
Ketika sinar mentari pagi masuk melalui celah-celah kosong kamarnya, Richard terbangun dari tidurnya.
"Ah, sudah pagi rupanya," ucap Richard. Ia pun melihat ke sampingnya. Istrinya masih tertidur dengan pulasnya. Wajar saja, karena semalam Richard begitu ganas ketika bercinta, membuat tubuh Naya lemas.
"Maaf ya sayang, gara-gara aku kau jadi kelelahan seperti ini."
Ucapan Richard itu diakhiri dengan sebuah kecupan di bibir Naya. Setelah itu, ia bangun dari ranjang dan mengambil celananya yang tergeletak di lantai untuk ia pakai. Ia berjalan ke box bayinya. Kedua bayinya tak ada disana membuat Richard khawatir. Akan tetapi rasa kekhawatiran itu menghilang ketika ia mencoba membuka pintu dan ternyata tidak terkunci. Richard merasa lega, pasti mamanya yang sudah mengeluarkan kedua bayi kembarnya dari dalam kamar. Bukannya malu karena pasti mamanya melihat kondisi kamar yang berantakan, Richard malah bersikap santai dan tidak peduli. Ia pun segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dua puluh lima menit kemudian, Richard keluar dari kamarnya, ia sudah berpakaian rapih dan siap berangkat kerja. Ia pergi menuju ke meja makan, yang dimana hanya ada ia seorang diri. Alhasil, Richard pun makan sendirian. Setelah itu, ia pergi ke rumah keluarga untuk menemui mamanya.
"Ma," panggil Richard.
"Oh, kau sudah bangun rupanya. Kau ini ya! Asik-asikan tidur sementara kedua anakmu menangis! Untung saja mama cepat mencari kunci cadangannya!" marah sang mama.
"Hehe, mama seperti tidak tahu aku saja. Maaf ya ma, dan terima kasih sudah menjaga anak-anak ku. Aku mau berangkat kerja dulu ma. Tolong jangan bangunin Naya ya ma, biar dia bangun sendiri saja, kasihan dia pasti kelelahan karena ulahku," ucap Richard kemudian mencium tangan mama Helen lalu setelahnya mencium kening sang anak bergantian.
"Bye mama."
Mama Helen hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu.
"Icad, Icad, meskipun sudah menikah pun kelakuanmu masih sama saja. Kuat-kuat lah kau Naya menghadapi sikap Richard."
****
Nicolas dan Denada masih asik berpelukan di pagi hari. Keduanya seperti masih tidak ingin menghentikan aktivitas mereka. Merasa masih tidak percaya kalau mereka akhirnya menikah.
"Apa kau kini benar-benar sudah menjadi suamiku?" tanya Denada sambil meraih wajah Nicolas.
Nicolas tidak menjawab, ia justru memberikan sebuah ciuman pada Denada.
__ADS_1
"Jika kau merasakan ciuman yang aku berikan barusan, itu artinya semuanya adalah nyata."
Denada tersenyum. Rupanya ini memang bukan mimpi. Kisah cintanya mulai terajut kembali dengan orang yang sama.
"Ayo bangun! Kita jemput Ansel. Rasanya sehari saja tanpa dia, aku tidak bisa," ucap Denada.
"Ayo, kita mandi bersama!" ucap Nicolas kemudian bangun dari posisinya dan menggendong Denada ala bridal style ke kamar mandi. Awalnya Denada terkejut karena tiba-tiba saja Nicolas menggendongnya.
"Aku bisa jalan sendiri, Nic!" ucap Denada yang tidak ingin digendong.
"Kalau ada aku, kenapa harus jalan? Lagian kalau kita mandi bersama, itu akan meminimalisir waktu mandi."
"Mana ada begitu? Dulu saja ketika kita mandi bersama bukannya meminimalisir waktu akan tetapi memperlambat," ucap Denada.
Nicolas tersenyum senang mendengarnya. Rupanya Denada masih mengingat kebersamaan mereka dulu.
"Kalau itu terjadi, berarti semua di luar kendaliku dan kaulah penyebabnya."
Benar saja, mereka bukan hanya mandi tetapi melakukan hal yang lebih. Jika tadi malam ia tidak bisa mencetak gol, kini di dalam kamar mandi ia berhasil memasukan miliknya.
"Dua tahun aku tidak menyentuhmu, rupanya kau semakin sempit sayang. Sama seperti kita pertama kali melakukannya."
Denada tersipu karena ucapan Nicolas. Setelah keduanya sama-sama terpuaskan, mereka pun mengakhiri kegiatan itu dan saling memakaikan pakaian.
"Ayo, saatnya kita jemput anak kita."
****
Mobil Nicolas kini sudah masuk ke dalam halaman rumah Ethan dan Sari. Keduanya dipersilahkan masuk oleh pelayan disana. Sari yang melihat kedatangan Nicolas dan Denada pun sempat kaget.
__ADS_1
"Kak Dena, Kak Nico, ada apa pagi-pagi kemari?" tanya Sari.
"Aku mau membawa Ansel pulang Sari. Aku tidak enak merepotkan mu. Aku juga tidak bisa jauh-jauh dari Ansel," ucap Denada.
"Padahal aku mengira, kakak akan langsung berbulan madu. Rupanya tidak ya? Sekarang Ansel masih tidur kak. Nanti setelah dia bangun kakak boleh membawanya," balas Sari.
"Terima kasih Sari, kau sudah menjaga Ansel semalaman."
"Tidak perlu sungkan begitu kak. Aku sudah menganggap Ansel sebagai anakku sendiri," ucap Sari.
Tiba-tiba Nicolas ikut bicara dan menanyakan keberadaan Ethan.
"Kemana Ethan? Aku tidak melihatnya."
"Kak Ethan sudah berangkat kerja tadi pagi-pagi sekali karena ada meeting di luar kota."
Nicolas pun mengangguk-angguk mengerti. Mereka mengobrol bersama sambil bercanda ria. Hingga akhirnya terdengar suara tangisan dari Ansel.
Denada langsung menuju ke sumber suara dan menggendong anaknya. Tangisan itu seketika mereda. Denada dan Nicolas pun pamit dari rumah Sari dengan membawa Ansel.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_