
"Tapi jika dilihat dari sikap Richard tadi, sepertinya Alex benar-benar menepati ucapannya. Syukurlah, aku bisa sedikit tenang," ucap Denada yang sedikit lega.
Jika ditanya bagaimana perasaan Denada pada Richard. Jawabannya adalah tidak ada. Perasaan itu telah hilang seiring berjalannya waktu dan telah diisi oleh cinta yang baru, yaitu Nicolas. Denada sangat mencintai laki-laki itu. Begitu pula Nicolas menurutnya.
***
Hari demi hari pun berlalu, semua persiapan launching brand pakaian dari Richard telah hampir 100 persen kesiapannya. Richard sesekali datang ke perusahaan Nicolas tanpa didampingi Ethan. Beberapa kali pun ia berpapasan dengan Denada. Namun, ia selalu tak memperdulikan keberadaan wanita itu. Ia seolah menganggap bahwa Denada tidak ada di hadapannya. Hanya angin lalu saja yang lewat.
Tiba-tiba ketika keduanya memasuki lift yang sama dan hanya ada mereka berdua di dalamnya, Denada mulai membuka suaranya.
"Rich, bagaimana kabarmu?" tanya Denada sambil menoleh ke Richard. Ia yang benar-benar penasaran dengan kabar Richard.
Waktu dua tahun memanglah sudah lama sekali berlalu. Hanya saja ia masih mengingat jelas kata yang diucapkan oleh Alex, jika Richard seperti mayat hidup ketika ia tinggalkan dulu. Meski ada rasa sesal di hati, Denada tak mungkin bisa menghilangkan rasa sakit yang diterima Richard itu.
"Sangat baik, setelah kau meninggalkanku," ucap Richard tanpa menoleh sedikitpun pada Denada.
"Terima kasih, karena mu aku menemukan orang yang tepat di waktu yang tepat," ucap Richard lagi kemudian keluar dari dalam lift ketika pintu tersebut terbuka.
Denada berpikir maksud dari perkataan Richard.
"Apa dia sudah menemukan orang yang baru? Pengganti diriku?"
Ada rasa lega di hatinya, karena Richard bisa melupakan dirinya. Ia tak mau terus-terusan merasa bersalah pada Richard karena telah mengkhianati ketulusan Richard.
Denada pun keluar dari lift tersebut dan menuju ke ruangan Nicolas. Tanpa mengetuk pintu, Denada lambung masuk saja ke dalam ruangan tersebut. Di dalam ruangan, Nicolas sedang duduk sambil meminum secangkir kopi.
"Sayang," panggil Denada yang langsung mengecup pipi Nicolas.
"Hm," jawab Nicolas saat ia sudah meletakan secangkir kopi itu di mejanya kembali.
"Malam ini, bolehkan aku pergi ke club bersama teman-temanku?" Denada meminta izin pada Nicolas.
"Iya, boleh. Kau juga harus bersenang-senang dengan teman-temanmu," ucap Nicolas mengizinkan Denada.
"Thank you sayang," ucap Denada lalu mencium bibir Nicolas. Nicolas membalas ciuman tersebut. Kini justru Nicolas yang mendominasi ciuman tersebut hingga membuat Denada jatuh terduduk di pangkuannya. Denada lalu mengalungkan tangannya ke leher Nicolas. Mereka berdua saling bertukar saliva dan menikmati tautan bibir itu.
__ADS_1
"Sayang, ayo pindah ke ruang pribadiku. Karena malam nanti kita tidak bisa melakukannya. Sebagai gantinya kau harus memuaskan aku siang ini," ucap Nicolas lalu mencubit gemas salah satu dada Denada.
Denada pun mengiyakan. Nicolas menggendong Denada ala bridal style ke ruang pribadi yang ada di ruangan kerjanya. Mereka berdua pun mulai bercinta tanpa memikirkan akan ada orang yang masuk ke ruangan tersebut.
***
Di sisi Richard, setelah keluar dari lift tadi, ia langsung berjalan menuju ke mobilnya. Ia tak langsung mengemudikan mobil tersebut.
"Ya, aku memang lebih baik setelah wanita itu meninggalkanku. Naya jauh lebih segala-galanya bagiku. Hanya saja ketika aku melihatnya, luka lama itu seakan masih berbekas di hati ini. Bukan karena aku menyesal telah mencintainya. Hanya saja aku menyesal karena telah melakukan hal bodoh karena dirinya. Sungguh bodoh!"
Setelah mengeluarkan unek-unek di hatinya, Richard segera mengemudikan mobilnya menjauh dari perusahaan Nicolas ke perusahaan miliknya.
Sesampainya di kantor miliknya, Richard duduk di lobi yang ada di lantai bawah. Ia merilekskan tubuhnya dengan menyandarkan kepalanya ke sofa dan memejamkan matanya. Rasanya hari ini begitu melelahkan baginya.
Tak lama kemudian, datanglah Naya ke kantor Richard dengan membawa bekal makan siang untuk suaminya. Ia melihat Richard yang memejamkan matanya di sofa yang berada di lobi. Naya pun segera menghampiri Richard dan duduk di samping Richard.
Sebenarnya ini adalah kali pertama Naya mengantarkan makan siang dan pergi ke perusaan Richard. Itu pun karena sebuah paksaan dari mama mertuanya.
Mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat dan duduk di sampingnya, Richard langsung membuka matanya. Betapa terkejutnya ia saat istrinya ada di depan matanya. Benar-benar selalu ada di waktu yang tepat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Richard langsung memeluk erat Naya.
Orang yang tepat di waktu yang tepat dan itu adalah dirimu, Nay. Kau selalu bisa menjadi energi di saat aku lemah dan lelah. Selalu bisa membuat suasana buruk di hatiku menjadi suasana baik. Entah sihir apa yang kau berikan padaku?
Naya akhirnya sadar, jika Richard bukanlah orang sembarangan. Richard tidak hanya kaya saja, tetapi ia juga terkenal di kalangan para pebisnis. Begitu pula penggemar wanitanya, ada dimana-mana. Besar kemungkinan tak ada satu pun di antara mereka yang mengetahui Richard telah menikah dengannya.
"Sebentar lagi, biarkan aku memelukmu seperti ini," ucap Richard yang semakin mengeratkan pelukannya.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya melepas pelukan itu, ia langsung berdiri dan menggandeng tangan Naya.
Richard membawa Naya menuju ke ruangannya. Para staf dan karyawan Richard terheran-heran dibuatnya. Selama ini tak ada satu wanita pun yang diperlakukan selembut itu oleh bos mereka. Bahkan Denada selaku mantan tunangan Richard saja, selalu diacuhkan ketika Richard lelah ataupun banyak pekerjaan. Namun, pada gadis itu, Richard benar-benar berbeda.
"Siapa wanita itu? Kenapa dia diperlakukan dengan istimewa oleh Tuan Richard?"
"Ia, aku sampai terheran-heran dibuatnya."
"Mungkin saja, pacar barunya Tuan Richard," celetuk salah satunya.
__ADS_1
"Tidak mungkin, selera Tuan Richard tidak seperti wanita itu. Dia bahkan jauh dari kata seksi dan modis. Tampilannya kampungan sekali," ujarnya.
"Meski tampilannya kampungan, tapi wajahnya sangat cantik. Bahkan kecantikannya sangat natural. Mungkin saja selera Tuan Richard sudah berubah," ujar yang satunya lagi.
"Sudah! Sudah! Lebih baik kita makan siang, sebelum waktunya habis."
Para staf dan karyawan itu pun pergi ke cafetaria yang ada di perusahaan.
***
Naya sudah berada di dalam ruangan kerja suaminya. Ia membuka bekal yang ia bawakan untuk Richard.
"Aku senang kau datang kesini dan membawakan bekal makan siang untukku. Aku harap kau bisa kesini tiap jam makan siang," ucap Richard penuh harap.
"Aku tidak bisa jika harus setiap hari. Aku akan sesekali saja datang. Ini pun aku dipaksa oleh mama," jawab Naya dengan jujurnya.
Richard mendengus kesal. Rupanya datang ke kantor dan membawakan bekal untuknya bukan keinginan Naya melainkan perintah mamanya.
Untuk meredam kesalnya, Richard menyuruh Naya untuk menyuapinya.
"Suapi aku sayang, kau sudah membuat diriku melayang lalu kau jatuhkan dengan penuturan jujur mu," ucap Richard dengan sedikit manja padanya.
"Baiklah, bayi besar ku," jawab Naya.
"Kalau aku bayi besar mu, berarti aku boleh menyusu padamu?" ucap Richard sambil menatap dua gunung kembar yang ada di depan wajahnya.
***
Selamat Hari Kemerdekaan untuk Indonesia.
Khusus di hari kemerdekaan, aku akan update beberapa bab. Siapkan jari kalian untuk berkomentar ya geng ðŸ¤
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
__ADS_1
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.