Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 109 - Kehangatan di pagi hari


__ADS_3

Denada dan Sari sudah sampai di kota. Kota dimana Denada pernah meniti karir dulu.


Jika kalian tanya mengapa Denada tidak memilih kota lain. Jawabannya karena Denada sudah hafal dengan kota yang pernah ia singgahi itu, akan lebih mudah baginya untuk beradaptasi.


Denada mengontrak sebuah rumah sederhana untuk ditinggalinya bersama Sari. Rumah yang hanya ada 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 ruang keluarga dan juga dapur. Rumah tersebut berada tidak terlalu jauh dari rumah warga. Namun, seperti yang dibilang Denada, warga kota tidak terlalu peduli dengan sekitarnya. Jadi, Denada tidak perlu menjelaskan siapa dirinya.


"Meski rumah ini sederhana, aku harap rumah ini kaya akan kasih sayang nantinya. Aku sungguh sangat menantikan anak ini lahir. Aku ingin mendengar suara tangis dan tawanya," ucap Denada.


"Pasti akan sangat ramai jika hal itu bisa terjadi dalam waktu dekat kak. Tunggu beberapa bulan lagi, dia akan lahir ke dunia," ujar Sari.


Denada mengangguk. Mereka berdua pun langsung masuk ke kamarnya masing-masing untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah melakukan perjalanan jauh.


***


Satu bulan berlalu dengan sangat cepat, Richard sengaja meliburkan dirinya untuk tidak masuk kerja demi menemani istrinya di rumah.


"Pagi sayang, kalian tidak membuat mama kerepotan kan?" tanya Richard pada anak-anaknya yang masih di dalam kandungan. Richard menempelkan kepalanya di perut Naya.


Terdengar suara tendangan dari perut Naya. Sepertinya anaknya merespon ucapan Richard.


"Kau bisa merasakan itu kan sayang? Anak kita mulai bisa merespon ucapan ku!" ujar Richard yang kesenangan.


"Iya mereka mulai bergerak," ucap Naya mengiyakan.


"Yang akur ya kalian di dalam. Mama dan papa sangat menantikan kehadiran kalian," ucap Richard lagi sambil mengelus perut Naya.


Naya tersenyum bahagia melihat Richard yang begitu menantikan kehadiran anak-anaknya yang masih di dalam kandungan. Ia masih tidak menyangka jika hidupnya akan berputar 180 derajat dari sebelumnya.


Yang awalnya hanya seorang pelayan cafe, berubah menjadi ibu susu lalu sekarang menjelma menjadi istri dari seorang CEO yang begitu hebat dan digandrungi banyak wanita. Hidupnya terasa seperti dongeng Cinderella yang bisa menikahi seorang pangeran.


Richard langsung bertanya ketika melihat Naya tersenyum sangat cerah dan manis.


"Kenapa kau tersenyum? Apa hari ini ada hal yang membuatmu bahagia?"


"Ada, dan kaulah orangnya," jawab Naya tanpa ragu-ragu.


Richard jadi salah tingkah sendiri dibuatnya. Padahal Naya hanya mengatakan yang sejujurnya bukan merayu atau menggombal di hadapan Richard. Namun hal itu, benar-benar membuat jantung Richard berdebar tak karuan.

__ADS_1


"Sayang, jangan menggodaku pagi-pagi begini."


"Apa? Siapa yang menggoda? Aku tidak menggoda mu!" bantah Naya.


"Lalu tadi apa? Kau berucap manis dan tersenyum begitu mempesona. Aku jadi ingin ... "


Belum selesai Richard melanjutkan kalimatnya, Naya segera memotong kalimat tersebut.


"Tidak, aku tidak mau. Aku tahu apa yang ada di otak mesum mu itu. Sebaiknya kita keluar dari kamar dan menikmati udara segar di luar rumah."


"Ayolah ... " pinta Richard sedikit memohon.


"Sebentar saja. Kau tahu sayang, semenjak perutmu membesar. Kau terlihat sangat seksi dan aku semakin tidak tahan karena mu. Sekali saja. Setelah itu kita keluar dan menghirup udara segar. Aku janji," lanjut Richard lagi sambil menunjukkan jari kelingkingnya.


Naya pun akhirnya mengikuti saja kemauan Richard. Dengan segera Richard memposisikan dirinya, ia takut istrinya akan berubah pikiran dan berakhir dirinya yang harus bermain solo di kamar mandi.


Pagi itu, mereka lalui dengan kehangatan yang tercipta dari sentuhan-sentuhan kulit masing-masing. Richard tak menyangka rupanya melakukan dengan seorang wanita hamil lebih menggairahkan baginya. Sayangnya, ia tidak bisa melakukan hal tersebut lebih lama lagi, karena takut anaknya kenapa-kenapa.


Selesai olahraga pagi, keduanya membersihkan tubuh bersama-sama di kamar mandi. Lalu mereka keluar dari kamar dengan rambut yang sama-sama basah.


Dasar pasangan bucin!


"Bagaimana suasana hati hari ini kak?" tanya Ele pada keduanya.


"Luar biasa!" jawab Richard. Sementara Naya ia hanya tersenyum. Namun, Ele paham maksudnya.


"Iya deh, yang pagi-pagi sudah dapat jatah! Apalah diriku yang jomblo! Mana bisa basah-basahan kaya gitu!" ujar Ele yang membuat mata Richard langsung mendelik.


"Heh! Awas kau ya kalau berani melakukan hal yang tidak-tidak! Aku kan main basah-basahan dengan istri sendiri. Meskipun kau nantinya punya pacar jangan sampai kau melakukan hal itu, nanti kau sendiri yang rugi," ujar Richard menasehati.


"Ya, ya, ya, ya, baiklah Tuan muda. Kalau begitu aku pamit undur diri di hadapan kalian berdua. Karena aku ada kelas dan tidak bisa membolos. Bye bye, baik-baik ya di rumah. Jangan main basah-basahan terus, nanti burungnya letoy!" ucap Ele yang agak sedikit usil pada Richard.


Richard yang tak terima jika burungnya disebut letoy pun langsung geram dan berteriak.


"Ele! Setan kecil! Awas kau ya! Huh! Suka sekali dia membuatku kesal!" gerutu Richard saat Ele sudah tak terlihat lagi di matanya.


"Tunggu saja! Kau akan ketar-ketir saat aku menyuruh Alex untuk menguntit mu!"

__ADS_1


Naya tertawa kecil. Perdebatan di antara Richard dan Ele terlalu lucu untuk tidak ditertawakan. Sudah sama-sama dewasa tetapi tetap saja selalu saling usil dan tidak mau mengalah seperti anak kecil.


****


Ketika Richard meliburkan dirinya, tentu saja harus ada orang yang menggantikan tugasnya, dan orang itu adalah Ethan yang terpaksa menggantikan tugas Richard.


"Aku masih terheran-heran sampai sekarang. Kenapa aku tidak bisa menolak jika Richard meminta bantuan? Padahal aku sendiri memiliki perusahaan yang harus aku urus! Apa aku telah diguna-guna olehnya? Hingga aku selalu patuh dan menuruti semua ucapannya?"


Ethan bertanya-tanya tentang dirinya yang tak pernah bisa menolak ucapan Richard.


"Kalau begini terus, bisa-bisa ketika aku sedang berkencan dan Richard meminta bantuan ku, aku akan merusak kencan ku dan berakhir putus. Sungguh menyedihkan!" ucap Ethan yang membayangkan jika hal tersebut benar-benar terjadi.


Tak lama kemudian Leon masuk ke ruangan dan menyerahkan beberapa proposal kegiatan yang meminta sponsor pada perusahaan Richard.


"Proposal nya akan aku cek dulu. Ketika selesai nanti aku akan memintamu untuk kembali dan menghubungi pihak sekolah yang mengajukan proposal sponsorsip ini," ucap Ethan pada Leon.


"Baik tuan," ucap Leon yang kemudian keluar dari ruangan.


Ethan mulai membaca halaman demi halaman dari proposal itu. Melihat ada banyak keuntungan dari tujuan dan misi dari kegiatan yang diajukan di dalam proposal, Ethan pun menerima proposal kegiatan dan siap mendanai kegiatan tersebut. Ini adalah salah satu cara untuk mengenalkan perusahaan Richard ke segala penjuru. Atau bisa saja nantinya Richard tertarik untuk menjadi donatur di sekolah tersebut.


****


Jangan lupa mampir ke ceritaku yang satunya.



****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2