
Semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Richard mel*mat bibir atas dan bawah Naya bergantian. Naya mulai kehabisan napasnya. Ia pun menarik baju Richard pelan memberikan instruksi bahwa ia kehabisan napas. Richard pun melepaskan tautan bibirnya.
"Haah ... haah ... haaah," suara deru napas Naya.
"Bisa kita mulai lagi sayang? Aku benar-benar menginginkanmu," ucap Richard yang masih memeluk pinggang Naya.
"Rich, tidak bisakah kita mandi dan berganti pakaian dulu? Tubuhku sudah bercampur dengan keringat. Rasanya tidak enak sekali."
"Baiklah, kita mandi dulu. Ayo mandi bersama," ajak Richard pada Naya.
Naya membelalakkan matanya. Ucapan Richard selalu saja membuatnya terkaget-kaget. Jika ia dan Richard mandi bersama, otomatis waktu mandi akan terasa sangat lama. Bisa saja unboxing mereka akan dilakukan di kamar mandi. Naya tidak mau hal itu. Ia pun berlari ke kamar mandi Richard. Lalu mengunci pintu kamar mandi tersebut.
"Aman, dia tidak mungkin bisa masuk. Akhirnya aku bisa melepaskan gaun ini."
Gaun tersebut sudah terlepas dari tubuh Naya, menyisakan pakaian dalam Naya. Ia kemudian menempelkan tangannya ke perutnya.
"Rasanya tidak nyaman sekali. Aku harus segera mandi. Semoga saja Richard tidak jadi melakukan malam pertama kita malam ini. Rasanya badanku pegal semua," ujar Naya sambil melepaskan pakaian dalamnya. Kini tubuh Naya polos tanpa sehelai kain pun. Ia memasukkan tubuhnya ke dalam bathtub yang sudah terisi air.
Sementara Richard yang berada di luar kamar mandi, terus menggerutu karena Naya berhasil kabur darinya dan mereka tidak mandi bersama.
"Aih, padahal kalau aku dan Naya bisa mandi bersama. Kita bisa saling menggosok dan membersihkan bagian tubuh bergantian," gerutu Richard.
Daripada menunggu Naya selesai mandi, Richard memilih untuk mandi di kamar Elnan. Itu ia lakukan agar Naya selesai mandi, ia pun sudah mandi dan mereka bisa melakukan kegiatan yang tertunda.
30 menit pun sudah berlalu, Naya telah selesai dengan ritual mandinya. Ia mengenakan handuk kimono milik Richard yang tergantung di kamar mandi. Setidaknya ia tidak keluar dari kamar mandi dengan keadaan tubuh yang polos.
"Ceklek," pintu kamar mandi terbuka.
Richard yang sedang duduk di ranjang pun langsung menoleh saat mendengar pintu sudah terbuka. Ia selesai mandi lebih dulu dari Naya makanya ia sudah kembali ke kamarnya.
Naya melihat Richard yang sudah berganti mengenakan pakaian casual, itu artinya Richard juga sudah mandi. Memikirkan hal itu, entah kenapa membuat Naya gugup.
"Kemarilah sayang," panggil Richard agar Naya mendekat padanya sambil menepuk ranjang di sebelahnya.
Naya berjalan pelan menuju ke suaminya. Debaran jantungnya berpacu semakin cepat.
Apakah di malam ini kesucian ku akan hilang?
Saat sudah berjarak satu meter, Richard langsung menarik Naya dan duduk di pangkuannya dengan posisi tubuh Naya miring seperti di gendong ala bridal style.
"Sayang, bisakah kita memulainya sekarang?" tanya Richard sambil menatap wajah Naya.
"Aku pakai baju dulu," ucap Naya.
"Untuk apa kau pakai baju? Nanti juga baju itu akan terlepas. Justru dengan kau memakai handuk kimono ini, akan memudahkan ku untuk melancarkan malam pertama kita. Aku tidak usah repot-repot membuka pakaian dalam mu, sayang," ucap Richard menanggapi.
__ADS_1
Percuma saja Naya meminta pakai baju. Niat ingin mengulur waktu, Richard malah menolaknya.
Kini posisi Naya sudah terbaring di ranjang dengan taburan bunga mawar yang menghiasi ranjang tersebut. Richard mengunci Naya yang berada di bawahnya agar tidak bisa lari kemana pun.
"Aku akan memulainya. Siapkan dirimu," ucap Richard yang sudah tidak sabar untuk meng-unboxing Naya.
Naya yang sebenarnya masih gugup dan takut mencoba mengontrol tubuhnya. Ia benar-benar sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Richard. Toh, sekarang ia sudah menjadi istri Richard. Tidak perlu ada yang ia takutkan jika hamil nantinya.
Richard mencium seluruh wajah Naya, dari pipi, mata, pipi hingga berakhir di bibir Naya. Ia melakukannya dengan lembut, agar tak menimbulkan trauma pada Naya. Richard tahu tubuh Naya sedikit bergetar karena takut, ia pun ingin menghilangkan rasa takut itu dengan melakukan malam pertama mereka dengan lembut dan hati-hati.
Ciuman itu beralih ke telinga, kemudian ke leher Naya, hingga membuat Naya mengeluarkan suara indahnya.
"Keluarkan suara indah mu sayang. Aku ingin mendengarnya," ucap Richard sambil membuka ikatan tali di handuk kimono yang dipakai Naya.
Ia membuka handuk itu, dan melihat semua bagian tubuh Naya yang polos.
"Kau seksi sekali sayang. Bodohnya aku dulu sempat berpikir kau tidak seksi dan biasa saja. Nyatanya, aku justru tergila-gila padamu," ujar Richard kemudian mer*mas kedua gunung kembar Naya hingga membuat Naya mend*sah.
"Ah ...."
"Keluarkan sayang."
Setelah puas mer*mas buah dada Naya, Richard mencium dan meng*lumnya juga. Rancauan d*sahan Naya semakin terdengar. Richard juga semakin menikmati permainannya.
P*ting dada Naya sudah mengeras, Richard beralih mencium perut Naya, dan meraba paha mulus Naya.
"Ah, Rich, a-aku ing ..." Ucapan Naya terpotong dengan ucapan Richard.
"Kau ingin aku lebih cepat memainkan milikmu, sayang? Baik, aku akan melakukannya."
Bukan, bukan itu yang dimaksud Naya. Ia ingin mengatakan jika ia merasakan sesuatu yang akan keluar dari kewanitaannya dan itu buka cairan berwarna putih melainkan cairan berwarna merah.
Naya mencekal tangan Richard saat ingin menyentuh miliknya lagi. Ia menetralkan napasnya dan mengatakan hal yang ingin ia bicarakan.
"Sepertinya aku kedatangan tamu. Kau harus sabar menungguku bersih terlebih dahulu."
"Maksudnya?" tanya Richard yang belum mengerti.
"Aku datang bulan. Jadi, kita tidak bisa melakukan malam pertama kita malam ini," jawab Naya.
Jeder!
Bunyi petir terdengar keras di telinga Richard.
Gagal lagi?
__ADS_1
Richard pun melihat cairan merah yang keluar dari kewanitaan Naya. Akhirnya ia menghentikan kegiatannya dan merebahkan dirinya di samping Naya. Ia kesal pada si merah yang datang di waktu yang tidak tepat. Andai saja ia bisa mengatur agar si merah masuk lagi ke dalam kewanitaan Naya dan menundanya sehari atau dua hari setelah ia melakukan malam pertama mereka.
"Kau marah Rich?" tanya Naya saat Richard terdiam.
"Hmm," jawab Richard.
"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau dia akan datang malam ini," ucap Naya merasa bersalah. Ia memiringkan tubuhnya ke arah Richard.
Richard bisa melihat dua gunung Naya yang bergoyang. Ia menelan ludahnya. Bisa-bisanya Naya memancing gairahnya lagi. Padahal ia sudah bersusah payah untuk meredamnya.
"Berapa lama kau akan datang bulan?"
"5 sampai 7 hari," jawab Naya.
"Lama sekali," ujar Richard dengan wajah sedihnya.
"Ya mau bagaimana lagi. Memang selama itu. Bisakah kau ambilkan pembalut di kamar Elnan?" tanya Naya yang mulai risih dengan area sekitar miliknya.
"Baiklah, tapi kau harus memberikan hadiah kompensasi untukku. Gara-gara si merah keluar juniorku tidak bisa menikmati milikmu." Naya mengangguk.
Richard kemudian bangun dari posisinya dan keluar dari kamarnya mengambil pembalut di kamar Elnan. Dengan wajah sedih Richard masuk kembali ke kamarnya.
Naya segera membersihkan kewanitaannya dan memakai pembalut itu. Ia kemudian keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan cd saja.
Ia mendekat ke Richard yang terbaring di atas ranjang dengan muka masam nya. Sebenarnya Naya bingung hadiah apa yang akan ia berikan.
Richard tak bergeming saat Naya sudah berada di sampingnya. Ia masih dalam mode kesal.
"Rich, kau ingin hadiah apa?" tanya Naya.
"Susumu aku menginginkannya. Naiklah ke atas tubuhku," pinta Richard.
Naya pun mengikuti perintah Richard. Ia menaiki tubuh Richard. Richard mulai mer*mas dada Naya lagi tetapi kali ini ia mer*mas dengan sedikit keras karena rasa kesalnya, membuat Naya merintih kesakitan.
"Pelan-pelan Rich."
"Ah, maaf."
Akhirnya di malam pertama, mereka melewatkannya dengan tanpa penyatuan karena si merah datang tanpa diundang.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
__ADS_1
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.