Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 121 - Bertemu Denada


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu, tangan Alex pun sudah pulih kembali seperti semula. Hubungannya dengan Ele juga sudah lebih baik. Karena Ele selalu menemaninya untuk cek rutin ke dokter.


"Terima kasih, sudah menyempatkan waktumu untuk selalu menemaniku," ucap Alex pada Ele.


"Kan kau sendiri yang bilang, aku harus menebus semua kesalahanku. Ya inilah tanggungjawab ku," balas Ele.


"Begitu ya?" Ada rasa sedikit kecewa di dalam hati Alex. Benarkah tidak ada rasa yang timbul di dalam diri Ele? Padahal hubungan mereka sudah jauh lebih baik.


Ele mengangguk. Mereka berdua pun keluar dari rumah sakit.


Di dalam mobil, Ele lah yang menjadi pengemudinya. Alex duduk sambil terus memandangi wajah Ele yang fokus menyetir.


"Kenapa sih kak? Ada yang salah dengan diriku? Kau itu aneh!" umpat Ele yang merasa sedikit risih.


"Ele, apa yang harus aku lakukan agar kau membalas cintaku?" Dengan penuh keberanian Alex menanyakan hal itu.


Seketika Ele terdiam. Sebenarnya ia juga bingung dengan perasaannya sendiri.


"Aku tidak tahu kak," jawab Ele.


Alex menghela napas kasar. Kemudian ia melihat ke arah kaca mobil dan melihat rintik-rintik hujan yang mulai turun dari langit.


"Ele, apa kau tahu, hujan saja mengerti suasana hatiku sekarang. Andai saja aku sedang tidak berada di mobil, mungkin saja aku akan berlarian di bawah hujan. Karena dengan begitu, aku bisa mencurahkan semua isi hatiku tanpa merasa malu."


Ele lagi lagi merasa bersalah. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Ia benar-benar tidak tahu isi hatinya. Bagaimana cara mengetahuinya? Menganalisa kisah percintaan seseorang terlihat begitu mudah baginya karena ia bisa melihat bagaimana cara dan gerak-gerik kedua orang tersebut. Lalu jika orangnya adalah dirinya? Bagaimana?


Maaf kak.


"Kakak mau aku antar ke rumah atau ke perusahaan?" tanya Ele mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Alex menghela napas lagi. Ia harus ekstra sabar menghadapi wanita yang memang jauh lebih muda darinya. Sifatnya masih begitu labil. Meskipun terlihat sangat dari luar.


"Antar aku ke perusahaan saja, setelah itu kau boleh pulang. Bawa saja mobilku. Besok pagi aku akan ke rumah Richard," ujar Alex.


"Baiklah," balas Ele.


****


Selama tiga bulan itu, Ethan sengaja pergi ke restoran tempat Sari bekerja setiap minggunya. Ia bahkan sudah menjadi pelanggan tetap dan VIP disana.


"Hari ini tuan mau pesan apa?" tanya Sari.

__ADS_1


"Pilihkan aku menu spesial yang enak disini," jawab Ethan.


"Baiklah, mohon ditunggu pesanannya." Ethan mengangguk.


30 menit kemudian, pesanan Ethan sudah datang. Ia meminta Sari untuk menemaninya makan.


"Tolong temani aku makan, aku tidak mau makan sendiri," pinta Ethan.


"Maaf Tuan. Saya masih ada pekerjaan lain," tolak Sari dengan halus.


"Urusan itu, bisa pekerja lain yang menggantikan mu. Aku sudah bilang dengan manager mu. Kalau hari ini, kau hanya perlu menemaniku dan melayaniku makan," ucap Ethan tanpa dosanya.


Ih, dasar orang kaya. Seenaknya saja ngatur-ngatur. Kalau bukan pelanggan disini, sudah aku tinggal dari tadi.


"Hey, kenapa wajahmu seperti tidak suka?" tanya Ethan yang melihat wajah Sari berubah menjadi tidak senang.


"Tidak tuan. Raut wajah saya memang seperti ini," bantah Sari.


"Oh begitu. Duduklah. Kita makan sama-sama," ajak Ethan.


Karena tak ingin beradu mulut terus menerus, Sari memilih untuk menuruti kemauan Ethan. Ia menikmati semua makanan yang dipesan Ethan. Selesai makan Sari tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Ethan. Ia pun langsung bekerja kembali.


Sari kira Ethan akan langsung pergi setelah selesai makan, rupanya laki-laki itu masih saja duduk disitu. Sampai waktu Sari selesai bekerja pun, Ethan masih tetap duduk di tempat yang sama.


Alex yang melihat sari sudah keluar pun, berjalan mendekat ke Sari.


"Sudah selesai bekerja? Mau pulang? Ayok aku antar!" ajak Ethan.


Sari langsung menengok ke sebelahnya, menatap wajah Ethan dengan detail.


"Tidak usah, saya sudah pesan ojek online sebentar lagi juga sampai," tolak Sari.


"Gampang, tinggal di cancel aja," ucap Ethan.


"Tidak bisa, tukang ojek nya sudah semakin dekat," balas Sari.


Tak lama kemudian tukang ojek online pun sampai. Saat Sari akan menerima helm, Ethan dengan cepat menerima helm itu lebih dulu.


"Pak, wanita ini tidak jadi naik ojek bapak. Ini uang gantinya, maaf ya pak. Dan ini helmnya."


Sari melongo, ia tidak percaya. Ethan dengan mudahnya meng-cancel ojek online-nya.

__ADS_1


"Sudah beres. Ayo aku antar! Tidak ada lagi penolakan."


Alhasil, Sari hanya bisa pasrah saja. Toh, terus-terusan menolak akan semakin membaut dirinya selalu dipaksa-paksa oleh Ethan.


Di perjalanan, Ethan terus bertanya tentang kehidupan sari. Namun Sari menjawab seadanya saja.


"Kau tinggal disini dengan siapa? Sepertinya jika aku lihat-lihat kau bukan orang sini."


"Memang, aku baru beberapa bulan di kota bersama kakak dan ponakan ku," jawab Sari.


"Oh begitu. Di depan kan ada pertigaan kita lurus saja atau belok ke kanan?" tanya Ethan.


"Belok ke kanan."


"Oke."


Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 menit, akhirnya mereka sampai di depan rumah Sari. Namun, ada satu hal yang membuat Ethan terkejut, ada Denada di depan rumah itu. Yang awalnya hanya berniat untuk mengantar, Ethan jadi ikutan turun dan menghampiri Denada yang sedang menggendong seorang bayi.


"Eh, eh, mau kemana?" tanya Sari yang kebingungan, Ethan jalan sendiri ke rumahnya.


"Denada?" panggil Ethan.


Denada terkejut, saat melihat Ethan berada di hadapannya. Ia tidak tahu harus bicara apa. Apalagi ia kini tengah menggendong seorang bayi.


"Bayi siapa yang kau gendong?" tanya Ethan lagi karena tak mendapat jawaban dari Denada.


"Eh, kakak kenal dengan laki-laki ini?" tanya Sari yang kebingungan, rupanya Ethan mengetahui Denada. Ia merasa jadi orang yang paling bego disana. Orang yang tidak tahu apa-apa.


"Duduk dulu Ethan," ucap Denada pada Ethan. Ethan pun langsung menuruti perintah Denada.


"Dena, kau belum menjawab pertanyaan ku. Bayi siapa yang kau gendong? Tidak mungkin bayi Richard kan? Kalau bayi Richard memang tidak mungkin sih, Richard kan sudah bucin sama Naya. Atau jangan-jangan ini anaknya Nicolas? Wah, gila ya si b*jingan itu!"


Belum juga menjawab, Ethan sudah menebak-nebaknya duluan hingga Denada tak mampu lagi berkata-kata.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.

__ADS_1


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_


__ADS_2