
Denada sudah berada di rumah sakit sekarang. Ia tengah memeriksakan kandungannya di dokter kandungan.
"Tolong dijaga kandungannya ya Bu, usianya sudah menginjak 6 Minggu. Saya harap kurang-kurangi aktivitas yang membuat janinnya terguncang seperti berhubungan suami istri. Lalu penuhi juga nutrisi untuk si janin yang ada dalam kandungan. Saya akan berikan vitamin agar kandungan ibu kuat," jelas sang dokter.
"Baik, terima kasih dokter," ucap Denada.
Selesai memeriksakan kandungan, Denada langsung pergi ke kantor Nicolas. Ia ingin memberitahukan usia kehamilannya pada Nicolas. Sesampainya di ruangan Nicolas, pria yang ia cari rupanya tidak ada di ruangan. Ketika melihat asisten Nicolas, Denada langsung menanyakan keberadaan Nicolas.
"Jer, Nicolas kemana?" tanya Denada.
"Bos sedari pagi belum ada ke kantor Nona. Kemungkinan ia masih melakukan pertemuan di luar," jawab sang asisten dengan jujur.
"Oh, begitu. Baiklah. Jika nanti dia sudah ada di kantor. Tolong katakan kalau aku mencarinya."
"Baik Nona," jawab asisten Nicolas.
Denada berjalan menuju ke ruang pemotretan. Jadwalnya hari ini adalah pemotretan untuk beberapa majalah kecantikan dan fashion. Untungnya, perutnya belum terlihat buncit, jadi ketika ia mengenakan pakaian seksi, orang tidak akan mencurigainya hamil, mereka pasti akan bilang jika berat badannya naik.
***
Di malam harinya, di sebuah club malam, tepatnya di club milik Alex, Nicolas sedang minum-minum bersama banyak wanita. Ia begitu stres memikirkan Denada yang kini tengah hamil. Ia bahkan sengaja menghindari Denada dan tidak menanggapi semua pesan maupun panggilan dari Denada. Biarkan saja Denada mencarinya, sedangkan dia sibuk dengan surganya dunia.
Alex yang memang pemilik club tersebut melihat Nicolas yang kini sudah setengah mabuk. Sudah tidak aneh lagi baginya jika melihat Nicolas mabuk seperti itu. Yang ia pikirkan hanya satu. Tidak ada Denada disana. Apa mereka bertengkar? Sehingga membuat Nicolas mabuk tanpa Denada?
"Aih, ngapain juga mikirin orang yang sudah membuat sahabatku terpuruk! Biarkan saja dia! Toh tidak ada untungnya bagiku jika membantunya," ucap Alex kemudian masuk ke dalam ruangan VIP.
Disana sudah ada Ethan yang menunggunya dengan beberapa botol wine di meja. Alex langsung duduk di hadapan Ethan.
"Ternyata sepi juga kalau tidak ada Richard," ungkap Ethan yang merasakan perbedaan ketika tidak ada Richard bersama mereka.
"Biarkan saja dia membucin dengan istrinya. Lagipula bukannya itu bagus? Richard bisa kembali seperti dulu lagi. Dia kan memasuki tempat seperti ini, kemudian minum-minum karena masalah hidupnya. Sekarang semuanya sudah kembali seperti semula. Bahkan lebih bahagia dari sebelumnya. Tinggal kita saja yang belum memiliki pasangan," jawab Alex yang begitu panjang.
"Kau benar, terkadang aku juga memikirkan tentang pendamping hidupku. Namun, sampai sekarang jodohku masih buram dan belum terlihat," ucap Ethan menanggapi.
"Senasib. Ngomong-ngomong kau tadi melihat Nicolas dengan para wanita di depan tidak?" tanya Alex.
__ADS_1
"Ya, dia sudah hampir 2 jam disitu. Entah masalah apa yang ia hadapi. Sepertinya ia enggan untuk pergi dari club mu," jawab Ethan.
Alex mengangguk-anggukkan kepalanya.
***
Di tempat lain, di apartemen Nicolas, Denada begitu gusar dan gelisah menunggu kedatangan Nicolas. Ia sudah spam chat dan menghubungi Nicolas ratusan kali tapi tak ada satu pun yang ditanggapi oleh Nicolas. Rasa cemas pun menghampiri dirinya.
"Nic, kau sebenarnya ada dimana? Apa kau baik-baik saja? Kau tidak mengalami hal buruk di jalan, kan? Aku benar-benar mengkhawatirkan mu."
Denada bahkan sudah menghubungi teman dekat Nicolas, asistennya Nicolas juga. Mereka mengatakan jika tak mengetahui keberadaan Nicolas. Bahkan, ternyata Nicolas tak ke kantor setelah pertemuan di luar.
Sejenak, satu nama terlintas di kepala Denada. Ia pun mencari kontak nomor orang itu dan berharap nomornya masih sama.
"Halo," ucap orang yang ditelepon Denada.
"Halo Rico, ini aku Denada," ucap Denada memberitahukan dirinya.
"Oh, kau ternyata. Aku pikir siapa. Ada apa malam-malam begini meneleponku?" tanya Rico yang penasaran maksud Denada.
"Aku hanya ingin menanyakan. Apa kau hari ini bertemu dengan Nico?" tanya Denada.
"Apa kau tahu sekarang Nico ada dimana? Aku mencoba menghubunginya namun tidak diangkat olehnya. Aku khawatir terjadi suatu hal buruk padanya," ungkap jujur Denada.
"Baiklah, aku akan mencoba menghubunginya. Kau jangan cemas Dena. Nico pasti akan segera pulang."
"Oke, terima kasih Rico. Aku tutup teleponnya ya. Jika Nico menjawab telepon mu. Tolong kabari aku," pinta Denada.
"Baik."
Sambungan telepon pun diputus oleh Denada. Rico merasa heran. Secuek-cueknya sepupunya, Nicolas tidak akan mungkin menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun atau tidak menghubungi wanitanya. Biasanya ia akan beralibi ada pertemuan bisnis ataupun alasan lainnya.
Rico pun menghubungi Nicolas dan tersambung. Terdengar suara wanita yang berbicara disana.
"Halo," ucap seorang wanita.
__ADS_1
"Katakan dimana pemilik ponsel ini sekarang!" Rico berbicara dengan Anda yang sedikit emosi.
"Di club xxxxxxx," jawab si wanita.
"Baik, kau tetap disana, sampai aku datang," pinta Rico kemudian mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
Rico mengambil jaket yang tergantung di lemarinya kemudian meraih kunci mobil yang ada di nakas meja tempat tidurnya.
****
Sesampainya di club yang diucapkan wanita tersebut, Rico langsung mengedarkan matanya ke sekeliling club untuk mencari sepupunya. Rupanya Nicolas sudah mabuk dengan beberapa wanita di sampingnya.
"Kalian semua boleh pergi," perintah Rico pada para wanita yang bersama Nicolas. Semua wanita itu pun pergi karena ketakutan melihat raut wajah Rico yang tak bersahabat.
"Hei, bangun!" Rico menepuk-nepuk pipi sepupunya supaya sadar dari mabuknya.
"Hahaha, bodoh! Kenapa aku bisa lupa memakai pengaman saat menanam benih ke dalam perutnya? Sekarang dia hamil! Sementara aku, aku tidak mencintainya dan tidak mengharapkan anak yang ada di dalam perutnya! Haruskah aku gugurkan saja janinnya? Atau aku campakkan saja dia jika dia tidak mau menggugurkan janinnya!" ucap Nicolas yang terus merancau tentang kehamilan.
Bisa Rico duga, jika dia yang dimaksud Nicolas adalah Denada.
Jadi, ini alasan kenapa Nico menghindari Denada dan tak menanggapi semua pesan dan panggilannya.
"Kau bodoh sekali! Bisa-bisanya melupakan hal penting itu! Jika begini, Denada akan semakin mengekang mu. Atau bisa saja dia tahu kalau kau masih suka bermain wanita di belakangnya," sahut Rico menanggapi Nico yang masih mabuk.
"Aku sudah tak peduli lagi padanya. Yang aku inginkan sekarang adalah gadis yang dulu pernah menolongku. Aku menginginkannya. Bukan hanya menginginkannya untuk aku jamah tubuhnya, tapi aku menginginkannya untuk jadi istriku," jawab Nico dengan lantangnya lalu pingsan.
"Rupanya kau masih mencari gadis itu, kupikir kau sudah melupakan gadis itu. Pasalnya, kau hanya melihatnya di hari itu saja. Bagaimana mungkin cinta itu tumbuh sampai sebegini besarnya?"
Rico tak percaya dengan ucapan Nicolas yang menginginkan wanita yang pernah menolongnya untuk dijadikan istrinya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
__ADS_1
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.