
Sebuah mobil mewah masuk ke kediaman Kavindra, siapa lagi jika bukan Ele, sepupu Richard yang mengemudikannya. Keluarlah Ele dan Naya dari mobil tersebut. Ketika mereka berdua keluar dari mobil ada sepasang mata yang menatapnya begitu tajam.
Kalian bisa menebak sendiri siapa orang tersebut.
"Bagus! Kan sudah aku bilang kalau mau pergi kemana pun boleh saja! Asalkan ponsel mu selalu aktif saat aku hubungi! Aku sampai berkali-kali memberimu pesan dan meratus-ratus kali menelepon mu. Tak ada satu pun yang kau gubris! Apa kau tau aku sangat khawatir padamu! Hingga aku pulang ke rumah karena tak ada satu pun dari kalian yang mengangkat teleponku!"
Richard menumpahkan semua amarah dan rasa khawatirnya pada Naya dan Ele. Tetapi lebih banyak ke Naya yang tengah hamil muda. Ia benar-benar merasa cemas jika berjauhan dari Naya. Entah kenapa ia selalu memikirkan perkataan Rico. Apa karena ia yang mengalami tanda-tanda kehamilan? Makanya sikapnya mudah berubah?
Malangnya nasibmu, Ele! Saking asiknya jalan dengan Kak Naya sampai lupa, ternyata ponsel aku matikan notifikasinya.
Ele berbicara di dalam hatinya sambil menelan ludah, bersiap-siap untuk mengeluarkan jurus kilatnya. Ia lari terbirit-birit meninggalkan Richard dan Naya yang masih berdiri di depan rumah.
Maafkan aku Kak Naya. Aku masih ingin hidup. Aku serahkan semua kemarahan sang raja iblis padamu. Semoga kau tidak habis dimakan olehnya.
"Setan kecil! Awas kau ya!" teriak Richard dari luar karena melihat Ele lari dengan begitu kencangnya.
Richard kemudian beralih untuk fokus pada Naya. Ia menantikan jawaban Naya.
"Alasan apa yang ingin kau katakan padaku!?" tatap Richard dengan tajamnya.
"A-aku lupa. Ta-di ponselku mati lalu aku isi daya baterainya dan aku tinggalkan di kamar," jawab Naya dengan gugupnya.
Richard menghela napasnya kasar. Ia berusaha untuk mengontrol emosinya. Ia benar-benar tidak ingin marah sebenarnya, akan tetapi rasa khawatir dan cemas itu menguasai dirinya.
"Baiklah, kali ini aku maafkan. Jika sekali lagi masih begitu. Aku akan memberimu hukuman!" Naya langsung mengangguk. Melihat Richard marah seperti itu ia merasa takut, pasalnya baru kali ini Richard marah padanya. Itu artinya ia telah membuat sebuah kesalahan.
"Sekarang masuklah ke dalam dan istirahat. Jika aku menelpon langsung kau angkat meskipun kau sedang di kamar mandi. Mengerti?" ujar Richard lagi. Naya mengangguk lagi.
Sebelum kembali ke kantor, Richard mendekat dulu pada Naya. Ia memeluk istrinya erat, menumpahkan segala rasa khawatirnya. Kemudian melepas pelukan tersebut dan mengecup kening Naya.
"Baik-baik di rumah. Jangan jadi istri nakal!" ucap Richard mengingatkan sambil menyentil hidung Naya. Setelah itu, Richard kembali ke kantornya.
"Apa masalah rumah sudah selesai bos?" tanya Leon yang melihat Richard akan memasuki ruangannya.
"Sudah. Sekarang aku akan kembali mengurus beberapa berkas. Tolong percepat saja kunjunganku ke perusahaan ku yang ada di Paris. Aku tidak ingin menundanya terus," pinta Richard pada Leon.
"Siap bos, akan segera saya pesan tiket pesawatnya. Untuk besok malam kan bos? Atau anda mau malam ini?" tanya Leon memastikan.
"Besok saja, aku belum berbicara dengan istriku," jawab Richard.
"Siap, akan segera dilaksanakan."
"Bagus."
__ADS_1
Richard pun memasuki ruangannya. Ia langsung fokus pada berkas-berkas yang ada di mejanya. Kemudian ia mengambil ponselnya untuk melihat foto istrinya yang begitu menyejukkan hati membuat Richard yang lelah menjadi semangat kembali untuk bekerja.
***
Malam harinya, sebelum Richard dan Naya tidur. Richard mengutarakan niatnya untuk pergi ke Paris.
"Sayang," panggil Richard sambil merapihkan anak rambut Naya yang menghalangi wajah Naya.
"Hmm," jawab Naya.
"Besok malam aku akan berangkat ke Paris. Maaf aku tidak memberitahumu jauh-jauh hari. Perusahaan ku yang ada disana mengalami masalah dan papi tidak bisa membantuku untuk mengatasinya karena ia bukanlah pemiliknya. Kau tidak keberatan kan jika aku pergi? Kemungkinan aku akan seminggu disana. Jika semuanya selesai dengan cepat, mungkin hanya membutuhkan waktu 3 hari saja atau jika masalahnya memang besar, aku akan disana sampai masalah selesai," jelas Richard pada Naya. Ia tak ingin menyembunyikan sesuatu apapun dari Naya.
"Pergilah, aku tidak ingin menambah pikiranmu dengan memaksamu untuk tetap disini dan mengabaikan urusan pekerjaanmu," jawab Naya tanpa memohon agar Richard berada di sampingnya.
"Sayang, apa kau yakin? Kau tidak akan merasa rindu jika jauh dariku?" tanya Richard pada Naya. Ia benar-benar tak menyangka jawaban Naya berbeda dengan apa yang ia pikirkan. Ia berpikir Naya akan memohon padanya untuk tidak pergi atau memohon untuk ikut bersamanya ke Paris.
"Iya aku yakin. Jika rindu, aku bisa menghubungimu lewat ponsel," jawab Naya lagi.
"Baiklah, sepertinya obrolan kita sudah selesai. Mari kita tidur. Ibu hamil tidak boleh tidur malam-malam," ucap Richard menyudahi obrolannya. Ia memasangkan selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
"Selamat tidur istri," ucap Richard pada Naya sambil mengecup kening, pipi dan berakhir di bibir Naya. Hal tersebut merupakan rutinitasnya setiap malam. Naya langsung memejamkan matanya.
"I love you sayang" ujar Richard sambil memeluk tubuh Naya dengan hati-hati. Tak lama kemudian Richard pun tertidur.
Rupanya Naya hanya berpura-pura tidur. Ia membuka matanya dan menatap wajah tampan suaminya yang tertidur dengan tenangnya.
"Semua cinta dan kasih sayang yang kau perlihatkan untukku. Kini aku benar-benar yakin padamu. Kau tidak akan mungkin menyakitiku."
Cup!
Naya mengecup bibir Richard sebentar. Ia takut Richard akan terbangun jika merasakan sesuatu yang menempel di bibirnya.
"I love you too," lirih Naya. Kemudian ia memejamkan matanya dan tertidur.
***
Keesokan paginya Richard bangun lebih pagi dari Naya. Semenjak hamil Naya selalu bangun agak siang dan Richard pun tidak mempermasalahkan hal itu. Ia bersiap-siap mandi setelah itu mengenakan kemejanya yang sudah disiapkan Naya ketika malam hari.
"Sayang, aku pergi dulu," ucap Richard pada Naya yang masih tertidur lalu mengecup keningnya.
Richard keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Elnan. Bayi itu pun masih tertidur. Richard mencium kening bayi itu tanpa mengatakan apapun. Ia pun keluar dari kamar Elnan dan menuruni tangga.
Di meja makan, mama Helen membantu Bi Ani untuk menyiapkan sarapan.
__ADS_1
"Kenapa pagi-pagi sekali sudah bersiap? Apa kau ada meeting?" tanya sang mama.
"Tidak ma, ada banyak hal yang aku urus hari ini sebelum pergi ke luar negeri. Oh iya, nanti malam aku akan pergi ke Paris. To ..."
Belum juga selesai ucapan Richard, seseorang telah memotong ucapannya.
"Apa? Pergi ke Paris? Mau apa kau kesana?" tanya Ele yang tiba-tiba muncul dengan wajah yang masih kucel karena belum mencuci wajahnya.
"Iu, anak gadis keluar dari kamar dengan iler yang kemana-mana," ejek Richard pada Ele.
"Bodo amat! Cepat katakan mau apa kau ke Paris kak? Lalu apa kak Naya ikut?"
Bukan Ele namanya jika tidak penasaran.
"Tidak, dia akan di rumah bersamamu dan mama. Aku sebenarnya ingin mengajak Naya kesana juga. Tetapi Naya tidak memohon padaku," curhat Richard pada sang sepupu.
"Jelas ia tidak memohon. Ibu hamil yang usia kandungannya masih di trimester pertama belum boleh menaiki pesawat dulu karena takutnya mengalami keguguran di perjalanan," sahut mama yang mendengarkan obrolan anak-anaknya.
"Oh, begitu ma. Aku baru tahu," jawab Richard yang benar-benar baru mengetahuinya.
"Makanya kau harus banyak-banyak bertanya pada dokter ataupun membaca artikel tentang kehamilan istri. Apa saja yang diperbolehkan dan tidak dilakukan oleh ibu hamil. Itu bisa membantumu untuk menjaga kandungannya juga. Jangan hanya materi dan ranjang saja yang kau pikirkan."
Ucapan terakhir yang keluar dari mulut mamanya sungguh membuatnya kesal. Justru menurut Richard urusan ranjang itu hal utama yang bisa membuat hubungan suami istri lebih romantis dan lebih awet.
"Pokoknya selama aku pergi, mama dan Ele harus menjaga Naya sebaik mungkin. Terutama kau Ele. Kau harus menjaganya lebih ekstra. Kau akan aku cincang hidup-hidup jika pergi membawa istriku tanpa izin dariku!"
"Ya, ya, ya, baiklah. Pergi sana ke ujung dunia kak! Pagi-pagi sudah bikin orang kesal saja! Heran!" kesal Ele yang selalu menjadi sasaran omelan Richard.
Richard pun berpamitan pada mamanya untuk pergi ke kantor.
Tinggallah Ele dan mama Helen berdua disana.
"Sepertinya ada suatu hal buruk terjadi ma. Sampai kak Richard harus turun tangan langsung pergi ke Paris," ujar Ele menebak.
"Kau benar. Semoga saja masalah itu cepat selesai."
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_