Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 123 - Pernyataan Cinta Ele


__ADS_3

Ele keluar dengan sisa tenaga yang ada. Darahnya masih terus mengalir. Ia menggedor-gedor pintu rumah Alex dengan keras berharap si pemilik rumah akan cepat keluar. Dan benar saja, tak lama setelah itu, Alex keluar dengan memakai piyama tidurnya.


Alex terkejut dengan siapa yang datang malam-malam ke rumahnya. Apalagi dengan penampilan yang begitu mengenaskan. Darahnya saja sampai bercucuran ke lantai rumahnya.


"Ele! Kenapa kau bisa seperti ini? Siapa yang menyerang mu?" tanya Alex yang kemudian memapah Ele.


"Aku mau jujur dengan perasanku sendiri kak." Bukannya menjawab pertanyaan Alex, Ele malah mau mengutarakan isi hatinya.


"Sudah, tidak perlu memaksakan. Lebih baik kita masuk ke dalam dan segera obati lukamu," ujar Alex.


Seketika Ele langsung memberontak. Ia melepaskan papahan Alex dan berdiri semampunya.


"KAK ALEX AKU MENCINTAIMU!" Ele berteriak sekencang-kencangnya.


Alex langsung terdiam saat mendapatkan pernyataan cinta dari Ele. Bukannya menjawab, Alex malah mulai memapah kembali tubuh Ele.


"Ayo, aku obati lukamu. Sebelum terinfeksi."


Ele menatap Alex lekat-lekat.


"Ternyata sakit juga ya. Ketika kita mengutarakan perasaan tapi tidak ditanggapi sama sekali. Pantas saja kau langsung marah padaku kak. Rupanya sakit sekali."


Lagi-lagi Ele melepaskan papahan Alex. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari pintu rumah Alex. Ia berniat untuk pulang lagi ke rumahnya.


Sayangnya, hal itu tidak terjadi, karena Alex langsung membopong Ele seperti karung beras. Ia benar-benar gemas dengan wanita yang satu ini. Benar-benar berhasil memporak-porandakan hatinya. Tidak tahukah, kalau dirinya begitu mengkhawatirkan wanita itu dibandingkan balasan cintanya.


"Turunkan aku!" teriak Ele sambil memukul pelan punggung Alex.


"Tidak akan!" jawab Alex yang terus berjalan menuju ke rumahnya.


"Selain bar-bar rupanya tubuh mungil mu ini


berat juga," sindir Alex.


"His! Body shaming!" Ele memukul punggung Alex lagi.


"Katanya kau mencintaiku? Tapi kenapa kau jahat sekali padaku harusnya dielus bukan dipukul?" ucap Alex mulai meledek Ele.


"Aww." Alex merintih kesakitan saat mendapatkan serangan cubitan di lehernya dari Ele.


"Mampus! Makanya jangan suka iseng!" gerutu Ele yang senang ketika ia bisa membalas perkataan Alex dengan serangannya.


"Kok bisa ya? Aku mencintaimu yang seperti ini?"

__ADS_1


"Jadi, kau menyesal mencintaiku, begitu!?" Alex mengangguk.


"Hiya! Dasar-dasar laki-laki playboy! Ucapan dan kelakuanmu sungguh dusta! Menyesal aku datang-datang kesini malam-malam sampai merelakan tangan mulus ku ini hingga ternoda!"


Tanpa Ele tahu, sedari tadi Alex hanya menggoda Ele untuk meluapkan amarahnya. Karena pesona wanita itu terlihat ketika ia sedang marah dan hal tersebut yang membuat Alex terpikat. Apalagi, Ele selalu asal bicara ketika marah dan kebanyakan yang keluar dari mulutnya adalah hal yang benar-benar terjadi. Seketika Alex merasa dirinya sedang dibawa terbang melayang ke langit ke tujuh. Sebuah senyum pun terpancar dari bibirnya.


Setelah sampai di rumah tamu, Alex mendudukkan Ele disana. Ia kemudian pergi untuk mengambil kotak P3K. Tak lama kemudian, Alex sudah datang kembali dengan membawa kotak P3K tersebut.


Alex mulai membersihkan luka Ele. Ele merasakan perih saat lukanya mengenai alkohol.


"Pelan-pelan bodoh! Sakit tahu!" umpat Ele pada Alex.


"Salah siapa keluar malam-malam! Padahal besok pagi pun kau bisa kesini," ujar Alex membalas umpatan Ele.


"His! Semua ini gara-gara kau yang membuat aku gelisah sejah pagi tadi! Kenapa kau tidak membalas pesanku?!"


"Memang kau memberi aku pesan?" Bukannya menjawab Alex malah bertanya pada Ele.


"Aku saja lupa dimana aku menaruh ponselku," lanjut Alex lagi.


"Haish! Tahu begitu aku tidak akan kesini! Aku kira kau marah padaku."


"Untuk apa aku marah?"


"Oh, itu. Aku tadi kesiangan, hehe."


Jawaban Alex benar-benar membuat Ele melongo. Rupanya kegelisahannya seharian tadi tidak beralasan. Hanya dirinya yang merasa seperti itu. Sedangkan Alex? Ia bahkan tidak marah sama sekali padanya. Rasa kesal dan dongkol serta malu akan kebodohannya sendiri membuat Ele terdiam.


"Lah, kenapa sekarang kau jadi diam?" tanya Alex.


"Aku hanya merasa bodoh karena terlalu khawatir kau marah padaku kak. Padahal kenyataannya tidak. Aku bodoh kan?" Ele mengutarakan rasa yang ia alami.


"Hahaha." Alex tertawa begitu renyah. Kalau tahu begini, sedari dulu saja Alex mencoba mendiamkan Ele. Rupanya hal seperti ini malah bisa menyadarkan Ele akan perasannya sendiri.


Luka Ele sudah berhasil dibersihkan dan ditutup dengan kain kasa. Alex juga mengambilkan kaos miliknya untuk dikenakan Ele karena jaket dan baju Ele sudah banyak darahnya.


"Jadi, sekarang kita ini apa?" tanya Alex.


Ele terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka akan dihadapkan pada situasi yang membuat mulutnya tidak bisa berkutik.


"Pacaran kan? Atau kau mau yang lebih dari itu? Calon istri mungkin?"


"His!" Ele merasa pertanyaan itu tidak baik untuk dirinya. Ia baru pertama kali merasakan jantungnya berdebar begitu cepat. Alex langsung membawa Ele ke pelukannya. Meskipun tanpa jawaban yang keluar dari mulut wanitanya. Alex merasa bahagia, setidaknya Ele memiliki perasaan yang sama terhadapnya.

__ADS_1


****


Paginya, di kediaman Kavindra, Richard merasa heran ketika tidak ada suara toa yang menghantui rumahnya.


"Ma, Ele masih tidur?" tanya Richard pada Mama Helen.


"Tidak tahu, dari tadi mama panggil tidak ada balasan jawaban Ele," jawab mama Helen.


"Ya sudah mungkin dia kelelahan. Biarkan saja dia tidak ikut kita sarapan pagi ini," ucap Richard.


Keluarga Richard melakukan sarapan pagi dengan formasi tanpa Ele. Selesai sarapan Richard pergi ke garasi mobil. Ia tidak melihat mobil Ele disana.


Ia pun segera memasuki mobil dan mengemudikan mobil itu keluar hingga sampai di gerbang rumahnya.


"Apa Ele tadi malam keluar?" tanya Richard.


"Benar tuan. Nona Ele bilang, dia mau pergi ke rumah Tuan Alex. Namun, sampai sekarang Nona Ele belum pulang juga," jawab si satpam.


Mendengar jawaban tersebut, Richard langsung menaikan kaca mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat ke rumah Alex.


Richard bahkan tidak peduli dengan jadwal meeting paginya. Sampai-sampai Leon terus berusaha untuk menelpon bosnya.


"Leon kau tangani meeting pagi ini. Aku akan datang siang ke kantor. Ada urusan penting!"


Sementara di sisi Leon. ia hanya bisa menghela napas kasar. Sebagai bawahan ia hanya bisa menuruti perintah atasan.


"Nasib-nasib. Selalu saja begini. Untung saja aku sudah mempelajari semua materi meeting pagi ini."


****


Jangan lupa mampir ke karyaku yang lain judulnya Cinta Dalam Doa. Sebentar lagi akan tamat karena memang sengaja dibuat pendek. Lalu di akhir episodenya juga akan ada hadiah, jadi kalian bisa langsung saja meluncur kesana


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2