
Beberapa jam kemudian, tepatnya setelah sarapan, Naya, Richard dan Elnan yang dipangku oleh Richard kini duduk di bangku taman sambil menikmati udara sejuk.
Keluarga kecil yang bahagia.
Kalimat itulah yang disematkan oleh Ele ketika melihat pemandangan itu dari ujung pintu.
"Semoga setelah kau pulang, tak ada lagi yang berani mengganggu kak Naya. Aku benar-benar ingin melihat kalian berdua tertawa bahagia. Apalagi ketika nanti si janin itu lahir. Aku akan menjadi garda terdepan untuk melindungi bayi itu, mau itu laki-laki ataupun perempuan."
Setelah mengucapkan itu, Ele pergi menuju ke ruang tamu.
Sementara di sisi Richard,
"Pa.. pa .."
"Kau dengar suara Elnan barusan kan sayang? Dia memanggilku papa? Apa aku sedang bermimpi?"
Richard masih belum percaya apa yang ia dengar, jadi ia menanyakan itu pada Naya untuk memastikan pendengarannya.
"Ia dia memanggilmu papa," jawab Naya dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
Richard langsung bangun dari duduknya dan mengangkat bayi itu tinggi karena saking bahagianya. Elnan pun tertawa.
"Coba kau ulangi lagi, panggil pa..pa," pinta Richard pada bayi mungil itu.
"Pa...pa..."
Saking bahagianya Richard sampai menitikkan air matanya. Beginilah rasanya dipanggil papa oleh seorang anak? Rasanya benar-benar membuatnya terharu bahagia.
"Pa..pa..."
"Iya, ini papa sayang. Kau kecil-kecil sudah berani membuat papa menangis. Awas saja kalau kau besar nanti jadi anak kurang ajar!" celetuk Richard.
"Hus! Jangan bicara seperti itu. Dia akan menjadi anak yang hebat dan kakak yang baik untuk bayi kita nantinya," sahut Naya.
"Ayo duduk lagi," pinta Naya.
Akhirnya Richard pun duduk kembali. Tangan Elnan tiba-tiba menyentuk perut Naya. Mungkin ia bisa merasakan akan memiliki adik.
"Iya, di perut mama ada dedeknya. Nanti Elnan jaga dia ya?"
Bayi kecil itu mengangguk-angguk seolah mengerti ucapan Naya.
"Terima kasih sayang, muach."
Naya memberikan kecupan di pipi Elnan. Hal itu membuat Richard cemburu. Bagaimana tidak, ia belum pernah dipanggil sayang oleh Naya.
Seperti kata pepatah dikasih hati minta jantung. Padahal Richard sudah mendapatkan pengakuan cinta dari Naya, akan tetapi itu belum cukup, ia ingin dipanggil sayang sekarang.
"Coba panggil aku sayang juga!" pinta Richard dengan mata berbinarnya.
__ADS_1
"Sayang," lirih Naya. Meskipun ucapan Naya lirih, Richard bisa mendengarnya.
Richard memberikan kode pada Naya dengan menyentuhkan jarinya ke pipinya. Hal itu membuat Naya mengerutkan alisnya.
"Itu maksudnya apa?" tanya Naya yang tidak tahu maksudnya.
"Aih, maksudnya aku ingin dicium juga seperti Elnan. Masa kau tidak bisa mengartikan maksudku sih sayang? Ayo cepat cium aku juga!" pinta Richard yang tak mau kalah.
"Kau ini, tadi pas di kamar kan sudah," jawab Naya.
"Tadi dan sekarang itu beda. Tadi kau yang mencurinya. Sekarang aku yang memintanya. Cepat lakukan!" pinta Richard.
Tak ingin berdebat dengan Richard, alhasil Naya mengecup pipi kiri Richard. Sebuah senyuman pun mengembang di bibir Richard.
"Disini," pinta Richard menunjuk pipi kanannya.
Cup.
"Disini," pinta Richard menunjuk dahinya.
Cup.
"Disini," pinta Richard menunjuk bibirnya.
"Sudahlah, aku tidak mau lagi," tolak Naya.
"El, lihat mamamu. Dia merajuk karena papa memintanya mencium bibir papa. Padahal ciuman bibir itu begitu nikmat. Jika kau sudah besar nanti, kau harus banyak-banyak mencium wanita, oke?"
"Jangan mengajarkan yang tidak-tidak pada Elnan."
"Kalau begitu, cium bibirku dulu," pinta Richard sambil memonyongkan bibirnya.
"His!" Daripada Richard mengajarkan sesuatu yang buruk pada Elnan, Naya akhirnya mencium bibir Richard. saat ingin melepaskan ciuman itu, Richard justru memperdalam ciuman mereka.
Richard benar-benar merindukan sentuhan bibir istrinya. Ia sampai lupa, jika Elnan terhimpit oleh tubuh Richard dan Naya. Hingga terdengar suara tangisan bayi itu.
Ciuman itu pun terhenti.
"Cup.. cup .. cup.. sayang, jangan nangis. Papamu nakal ya sayang. Nanti jika kau sudah besar. Kau harus menjaga mama. Jangan sampai papamu berbuat semaunya. Kalau bisa, kau harus ada di antara kami ketika tidur."
Rich terperangah dengan ucapan Naya. Ia tidak bisa jika tidur tidak mendekap tubuh Naya. Ia saja mati-matian menahan hasratnya karena mengingat Naya sedang hamil, jika tidak. Bisa dipastikan Richard tak akan pernah tidak bercinta dengan Naya.
Tangan Richard reflek menutup kedua telinga Elnan agar tidak dapat mendengar ucapan Naya lagi.
"Jangan dengarkan mamamu. Kau harus jadi partner papa. Kau harus mengerti kebutuhan papa yang haus akan sentuhan mamamu."
Naya menggelengkan kepalanya. Richard benar-benar tidak bisa ditoleransi lagi tingkat kemesumannya.
***
__ADS_1
Di dalam jeruji besi, Rico benar-benar jengah dan ingin segera bebas. Tempat ini benar-benar tidak cocok untuk dirinya.
"Arghhh, Richard sialan! Karena dirimu aku harus hidup seperti ini!"
Salah satu penghuni disana memukul pundak Rico.
"Bisa diam tidak!? Kau mengganggu waktu tidurku! Jika tidak terima dengan apa yang menimpamu sekarang, seharusnya jangan pernah kau lakukan! Anak jaman sekarang bisanya teriak-teriak saja!"
"Tidak usah sok-sokan menceramahi saya!"
Karena kesal mendapatkan jawaban dari Rico, sang penghuni itu pun memukul wajah Rico.
"Dasar anak tidak tahu diri! Beraninya kau memarahiku!"
Pukulan demi pukulan pun Rico dapatkan hingga keluar cairan merah di hidungnya. Tak hanya itu, karena saking kesalnya, Rico pun membalas pukulan itu dan keduanya berkelahi hingga menimbulkan keributan.
Tak lama kemudian sang polisi pun datang dan memisahkan kedua orang tersebut. Sang polisi menghubungi pihak keluarga Rico untuk menceritakan peristiwa yang terjadi di dalam sel.
Tiga puluh menit kemudian, Nicolas datang untuk melihat keadaan Rico. Ia menghela napasnya pelan.
"Apa kau merasakan sakit?" tanya Nicolas.
"Tidak," jawab singkat Rico.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau bisa sampai berkelahi dengan penghuni sel yang lain? Bukankah sudah aku katakan sebisa mungkin kau harus berperilaku baik agar masa tahanan mu bisa dikurangi."
"Itu! Itu saja terus yang kau katakan! Kau tidak tahu bagaimana rasanya di dalam sana Nic! Jika aku tidak melawan mereka akan terus mencelakai ku! Cepat kau urus saja kebebasanku! Suap saja para polisi disini dengan uang yang lebih banyak dari apa yang diberikan Richard! Aku sudah tidak tahan!"
Rico menumpahkan segala emosinya.
"Andai saja kau tidak bodoh Ric! Mungkin saja semua saham dan aset-aset mu tidak berpindah tangan pada asisten pribadimu sendiri! Dengan begitu kau akan bisa bebas menggunakan uangmu sendiri! Sedari dulu kau selalu saja menggunakan aku sebagai alat untuk mendapatkan apa yang kau mau! Sekarang terima saja! Aku tidak mau menghabiskan uangku untuk membebaskan mu! Aku hanya bisa membantu untuk mendapatkan sedikit saham mu kembali!"
Mendengar ucapan Nicolas, Rico mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia pikir Nicolas akan membebaskannya menggunakan kekayaan lelaki itu, rupanya sepupunya tetap saja pelit.
"Aku pergi. Sebaiknya kau turuti saja saran ku. Jangan mencari keributan disini. Jaga sikapmu. Dengan begitu kau akan segera bebas."
Setelah itu, Nicolas pergi dari hadapan Rico. Rico berteriak kesal.
"ARGHHH!"
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_