. Apa kalian baik-baik saja di dalam perut mama? Kalian tidak bertengkar karena berebut makanan yang mama makan, kan?" tanya Richard yang membuat Naya tersenyum. Agak sedikit konyol sih. Namun, Naya tak mau memprotesnya. Ia menikmati kekonyolan Richard dan keposesifan Richard yang terkadang membuatnya kesal.


Kedua janin yang ada di dalam kandungannya tidak berada di dalam satu plasenta yang sama sehingga mereka tidak harus saling berbagi makanan satu sama lain. Mereka merupakan bayi kembar fraternal yang memiliki dua kantung ketuban dan dua plasenta secara terpisah.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya

__ADS_1


@yoyotaa_


__ADS_2