Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 81 - Manusia tak punya hati!


__ADS_3

Di tempat kejadian menjadi ramai, para wartawan pun berkumpul untuk meminta keterangan dari Richard dan keluarga mengenai proses hukum yang akan dijalani oleh Rico. Namun, Richard memilih untuk bungkam. Ia masih harus meredakan tangis mamanya yang benar-benar sangat terkejut.


"Ma, maafin Icad ya, karena Icad bohong sama mama mengenai sebab kecelakaan waktu itu. Jika waktu itu Icad tidak menghentikan pencarian, mungkin sampai sekarang pelakunya tidak akan ditemukan karena si pelaku pasti akan menyembunyikan semua buktinya dengan rapi. Makanya Icad membuat skenario jika kecelakaan itu murni karena kesalahan mobil bukan atas kesengajaan seseorang. Tetapi pada kenyataannya Icad selalu mencari kebenaran itu, sampai akhirnya di hari ini terbongkarlah semuanya," jelas Icad yang merasa bersalah pada mamanya.


"Kau tidak salah. Tidak perlu meminta maaf. Mama malah bersyukur, pelakunya sudah tertangkap. Mama ingin dia dihukum seberat-beratnya," sahut sang mama.


"Ayo kita pulang ma. Semuanya sudah berakhir. Keadilan untuk kakak dan kakak ipar sudah ditegakkan," ujar Richard sambil menuntun mamanya berjalan.


***


Di dalam mobil, sudah ada Ele, Naya dan baby Elnan beserta Leon yang duduk di bangku kemudi.


"Kak Leon, Kak Richard kenapa lama sekali sih?!" gerutu Ele yang lelah menunggu kedatangan Richard di mobil.


"Mungkin sebentar lagi nona, kita tunggu saja," jawab Leon.


"Huh! Menyebalkan! Aku tidak suka dalam kondisi seperti ini! Kondisi dimana rasa penasaranku meronta-ronta," kesal Ele dengan suara agak keras.


"Shuut!" Naya mengisyaratkan Ele untuk tidak berisik agar Elnan tidak terbangun dari tidurnya.


"Ups! Sorry kak," ucap Ele merasa bersalah.


Tak lama kemudian, Richard masuk ke dalam mobil dengan mamanya. Richard duduk di samping kemudi. Mama Helen duduk di samping Naya.


"Cepat jalan!" perintah Richard pada Leon.


"Siap bos!" jawab Leon.


***


Di perjalanan, pandangan Naya terus terfokus pada mata mertuanya yang sedikit memerah. Terlihat jelas sekali jika mama mertuanya habis menangis. Namun, Naya tidak ingin bertanya apapun. Ia takut jika itu malah membuat suasana hati mamanya bertambah buruk.


Rupanya tak hanya Naya yang menyadari itu, Ele pun sama.


Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tadi? Kenapa mata mama merah seperti orang habis nangis? Ada kejadian sedih kah? Atau apa? Aku sungguh-sungguh penasaran.


Sementara Richard, ia berpikiran hal lain. Ia penasaran siapa yang dimaksud oleh Rico.


Tidak mungkin kan Rico menyuruh Nicolas lagi? Nicolas kan sudah memiliki Denada. Tapi jika bukan dia, lalu siapa? Setahuku orang yang paling dekat dengan Rico adalah Nicolas. Aih! Sialan kau Rico!


***


Sementara di tempat lain, yakni di sebuah apartemen, Nicolas terduduk sambil meminum beberapa wine. Setelah Richard mengumumkan bahwa Naya adalah istrinya, Nicolas langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia pun belum tahu jika sepupunya dibawa ke kantor polisi.

__ADS_1


"Sial! Sial! Sial! Harusnya dia sudah menjadi wanitaku!"


Prang!


Nicolas membanting botol wine ke lantai. Serpihan beling dari botol pun berserakan dimana-mana.


"Tidak! Aku harus merebutnya! Naya hanya boleh menjadi istriku! Jika aku tidak bisa merebutnya dengan cara halus. Cara kasar pun akan aku lakukan!" tekad Nicolas bulat-bulat.


Nicolas teringat kembali pertemuan pertamanya dengan Naya dulu di rumah sakit.


Flashback


Beberapa jam setelah kecelakaan, Nicolas akhirnya terbangun. Ia merintih kesakitan di bagian kepala dan kakinya. Kepalanya di perban begitu juga dengan kakinya. Saat ia terbangun, tidak ada seorang pun yang berada di dalam ruangan. Ia pun memencet tombol untuk memanggil suster.


Tak lama kemudian, suster pun datang.


"Sus, siapa yang membawa saya kemari?" tanya Nicolas.


"Seorang gadis yang membawa anda Tuan. Ia ada di depan sedang berbicara dengan Tuan Rico. Apa anda ingin berbicara dengan gadis itu?" tanya sang suster.


"Iya, suruh dia kemari," pinta Nicolas.


Sang suster pun memanggil gadis itu untuk menemui Nicolas yang masih terbaring lemah di ranjang.


Suara langkah kaki terdengar masuk ke dalam ruangan tempat Nicolas dirawat. Seorang gadis muda dengan wajah tanpa riasan. Kecantikannya begitu natural mampu membuat Nicolas terdiam sesaat memandangi wajah itu.


"Syukurlah, anda sudah sadar Tuan," ucap gadis itu membuat Nicolas tersadar dari terpesonanya melihat kecantikan natural itu.


"Terima kasih kau sudah menolongku. Sebutkan berapa nominal uang yang kau inginkan, aku akan mentransfernya padamu sebagai tanda terima kasihku," ujar Nicolas.


"Tidak perlu tuan, saya menolong anda ikhlas, tanpa meminta imbalan apapun. Sebagai manusia kita harus saling tolong menolong. Melihat anda masih bisa melihat dunia saja, itu merupakan hal yang bagus, setidaknya saya tidak telat datang untuk menolong anda."


Jawaban dari gadis itu membuat Nicolas berdecak kagum. Ia baru pertama kali bertemu wanita yang menolak mentah-mentah uang yang akan ia berikan. Padahal wanita yang sering ia jumpai, selalu meminta uang padanya dengan nominal yang besar, akan tetapi Nicolas tidak memikirkan nominal uang yang keluar sama sekali asalkan ia puas dan senang.


"Jika begitu, aku merasa berhutang budi padamu," ucap Nicolas.


"Tidak usah merasa seperti itu, Tuan. Di kemudian hari kita kan tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Bisa saja anda yang akan menolong saya dari musibah," balas gadis itu.


"Karena anda sudah sadar, dan keluarga anda sudah ada yang datang. Saya pamit. Semoga anda lekas sembuh," lanjut gadis itu kemudian menghilang dari penglihatan Nicolas.


"Sial! Kenapa aku tidak bertanya siapa namanya? Bodoh!"


Nicolas merutuki kebodohannya. Padahal jika ia tahu nama gadis itu, ia akan mudah untuk mencari tahu mengenai gadis itu. Ia sudah terpesona di awal pertemuannya.

__ADS_1


Flashback end


"Bahkan wajahmu yang pertama kali aku lihat pun tak ada bedanya dengan sekarang. Hanya saja kau bertambah cantik dan berisi, tidak sekurus dulu."


Nicolas membayangkan Naya yang tadi ia lihat di restoran. Benar-benar semakin cantik. Pesona Naya bertambah meningkat di mata Nicolas.


"Tunggu kedatanganku! Aku akan membawamu masuk ke dalam duniaku," ucap Nicolas dengan yakinnya.


***


Richard sekeluarga telah sampai di rumah. Mereka duduk dulu di ruang tamu tanpa si kecil Elnan karena ia dibawa masuk ke kamarnya oleh Nani.


"Leon lebih baik kau menginap saja disini," perintah Richard pada Leon.


"Baik bos," jawab Leon tanpa menolak.


"Mama, lebih baik mama ke kamar saja. Ini sudah larut malam. Sebaiknya mama istirahat."


Mama Helen pun menuruti perintah Richard, ia masih shock dengan apa yang terjadi. Tanpa diminta siapa pun Naya dengan keinginannya mengantar mama Helen ke kamarnya.


"Kak coba kau ceritakan apa saja yang terjadi?" tanya Ele yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan Richard.


"Tunggu istriku kembali, baru aku akan menjelaskannya."


"Baiklah," jawab Ele.


Tak lama kemudian, Naya datang kembali dan duduk di samping Richard. Richard langsung menceritakan apa saja yang terjadi ketika ia menyuruh Ele dan Naya meninggalkan ruangan acara.


Ele tampak mengepalkan tangannya ketika mendengar sebuah kebenaran itu. Ia benar-benar ingin memukul lelaki b*jingan itu.


"K*p*rat! B*jingan! Manusia tak punya hati!" teriak Ele yang begitu marah.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2